Divianews.com | Palembang — Radio Republik Indonesia (RRI) kembali menghadirkan gelaran kebangsaan Kita Indonesia atau Indonesia Is Me, dan kali ini energi persatuan terasa lebih dekat dengan generasi muda. Bertempat di lantai 12 Gedung C Universitas Indo Global Mandiri (UIGM), Selasa (25/11/2025), acara ini dipenuhi pelajar dan mahasiswa yang datang tidak hanya sebagai penonton tetapi sebagai bagian dari perayaan keindonesiaan.

Acara ini merupakan edisi kedua setelah sukses pada penyelenggaraan perdana di kantor RRI Palembang pada 23 Agustus lalu. Perhatian publik yang besar terhadap gelaran pertama mendorong RRI menghadirkannya kembali dengan format yang lebih segar, interaktif, dan mendekatkan budaya kepada anak muda.

Kepala LPP RRI Palembang, Rahma Juwita, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang pertemuan lintas usia dan pengalaman, namun tetap dalam semangat satu bangsa satu budaya.

“Ini menjadi wadah pemersatu lintas generasi sekaligus bagian dari program 3G Plus RRI: Generasi, Gaya Hidup, dan Gaul… konsep acara mengusung pendekatan freeze panes, great content, great design, dan great delivery,” ujar Rahma.

Ia berharap Kita Indonesia bukan hanya sekadar hiburan budaya, tetapi juga penguat karakter bangsa. Menurutnya, budaya harus tetap hidup dalam diri anak muda, bahkan saat dunia digital semakin mendominasi keseharian mereka.

Berbeda dengan gelaran pertama yang fokus pada nuansa tradisi, kali ini Kita Indonesia mengambil pendekatan budaya kontemporer dengan memadukan akar tradisi dengan ekspresi modern. Di panggung, tampil Band Lavizta, Komunitas Ambara, Sanggar Untung Art, serta pertunjukan teater yang menyuguhkan kisah generasi saat ini—jalanan antara teknologi dan identitas budaya bangsa.

Seluruh rangkaian acara disiarkan langsung melalui Pro 1, Pro 2, Pro 4, serta kanal YouTube RRI Palembang, membuka akses lebih luas bagi masyarakat yang tak sempat hadir.

Dari pihak tuan rumah, Kepala Bagian Promosi UIGM, Saptia Sastika Angelina, menyampaikan apresiasinya.

“UIGM dan RRI memang telah punya kerja sama yang baik. Acara ini sangat bagus sekali karena dapat mengenalkan kebudayaan ke generasi muda dan generasi milenial untuk mencintai budaya Indonesia,” ungkap Saptia.

Saptia menambahkan, bahwa kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada acara tunggal, melainkan terus berlanjut dalam berbagai program edukatif dan kebudayaan.

Sementara itu, bagi pelajar seperti Farel Agustian dari SMA Negeri 3 Palembang, acara ini membuka jendela baru terhadap identitas budaya.

“Kegiatan ini sangat bagus terutama untuk anak-anak sekolah agar lebih memahami kebudayaan. Selama ini anak-anak sekolah lebih paham teknologi, sehingga kurang paham kebudayaan sendiri,” kata Farel.

Ia mengaku, teater dan pertunjukan budaya yang ditampilkan hari itu memberinya perspektif baru mengenai Indonesia—bahwa bangsa ini punya cerita, warna, dan identitas yang tak kalah menarik dari budaya pop global.

Lewat Kita Indonesia, RRI bukan hanya menghidupkan konten siaran—tetapi juga menyalakan kembali api nasionalisme di hati generasi muda. Di tengah arus internet dan globalisasi yang menggerus sekat budaya, acara ini mengingatkan publik bahwa keindonesiaan adalah akar yang tak boleh tercabut. (*)