Gelebak Dalam, Desa Sentra Padi yang Berjuang Mandiri

47 views

Petani Desa Gelebak Dalam, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin Saat Panen

Divianews.com | Palembang — Sebelum adanya perubahan bentang alam, Desa Gelebak Dalam, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, yang lokasinya berbatasan dengan Kota Palembang atau sekitar 15 menit dari Jakabaring Palembang, selama puluhan tahun dikenal sebagai penghasil beras. Para petaninya merupakan Suku Melayu dan Palembang.

 

Saat ini, jumlah warga Desa sekitar 2.100 jiwa dari 552 kepala keluarga. Selain bertani sawah, mereka juga mencari ikan dan berkebun karet. Namun, sejak maraknya pengembangan perkebunan perusahaan, pembangunan infrastruktur seperti perumahan dan jalan, serta galian tanah, pertanian masyarakat terganggu, khususnya tanaman padi. Berkat bantuan teknologi dari Korem 044/Gapo yaitu Bios 44 untuk menggantikan pupuk kimia yang selama ini digunakan warga untuk sawahnya, pertanian .

 

“Dari uji coba terhadap satu hektar sawah, rata-rata hasil gabah setiap kali panen mengalami peningkatan sekitar 0,5 ton, yang sebelumnya, jika menggunakan pupuk kimia gabah padi yang dihasilkan sekitar 7 ton per hektar. Tahun ini kami berencana meningkatan luasan sawah yang ditebarkan Bios 44. Luasan sawah di Desa Gelebak Dalam sekitar 800 hektar. Pendapatan yang dihasilkan Desa ini dari padi setahun dengan dua kali masa tanam berkisar 6.720 ton beras atau sekitar Rp. 55 miliar”, kata Hendri Kades Gelebek Dalam.

 

Apa keuntungan menggunakan Bios 44? “Pertama, hemat pupuk. Jika selama ini kami mengeluarkan satu juta rupiah per hektar setiap masa tanam, biaya itu berkurang dengan Bios 44 yang gratis. Kedua, peningkatan produksi padi dan sawah terjamin kondisinya karena tidak tergantung pupuk kimia,” kata Fauzi Saleh yang sawahnya ditabur Bios 044.

“Kami sudah melihat hasil yang baik. Kami harap, sawah petani lain, seperti punya saya, ditabur Bios 44 untuk masa tanam mendatang,” kata Rusli, petani lainnya.

 

“Harapan saya, ke depan Desa Gelebak Dalam mandiri membangun desanya atau tidak selalu tergantung dana Desa,” ujar Kades yang tercatat sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Palembang.

 

Sebelumnya, Komandan Korem 044/Gapo Kolonel Arh Sonny Septiono, saat bertemu sejumlah lembaga pemerintah dan NGO yang konsen pada lingkungan hidup di Sumatera Selatan, Senin (4/2), mengatakan pihaknya akan menjalankan program Desa Sedulur. Program ini akan belajar dari apa yang dilakukan Desa Gelebak Dalam.

“Tujuannya, seperti makna sedulur yang artinya bersaudara. Maka, warga Desa yang selama ini mengalami persoalan lingkungan hidup akan hidup makmur, aman, sehat, cerdas bersama, sehingga selamat dunia dan akhirat. Manusia yang unggul yang bertakwa. Semua pihak harus bekerja sama mewujudkan hal tersebut, mulai dari aparat pemerintah, masyarakat, NGO, seniman, ulama, akademisi, TNI dan Polri,” kata Danrem.

 

Sementara Dr.Yenrizal Tarmizi bersama Mongabay Indonesia yang berkunjung ke Desa Gelebak Dalam menyampaikan, ini membuktikan masyarakat Desa dapat diajak hidup maju dan lebih baik. Kuncinya, setiap program yang dijalankan berdasarkan persoalan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat Desa. Juga, menjadikan masyarakat Desa sebagai pengelola sehingga merasakan dampak langsungnya pada ekonomi dan sosial.

 

“Dengan bukti ini, alangkah baiknya berbagai program pemberdayaan masyarakat Desa dalam skema apa pun, termasuk penyelamatan rawa gambut, dapat melibatkan TNI. TNI bukan hanya dilibatkan sebagai Satgas, seperti kebakaran hutan dan lahan, juga dalam pembinaan atau pencegahan kerusakan dan kebakaran,” kata pakar komunikasi lingkungan dari UIN Raden Fatah Palembang itu.

 

Terkait pembentukan karakter generasi muda di Desa, Yenrizal juga berharap penguatan masyarakat Desa bukan sebatas ekonomi, juga nilai-nilai budaya lainnya. “Dibutuhkan sentuhan seni, agama, dan rasa kebangsaan,” tandasnya. (dva)

Posting Terkait