Heboh Paru-paru Kolaps di AS, Produsen Vape Berharap Tak Terjadi di RI

35 views

Ilustrasi

Divianews.com | Jakarta – Ratusan remaja kolaps usai mengisap vape di sejumlah negara bagian Amerika Serikat, salah seorang di antaranya meninggal. Paru-parunya dilaporkan bermasalah, sedangkan kaitannya dengan vape masih terus diinvestigasi.

Meski masih dalam penyelidikan, CDC (Pusah Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) di AS menyarankan untuk tidak mengisap vape jenis apapun.

Di Indonesia, vape atau rokok elektrik dengan beragam jenisnya juga cukup populer. Kasus di AS bagaimanapun menjadi perhatian tersendiri bagi para produsen.

“Kita nggak ingin kasus-kasus itu terjadi di Indonesia juga,” kata Reza Amirul Juniarshah, kepala bidang komunikasi Juul Indonesia, perusahaan yang memasarkan salah satu produk vape asal AS yang cukup populer, Selasa (3/9/2019).

Berbagai upaya dilakukan para produsen untuk meminimalkan risiko. Salah satunya dengan mengontrol kandungan dalam produknya.

“Ketika kita berbicara tentang nikotin, nikotin itu memang bukan sesuatu yang berbahaya sebenarnya. Nikotin memang membuat ketergantungan, tetapi (tidak menyebabkan kanker) yang disebut penyebab kanker adalah tar kalau di rokok,” jelas Reza.

Upaya lainnya adalah membatasi kelompok pengguna. Reza mengatakan, produknya tidak dijual untuk seseorang yang belum pernah mengonsumsi nikotin, baik dari rokok maupun terapi medis.

“Kalau belum pernah menggunakan nikotin, pas pakai ya entah pusing atau apa, ada saja lah sensasi anehnya,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), FAPSR, FISR menegaskan bahwa klaim vape lebih aman dari rokok merupakan klaim yang menyesatkan. Menurutnya, rokok konvensional maupun vape sama-sama berbahaya.

“Sama seperti asap rokok konvensional, uap rokok elektrik juga mengandung partikel-partikel halus yang sifatnya iritatif dan bisa menyebabkan iritasi di saluran napas atas dan bawah. Ini meningkatkan risiko asma, infeksi saluran pernapasan akut seperti tuberculosis (TBC) dan pneumonia,” tegas dr Agus. (red)

Posting Terkait