Virus Corona China, Trump dan Hantu Diskriminasi

46 views

Divianews.com | Jakarta — Wabah virus corona yang merebak di China sejak akhir 2019 memicu gejolak di dunia pada awal 2020. Sampai saat ini tercatat 24,500 orang di dunia terinfeksi, dan 492 di antaranya meninggal.

Situasi ini mengingatkan kembali kepada merebaknya wabah SARS pada 2002 sampai 2003, yang juga dimulai di China. Mulanya diduga virus itu berasal dari hewan dan menular ke manusia.

Akan tetapi, saat ini penularan virus tersebut sudah terjadi antarmanusia. Hal itu membuat China yang warganya menjadi yang paling banyak terjangkit harus berkejaran dengan waktu untuk mencegah virus itu menyebar lebih luas.

Penyebaran virus corona saat ini dilaporkan sudah mencapai benua Amerika, Eropa hingga Asia Tenggara. Meski menelan korban jiwa, ratusan orang yang terjangkit virus corona juga dinyatakan sembuh.

Berbagai negara di dunia memiliki reaksi berbeda atas penyebaran virus tersebut. Mulai dari memulangkan warganya yang berada di China, berhenti melakukan impor barang dari Negeri Tirai Bambu, menutup perbatasan, mengurangi volume penerbangan sampai mengirim bantuan bagi para penduduk yang tidak bisa pergi akibat tempat tinggal mereka diisolasi.

Amerika Serikat menjadi negara pertama yang menolak menerima warga China. Pemerintahan Presiden Donald Trump menetapkan kebijakan itu dengan alasan khawatir penyebaran virus itu semakin meluas dan melindungi warganya.

AS juga menerbitkan peringatan bepergian ke China akibat penyebaran virus tersebut.

Akan tetapi, keputusan itu mendapat tanggapan negatif dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Menurut mereka kebijakan tersebut belum diperlukan karena penyebaran wabah itu masih bisa ditanggulangi.

Keputusan AS yang enggan menerima warga China juga membawa dampak lain. Sejumlah negara dilaporkan mulai mengawasi gerak-gerik warga China yang berada di negara mereka, khususnya bagi mereka yang berasal dari Kota Wuhan yang menjadi sumber penyakit tersebut.

Langkah AS untuk menolak kedatangan warga China diikuti oleh beberapa negara lain seperti Indonesia, Prancis hingga Australia. Indonesia bahkan memutuskan menghentikan sementara kegiatan impor dari China.

China menganggap sikap Amerika Serikat berlebihan menanggapi merebaknya wabah virus corona.

“Sebagian besar negara menghargai dan mendukung upaya China untuk memerangi virus corona dan kami menghormati mereka ketika hendak melakukan evakuasi dan karantina di negara masing-masing. Sementara itu, beberapa negara, khususnya Amerika Serikat memberikan reaksi berlebihan. Respons AS tentu bertentangan dengan saran WHO,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying.

Kekhawatiran diskriminasi

Di sejumlah negara dilaporkan ada beberapa kejadian buruk yang menimpa warga China akibat dampak kebijakan AS menghadapi wabah virus corona. Warga China ada yang dijauhi, dikucilkan, turis China dipulangkan, bahkan muncul sikap diskriminasi rasial.

Beberapa gerai dan restoran di Vietnam memutuskan menolak menerima pelanggan dari China. Padahal negara itu menjadi salah satu tujuan pelancong dari China.

Dampak seperti itu yang dikhawatirkan oleh WHO, jika sejumlah negara tidak bijak bersikap menghadapi wabah virus corona. Mereka cemas hal itu akan memicu ketakutan berlebihan yang berdampak terhadap sikap anti terhadap warga China.

Kemarin, China menggelar jumpa pers melalui sejumlah kedutaan besarnya di berbagai negara, terutama yang memutuskan melarang warganya bepergian termasuk di Indonesia. Mereka menyatakan tidak perlu khawatir karena penanganan wabah virus corona masih berjalan dan diharapkan akan mencapai puncaknya tidak lama lagi.

China juga menyatakan kekecewaannya terhadap sikap Indonesia terkait larangan impor. Menurut mereka, hal itu justru merugikan Indonesia. (red/ayp/ayp)

Bagikan :

Posting Terkait