Divianews.com | Palembang – Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Selatan (Sumsel) siaga penuh, mengantisipasi potensi longsor di jalur rawan Pagaralam–Tanjung Sakti hingga batas Kota Mana, Bengkulu, menyambut peningkatan mobilitas selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Kesiapan ini difokuskan pada penyediaan alat berat dan personel yang bersiaga penuh selama 24 jam di ruas jalan yang dikenal sebagai wilayah perbukitan tinggi dan rawan bencana.

Kepala Satuan Kerja PJN 2 BPJN Sumsel, Mardalenna, senin (15/12/2025) menyampaikan, peningkatan volume kendaraan yang signifikan selama periode Nataru di jalur Pagaralam-Bengkulu diantisipasi dengan penyiagaan alat berat dan tim reaksi cepat untuk penanganan longsor.

Menurutnya, kesiapan ini akan difokuskan menjelang dan selama libur Nataru di ruas jalan dari Jembatan Indikat, Pagaralam, menuju Tanjung Sakti hingga perbatasan Kota Mana, Bengkulu.

Titik krusial yang paling diwaspadai adalah KM 290–300 di daerah Tanjung Sakti, yang belakangan ini kerap mengalami longsor.

“Jalur ini merupakan wilayah dataran tertinggi dan sangat rawan longsor, sehingga berisiko tinggi menghambat arus lalu lintas saat terjadi peningkatan mobilitas libur panjang Nataru. Adapun penyiagaan dilakukan dengan mobilisasi alat berat, material perbaikan, dan personel di titik-titik rawan, serta pendirian Posko Nataru,” urai Lena.

Mardalenna menegaskan, kesiapan operasional dilakukan karena bencana alam dapat terjadi kapan saja, tidak hanya saat momen hari besar.

Untuk menjamin respons cepat, BPJN Sumsel telah menyiapkan rincian berikut:

Alat Berat: unit loader dan unit excavator disiagakan langsung di lokasi rawan, Material Perbaikan Personel, dan Posko Nataru: Sesuai arahan Kementerian PUPR, Posko Nataru akan didirikan di lokasi strategis di Tanjung Sakti (titik rawan 2.3), diperkirakan efektif mulai akhir minggu ini.

“Ini adalah daerah tertinggi di wilayah kami, dan sangat rawan longsor. Persiapan kami dilakuka untuk memastikan jalur Pagaralam tetap aman dan dapat dilalui,” Tambah Mardalenna.

Selain kesiapan teknis, Mardalena menambahkan BPJN Sumsel menyampaikan imbauan tegas kepada seluruh pengguna jalan. Masyarakat, khususnya pengguna jalan baru yang belum familier dengan medan, diminta untuk selalu berhati-hati dan menghindari melintas pada malam hari.

Karakteristik jalur ini sangat berisiko dengan satu sisi tebing curam dan sisi lain jurang, ditambah minimnya penerangan jalan di malam hari. Kondisi ini meningkatkan potensi kecelakaan dan mempersulit penanganan jika terjadi longsor.

Selanjutnya Mardalena menjelaskan Kendala Utama yang dihadapi tim di lapangan adalah minimnya sinyal alat komunikasi di beberapa lokasi. Hal ini berpotensi menghambat kecepatan penyampaian informasi saat longsor terjadi dan memperlambat waktu respons tim.

“Kami berkolaborasi dengan Pemerintah setempat, Masyarakat, dan Polsek setempat untuk memberikan arahan. Melintasi jalur ini di malam hari sangat berisiko, terutama jika terjadi longsor. Kami berharap pengguna jalan bisa lebih waspada,” tutup Mardalenna. (adi)