Divianews.com | Palembang — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) menggelar Sosialisasi dan Edukasi Road To Pekan Reksa Dana (Sosedu APRDI 2026) di Kantor OJK Palembang, Kamis (23/4/2026). Kegiatan ini menyoroti masih rendahnya tingkat inklusi investasi reksa dana di tengah meningkatnya literasi keuangan masyarakat.

Kegiatan yang melibatkan awak media dari berbagai platform—cetak, online, hingga radio—ini menjadi bagian dari kampanye nasional #ReksaDanaAja. Program tersebut turut didukung oleh Self-Regulatory Organization (SRO) pasar modal, yakni Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), sebagai upaya memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat.

Kepala Direktorat Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK), Edukasi Perlindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Sumatera Selatan, Tito Adji Siswantoro, saat membukan kegiatan menegaskan bahwa peluang pertumbuhan investor reksa dana masih sangat besar.

“Berdasarkan survei nasional, tingkat inklusi masih sekitar 1,5 persen. Artinya peluang masyarakat untuk berinklusi atau beli reksadana  masih sangat besar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman peserta, tetapi juga mendorong penyebaran informasi melalui pemberitaan media agar menjangkau masyarakat lebih luas. “Kami berharap kegiatan ini menjadi jembatan informasi, membentuk opini publik, sekaligus mitra edukasi meningkatkan inklusi pasar modal, khususnya di Sumatera Selatan,” kata Tito.

Menurutnya, program ini juga menjadi bagian dari kampanye nasional “Pintar Reksa Dana” yang diarahkan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam investasi yang aman dan terencana.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional, M. Maulana, mengungkapkan bahwa jumlah investor reksa dana memang menunjukkan tren peningkatan, namun masih jauh dari potensi yang ada.

“Per 16 April 2026, jumlah investor reksa dana sudah mencapai sekitar 24,46 juta, meningkat signifikan dari 19 juta pada akhir 2025. Namun jika dibandingkan dengan jumlah penduduk usia produktif sekitar 197 juta, angka ini masih sangat kecil,” jelasnya.

Dari sisi nilai, lanjut Maulana, aset kelolaan (AUM) reksa dana Indonesia juga tertinggal dibandingkan negara lain. “Porsinya baru sekitar 4,38 persen dari PDB. Bandingkan dengan Malaysia yang sudah mencapai 30 persen, atau Thailand yang juga jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Maulana menekankan bahwa reksa dana merupakan instrumen investasi yang mudah diakses, terutama bagi pemula. Selain dikelola oleh manajer investasi profesional, produk ini juga fleksibel karena dapat disesuaikan dengan profil risiko investor.

“Dengan modal mulai dari Rp10.000, masyarakat sudah bisa berinvestasi secara online tanpa harus datang ke bank. Ini yang membuat reksa dana sangat inklusif,” katanya.

Ia menambahkan, dana yang dihimpun dari reksa dana memiliki dampak luas terhadap perekonomian nasional. “Dana tersebut dialokasikan ke saham, obligasi korporasi, maupun surat utang negara, yang pada akhirnya mendukung pembangunan dan membuka lapangan kerja,” tambahnya.

Sementara itu, Grace selaku Perwakilan APRDI dalam kesempatan yang sama menyampaikan optimisme terhadap target peningkatan jumlah investor pasar modal nasional menjadi 35 juta pada 2026. Namun, ia mengakui tantangan utama masih terletak pada rendahnya konversi literasi menjadi aksi nyata.

“Literasi masyarakat sebenarnya sudah cukup baik, tetapi belum diikuti dengan inklusi. Banyak yang paham, tapi belum mulai berinvestasi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perubahan signifikan dalam akses investasi selama satu dekade terakhir. Kini, masyarakat dapat berinvestasi secara digital dengan nominal kecil, berbeda dengan sebelumnya yang terbatas melalui perbankan dengan dana besar.

“Tantangan saat ini bukan lagi akses, tetapi pemahaman. Masih ada masyarakat yang salah memilih produk karena tidak memahami profil risiko, sehingga akhirnya kapok berinvestasi,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, OJK dan APRDI berharap edukasi yang masif dapat mendorong masyarakat tidak hanya memahami, tetapi juga mulai berinvestasi di reksa dana sebagai langkah strategis dalam merencanakan keuangan masa depan sekaligus berkontribusi pada pembangunan ekonomi nasional. (adi)