Divianews.com | Tanjungpinang — Berbagai persoalan yang dihadapi nelayan, mulai dari reklamasi lahan tambang, kerusakan ekosistem, hingga ketimpangan kesejahteraan, kembali mencuat dalam Seminar Peringatan Hari Nelayan Nasional yang digelar di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Pendekatan kolaboratif antara pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat dinilai menjadi solusi strategis untuk menjawab tantangan tersebut.

Seminar yang berlangsung di ibu kota Provinsi Kepulauan Riau ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Riau, Said Sudrajat Mazla, serta diikuti oleh mahasiswa. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi lintas sektor untuk mencari jalan keluar atas persoalan nelayan yang hingga kini belum terselesaikan secara menyeluruh.

Founder Flona, Mia Kunto Arief Wibowo, saat dikonfrmasi, jumat (24/04/2026) menegaskan pentingnya sinergi antara mahasiswa dan masyarakat dalam mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Menurutnya, keterlibatan generasi muda dapat menjadi motor inovasi dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan.

“Sinergi antara mahasiswa dan masyarakat dalam mengembangkan ekonomi kreatif bisa mengangkat kesejahteraan ekonomi nelayan,” ujarnya.

Ia mencontohkan praktik budidaya ikan air tawar di Tapanuli Selatan sebagai model yang dapat diadopsi oleh masyarakat pesisir untuk mendiversifikasi sumber pendapatan. Model tersebut dinilai mampu mengurangi ketergantungan nelayan terhadap hasil tangkapan laut yang tidak menentu.

Selain itu, Mia juga menyoroti pemanfaatan lahan reklamasi yang selama ini kerap dipandang negatif. Ia menilai lahan tersebut tetap memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan baik dan berkelanjutan.

“Lahan reklamasi tidak selalu harus ditinggalkan, tetapi masih bisa dimanfaatkan jika dikelola secara tepat, seperti yang dilakukan di kawasan Kawana Mojorempak,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya alternatif mata pencaharian bagi nelayan, terutama saat kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk melaut.

“Kalau kita tidak sedang melaut atau cuaca tidak bersahabat, kita lakukan kegiatan lain untuk memenuhi kebutuhan pangan,” tambahnya.

Sementara itu, Nuriyah, salah satu istri nelayan, menyampaikan harapannya agar kehidupan nelayan ke depan dapat lebih layak dan stabil, terutama dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

“Harapannya kehidupan nelayan bisa lebih baik, bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak-anak,” ujarnya.

Ia juga berharap hasil melaut dapat mencukupi kebutuhan dasar keluarga.

“Mudah-mudahan bisa memberi makan anak-anak dan menyekolahkan mereka dari hasil melaut,” katanya.

Seminar ini menegaskan bahwa persoalan nelayan tidak bisa diselesaikan secara parsial. Diperlukan kerja sama lintas sektor yang berkelanjutan antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk menciptakan solusi yang konkret dan berdampak langsung, khususnya bagi wilayah pesisir di Kepulauan Riau. (adi)