Pertamina Patra Niaga Sumbagsel, Groundbreaking SPBU Pertanian Satu Harga Pertama di Indonesia
Divianews.com | Palembang — Pertamina Patra Niaga Sumbagsel mulai melaksanakan Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertanian “Satu Harga” pertama di Indoensia di Desa Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Jumat (24/4/2026). Proyek ini diharapkan akan menjadi solusi atas persoalan klasik petani terkait akses bahan bakar minyak (BBM) sekaligus meningkatkan keuntungan usaha tani secara signifikan.
Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian, Dr. Ir. Sam Herodian, dalam kesempatan tersebut, menegaskan bahwa kehadiran SPBU khusus petani ini akan berdampak langsung terhadap peningkatan produktivitas dan pendapatan.
“Kalau petani mendapatkan BBM dengan harga subsidi atau satu harga seperti di kota, keuntungan mereka bisa meningkat signifikan. Berdasarkan pengalaman saya di beberapa daerah seperti Kalimantan, selisih biaya BBM sangat berpengaruh. Harapannya di sini keuntungan petani bisa naik secara ekonomis per hektare,” ujar Sam Herodian, jumat (24/03/2026).
Ia menjelaskan, SPBU Petani ini ditargetkan rampung dalam waktu tiga bulan dan akan menjadi proyek percontohan nasional. Fasilitas ini nantinya diproyeksikan mampu melayani sekitar 150 kelompok tani.
“Ini bukan hanya pembangunan fisik, tapi infrastruktur nyata untuk mendukung pertanian modern. Kami optimistis model ini akan diikuti oleh banyak daerah lain di Indonesia,” tegasnya.
Sementara itu, Region Manager Retail Sales Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Ayub Ritto, menjelaskan bahwa selama ini petani kerap menghadapi kendala saat mengakses BBM di SPBU umum. Mereka harus menggunakan kemasan khusus dan seringkali menjadi prioritas kedua dalam antrean.
“Selama ini petani mengambil BBM di SPBU umum dengan keterbatasan, bahkan sering dianggap mengganggu karena menggunakan kemasan khusus. Dengan adanya SPBU khusus ini, mereka tidak perlu lagi berdesakan dengan kendaraan umum. Ini akan sangat membantu,” kata Ayub.
Ia menambahkan, SPBU Pertanian ini akan menerapkan konsep “BBM satu harga” yang mengikuti ketentuan pemerintah, sehingga harga BBM yang diterima petani sama dengan harga di wilayah perkotaan.
“Secara aturan hampir sama dengan SPBU nelayan. Setelah fasilitas siap, kami dari Pertamina akan menyalurkan BBM. Perbedaannya hanya pada pola distribusi, karena lokasi ini berbasis sungai, sehingga pengangkutan akan menyesuaikan kondisi wilayah,” jelasnya.
Di sisi lain, Ketua Kelompok Tani setempat, Sumarsono, menyambut pembangunan ini dengan penuh harapan. Ia menuturkan bahwa kebutuhan BBM untuk operasional alat mesin pertanian terus meningkat seiring modernisasi sektor pertanian.
“Sekarang hampir semua kegiatan pertanian menggunakan mesin. Masalahnya, ketersediaan BBM sering tidak seimbang dengan kebutuhan. Dengan adanya SPBU Pertanian ini, maka kami bisa dapat BBM jenis Pertalite dan solar dengan harga resmi,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut selama ini membebani petani dan menekan keuntungan. Dengan hadirnya SPBU Pertanian, ia optimistis kesejahteraan petani akan meningkat.
“Ini mimpi kami sejak puluhan tahun lalu, sejak awal transmigrasi. Alhamdulillah sekarang bisa terwujud. Kalau benar selisih harga BBM akan menjadi keuntungan secara ekonomis, tentu ini sangat membantu kehidupan petani,” ujarnya.
Pembangunan infrastruktur SPBU khusus Pertanian Satu Harga ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penyediaan energi yang adil dan terjangkau bagi petani. Model ini diharapkan bisa menjadi percontohan di berbagai daerah lain di Indonesia. (adi)

