Malaysia Siap Bantu Indonesia Tangani Tsunami Selat Sunda

81 views

Korban tsunami yang terjadi di kawasan Selat Sunda. (SEMI / AFP)

Divianews.com | Jakarta — Wakil Perdana Menteri Malaysia Wan Azizah Wan Ismail memaparkan negeri jiran tersebut siap membantu Indonesia menanggulangi bencana tsunami Selat Sunda yang menerjang perairan Serang, Banten, dan Lampung pada Sabtu (22/12) malam.

Hingga kini, bencana tersebut tercatat telah menewaskan 62 orang dan melukai lebih dari 500 orang lainnya. Setidaknya 20 orang juga masih dinyatakan hilang akibat bencana tersebut.

“Terkejut mendengar berita tsunami melanda Banten, Indonesia, yang setidaknya telah menelan 20 nyawa,” ucap Wan Azizah melalui kicauannya di Twitter pada Minggu (23/12).

“Saya doakan Indonesia terus tabah menghadapi ujian ini. Malaysia sedia membantu meringankan beban saudara kita di Indonesia @jokowi #PrayForIndonesia.”

Selain korban tewas dan luka, bencana pada Sabtu malam tersebut juga turut merusak sedikitnya 430 unit rumah, 9 hotel, 10 kapal, dan puluhan bangunan lainnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memaparkan korban jiwa diperkirakan masih akan terus bertambah menyusul belum semua wilayah terdampak bencana dapat didata petugas darurat.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan Kabupaten Pandeglang, Banten, menjadi wilayah yang paling terdampak tsunami.

“Terutama kawasan wisata dan pemukiman di sepanjang Pantai Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Lada, hingga Carita,” kata Sutopo.

Sementara itu di daerah Lampung Selatan, papar Sutopo, tujuh orang meninggal dunia, 89 orang luka-luka dan 30 unit rumah rusak berat. Sedangkan di Serang tercatat tiga orang meninggal dunia, empat orang luka-luka, dan dua orang dinyatakan hilang.

Tsunami menerjang Selat Sunda sekitar Sabtu malam pukul 21.27 WIB. BNPB memaparkan fenomena Tsunami Selat Sunda kemarin termasuk langka dan hingga kini penyebabnya belum bisa dipastikan.

Sementara itu, analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sejauh ini memaparkan gelombang tinggi kemarin dipicu karena cuaca, bukan gempa bumi.

Laporan tim lapangan BMKG juga menambahkan bahwa gelombang tinggi kemarin diperparah oleh hujan lebat dan angin kencang yang terjadi di perairan Anyer dan Lampung sejak pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. (red)

Posting Terkait