KKI 2026: Saat Bank Indonesia Mendorong UMKM Naik Kelas
Divianews.com | Jakarta – Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 bukan sekadar ajang pameran produk UMKM. Di tengah tantangan ekonomi, perubahan perilaku konsumen, tuntutan digitalisasi, hingga bencana alam yang menghantam sejumlah daerah, perhelatan tahunan Bank Indonesia ini menegaskan satu pesan penting: UMKM harus dibangun agar mampu bangkit, bertahan, dan naik kelas secara berkelanjutan.
Mengusung semangat “Beudaya, Meusare-Sare” dari Aceh yang bermakna Berdaya, Bersama-Sama, KKI 2026 menjadi gambaran nyata bagaimana penguatan UMKM tidak dapat dilakukan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi pemerintah, lembaga keuangan, dunia usaha, komunitas, hingga pelaku UMKM untuk menciptakan ekosistem yang membuka akses lebih luas terhadap pembiayaan, pasar, teknologi, dan pengembangan usaha.
KKI 2026 digelar pada 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Kegiatan ini dibuka oleh Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional Selvi Gibran Rakabuming. Pembukaan turut dihadiri Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Putri, serta Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Doddy Zulverdi.
Mengangkat tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”, KKI tahun ini diselenggarakan Bank Indonesia bersama 27 Kementerian/Lembaga dan 34 mitra strategis. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan UMKM telah ditempatkan sebagai agenda penting dalam memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Penguatan UMKM ke depan diwujudkan melalui tiga kata kunci, yaitu Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing. Bangkit merupakan semangat pemulihan UMKM yang menghadapi tantangan ekonomi maupun bencana alam. Tangguh diwujudkan melalui penguatan struktur usaha dan akses pembiayaan berkelanjutan. Berdaya Saing diwujudkan melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar domestik maupun ekspor,” ujar Destry Damayanti saat membuka KKI 2026.
Pernyataan tersebut menjadi relevan ketika KKI tidak hanya berbicara mengenai ekspansi usaha, tetapi juga pemulihan. Semangat kebersamaan yang diusung tahun ini turut diarahkan untuk mendorong kebangkitan UMKM di wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak bencana alam. Artinya, keberpihakan terhadap UMKM tidak berhenti pada pemberian akses pasar, tetapi juga menyentuh upaya menjaga keberlangsungan usaha ketika pelaku usaha menghadapi situasi sulit.
UMKM Bukan Sekadar Pelaku Usaha
Besarnya perhatian terhadap UMKM bukan tanpa alasan. Sekitar 64 juta pelaku UMKM menjadi bagian penting dari struktur perekonomian Indonesia. Sektor ini menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja dan memberikan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa UMKM bukan sekadar kelompok usaha yang membutuhkan pembinaan. UMKM merupakan kekuatan ekonomi yang menentukan daya tahan ekonomi masyarakat sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
Karena itu, kebijakan pengembangan UMKM Bank Indonesia diarahkan pada tiga strategi utama. Pertama, membangun ekonomi inklusif yang terintegrasi dan berdaya saing. Kedua, memperluas pembiayaan inklusif serta keuangan berkelanjutan. Ketiga, memperkuat literasi dan sinergi ekonomi-keuangan yang inklusif dan berkelanjutan.
Ketiga strategi tersebut kemudian diterjemahkan melalui penguatan kapasitas dan skala usaha, perluasan akses pasar dan pembiayaan, serta percepatan digitalisasi. Pendekatan ini penting karena persoalan UMKM tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan produksi. Produk yang baik harus bertemu dengan pasar yang tepat, didukung pembiayaan yang sehat, pemasaran yang kuat, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi.
UMKM Sumatera Selatan Menjemput Pasar Lebih Luas
Semangat tersebut juga terlihat dari keterlibatan UMKM Sumatera Selatan dalam KKI 2026. Dengan sekitar 2,3 juta pelaku UMKM, sektor ini memiliki posisi penting dalam menopang aktivitas ekonomi sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat di daerah.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan membawa 14 UMKM binaan untuk berpartisipasi secara luring di KKI 2026. Mereka terdiri atas 10 UMKM wastra/ready to wear, dua UMKM aksesori, dan dua UMKM makanan serta minuman olahan.
Sejumlah produk unggulan Sumatera Selatan turut tampil, antara lain Putroh Ramadhan, Brilianto, Jamilah x Prafito, Rumah Songket Adis, Pyo Jewelry, Ilham Bahari, Nirmala Songket, Awan Kerupuk 988, dan Pempek Cek Molek.
Kehadiran mereka tidak semata-mata untuk memajang produk. KKI menjadi ruang untuk mempertemukan produk daerah dengan pasar nasional, calon pembeli, mitra bisnis, sekaligus membuka peluang transaksi dan kerja sama baru.
Bagi Sumatera Selatan, momentum tersebut penting. Wastra, fesyen, aksesori, hingga kuliner khas daerah memiliki identitas yang kuat. Tantangannya adalah bagaimana kekuatan tersebut dikemas menjadi produk yang konsisten dari sisi kualitas, desain, merek, kemasan, kapasitas produksi, dan kemampuan memenuhi permintaan pasar dalam skala lebih besar.
Karena itu, keikutsertaan dalam KKI seharusnya dilihat sebagai bagian dari proses naik kelas, bukan sekadar keikutsertaan dalam pameran.
Peluang tersebut semakin terbuka karena 17 UMKM Sumatera Selatan difasilitasi mengikuti business matching ekspor, sementara 32 UMKM lainnya mengikuti KKI secara daring. Dengan demikian, akses yang dibangun tidak hanya berhenti di ruang pamer JICC, tetapi dapat berkembang melalui jejaring bisnis dan kanal digital.
Inilah salah satu nilai strategis KKI. UMKM didorong untuk tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun kemampuan menjual, memperkuat branding, memanfaatkan teknologi digital, mengakses pembiayaan, serta menjalin hubungan bisnis yang berkelanjutan.
Dari Pameran Menjadi Ekosistem
Penyelenggaraan KKI 2026 yang memasuki tahun ke-11 juga menunjukkan perkembangan dari tahun ke tahun. Tahun ini terdapat lima aspek kebaruan, yakni program berdampak nyata melalui CANGKIR BARISTA dan CITRA NUSA, perluasan kolaborasi, penguatan ekosistem rantai nilai, inovasi generasi muda untuk produk lokal, serta penerapan prinsip keberlanjutan melalui KKI Bijak.
Konsep KKI Bijak antara lain mengedepankan zero emission, zero waste to landfill, serta pengembangan zona hijau. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa penguatan UMKM mulai ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas: pertumbuhan usaha harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Skala KKI 2026 juga semakin besar. Pameran luring di JICC melibatkan lebih dari 550 UMKM, meningkat dibandingkan 362 UMKM pada 2025. Sementara itu, pameran daring melalui platform Karya Kreatif Indonesia melibatkan lebih dari 1.300 UMKM, naik dari lebih dari 1.100 UMKM pada tahun sebelumnya.
Selama empat hari, KKI 2026 menghadirkan 44 rangkaian kegiatan, mulai dari talkshow ekonomi-keuangan inklusif dan berkelanjutan, pagelaran karya kreatif, business matching pembiayaan dan ekspor, value chain, showcase UMKM unggulan, Cangkir Nusantara, showcase pariwisata, hingga berbagai aktivitas interaktif dan instalasi hijau.
Produk yang ditampilkan pun merepresentasikan kekayaan ekonomi kreatif Indonesia, mulai dari wastra, ready to wear, aksesori, home decor, kopi, makanan dan minuman olahan, hingga atraksi desa wisata.
Kolaborasi Harus Berujung pada Dampak
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan KKI tidak semestinya hanya dilihat dari jumlah UMKM yang tampil atau ramainya pengunjung. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh kegiatan ini mampu membuka akses pasar, meningkatkan transaksi, memperluas pembiayaan, menciptakan kemitraan, mendorong ekspor, dan membuat UMKM semakin mandiri.
Di sinilah komitmen Bank Indonesia perlu terus dikawal agar KKI tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Pameran harus menjadi pintu masuk menuju hubungan bisnis jangka panjang. Business matching harus berlanjut menjadi transaksi. Digitalisasi harus menghasilkan perluasan pasar. Pembiayaan harus mendorong peningkatan kapasitas usaha. Dan kolaborasi lintas lembaga harus melahirkan ekosistem yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh pelaku UMKM.
Semangat “Beudaya, Meusare-Sare” menjadi relevan untuk menjawab tantangan tersebut. UMKM yang berdaya tidak lahir dari kerja sendiri, melainkan dari ekosistem yang saling menguatkan.
Bagi UMKM Sumatera Selatan, KKI 2026 merupakan kesempatan untuk membawa identitas dan keunggulan produk daerah ke panggung yang lebih luas. Bagi Bank Indonesia, perhelatan ini menjadi salah satu bentuk nyata komitmen memperkuat ekonomi inklusif dan berkelanjutan.
Lebih jauh lagi, KKI 2026 mengirimkan pesan bahwa ketika UMKM mampu bangkit setelah menghadapi tekanan, menjadi tangguh menghadapi perubahan, dan berdaya saing di pasar domestik maupun global, maka yang tumbuh bukan hanya pelaku usahanya. Yang ikut tumbuh adalah lapangan kerja, pendapatan masyarakat, ekonomi daerah, dan pada akhirnya perekonomian Indonesia.
Karena itu, mendukung UMKM bukan sekadar membeli produk lokal. Mendukung UMKM berarti ikut memperkuat fondasi ekonomi Indonesia dari bawah—bersama-sama, berdaya, dan berkelanjutan.
Penulis: Adi | Editor: Chaca

