HUT ke-81 TNI, Kodam II/Swj Soroti Karhutla dan Kabut Asap
Divianews.com | Palembang —Pada Momen penting di HUT ke 81, TNI menegaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap di Sumatera Selatan tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan prajurit. Keterlibatan masyarakat dinilai menjadi faktor penting untuk mencegah bencana tersebut terus berulang.
Demikian penegasan itu disampaikan Kasdam II/Sriwijaya Brigjen TNI Iwan Ma’ruf Zainudin dalam momentum peringatan HUT ke-78 TNI yang digelar di Lapangan Apron Bravo Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang.
Disampaikan oleh Iwan, jumlah personel TNI sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah penduduk. Karena itu, sinergi dengan masyarakat dan seluruh unsur terkait menjadi kunci dalam menghadapi berbagai ancaman, termasuk bencana nonmiliter seperti karhutla.
“TNI tidak ada apa-apanya tanpa rakyat. Kalau tidak bersama-sama rakyat, kita tidak akan bisa mengatasi ancaman, baik militer maupun nirmiliter seperti kabut asap dan karhutla ini,” ujar Brigjen TNI Iwan Ma’ruf Zainudin kepada awak media.
Ia mengatakan, penanganan karhutla di Sumsel bukan perkara mudah. Kondisi geografis, cuaca, luas wilayah yang terdampak, hingga karakteristik lahan gambut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.
Pemadaman melalui jalur darat, kata dia, kerap terkendala akses menuju lokasi kebakaran. Tidak semua kawasan dapat dijangkau kendaraan pemadam sehingga personel harus bekerja lebih keras untuk mencapai titik api.
Kondisi tersebut diperparah asap tebal yang dapat mengganggu jarak pandang. Situasi ini bahkan sempat menjadi kendala dalam pengerahan helikopter maupun pesawat untuk melakukan pemadaman dari udara.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup dilakukan ketika api sudah muncul. Upaya pencegahan harus diperkuat sejak tingkat desa dengan melibatkan masyarakat yang berada paling dekat dengan wilayah rawan kebakaran.
TNI bersama Kepolisian dan Pemerintah Daerah telah menggandeng para kepala desa untuk memperketat pengawasan terhadap potensi pembukaan lahan dengan cara dibakar.
Langkah tersebut diharapkan dapat menekan praktik pembakaran lahan yang berpotensi memicu kebakaran meluas, terutama ketika kondisi cuaca kering dan lahan mudah terbakar.
Selain memperkuat pengawasan, Iwan juga mendorong solusi teknis untuk mengurangi risiko karhutla dalam jangka panjang. Salah satunya melalui pembangunan bendungan atau sodetan di wilayah hulu guna menjaga ketersediaan air di kawasan rawan kebakaran.
Menurutnya, ketersediaan air menjadi salah satu aspek penting dalam upaya pencegahan maupun penanganan kebakaran, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut.
Dengan demikian, penanganan karhutla di Sumsel membutuhkan kerja bersama dan tidak berhenti pada operasi pemadaman. Pengawasan di tingkat desa, kesiapan menghadapi kondisi geografis dan cuaca, serta upaya menjaga ketersediaan air menjadi bagian dari strategi untuk menekan ancaman kebakaran dan kabut asap secara berkelanjutan.
Dalam momen seperti ini, bagi TNI, keterlibatan masyarakat bukan sekadar pelengkap, melainkan kekuatan utama dalam menghadapi ancaman yang berdampak langsung terhadap lingkungan dan kehidupan warga.(adi)
