Divianews.com | Palembang — Transformasi ekonomi dan keuangan digital terus digencarkan oleh Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Selatan (Sumsel) sebagai upaya strategis untuk mendorong inklusi keuangan dan mendukung pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah. Inisiatif ini sejalan dengan visi nasional dalam menciptakan ekosistem ekonomi digital yang inklusif, efisien, dan berkelanjutan.

Sekilas Awal Perkembangan Keuangan Digital di Indonesia

Perjalanan keuangan digital di Indonesia dimulai dengan hadirnya berbagai platform pembayaran elektronik seperti OVO, GoPay, dan LinkAja pada akhir 2010-an. Tonggak penting terjadi pada 2019 saat BI meluncurkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), standar pembayaran berbasis QR code yang dapat digunakan lintas platform. QRIS bertujuan mempermudah transaksi nontunai, meningkatkan efisiensi, serta memperluas akses keuangan di berbagai lapisan masyarakat.

Di Sumatera Selatan, BI aktif melakukan edukasi dan literasi digital keuangan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, pelaku usaha, serta institusi keuangan. Kampanye ini berhasil mengedukasi masyarakat tentang manfaat transaksi digital yang lebih cepat, aman, dan praktis tanpa harus membawa uang tunai.

Tren Digitalisasi di Sumsel

Dalam upaya mempercepat digitalisasi ekonomi, BI Sumsel menggelar berbagai program strategis, salah satunya adalah festival ekonomi digital bertajuk “Digital Kito Galo.” Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan teknologi keuangan digital kepada masyarakat luas, tetapi juga menyediakan pelatihan dan pendampingan bagi UMKM agar lebih siap memanfaatkan teknologi dalam operasional bisnis.

BI juga menjalin sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan penyedia teknologi untuk memperkuat ekosistem digital di Sumsel. Fokus kerja sama ini mencakup pembangunan infrastruktur, peningkatan literasi keuangan, serta pengembangan layanan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan lokal.

Visi Masa Depan: Ekonomi Modern dan Inklusif

Bank Indonesia optimistis bahwa masa depan ekonomi digital di Sumsel akan membawa perubahan positif yang signifikan. Beberapa dampak yang diharapkan antara lain:

  • Peningkatan Inklusi Keuangan: Masyarakat, termasuk UMKM, memiliki akses yang luas dan aman terhadap layanan keuangan digital.
  • Pemberdayaan UMKM: Transformasi digital diharapkan meningkatkan daya saing UMKM dan memperluas jangkauan pasar.
  • Penguatan Ekosistem Digital: Kolaborasi antar sektor akan mempercepat pertumbuhan inovasi dan teknologi.
  • Perlindungan Konsumen: Keamanan transaksi dan perlindungan data menjadi prioritas utama dalam membangun kepercayaan publik.

Respons UMKM: Praktis dan Menguntungkan

Program digitalisasi ini mendapat sambutan positif dari pelaku UMKM di Sumsel. Mereka mengakui bahwa penggunaan sistem pembayaran digital, khususnya QRIS, telah membawa dampak nyata bagi kelancaran operasional bisnis.

“Sekarang semuanya lebih mudah. Kami tidak perlu lagi repot menyiapkan uang kecil untuk kembalian. Pembeli cukup scan, dana langsung masuk ke rekening. Praktis dan aman,” ujar Lastri, pelaku UMKM Kopi Palembang.

Meski begitu, para pelaku UMKM tetap berharap adanya dukungan kebijakan lanjutan, seperti insentif pajak dan regulasi yang jelas terkait perlindungan data dan transaksi digital.

Ajakan Kolaboratif

Kepala Perwakilan BI Sumatera Selatan, Ricky P. Gozali, jumat (23/05/2025) menegaskan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam membangun ekosistem ekonomi digital yang inklusif.

“Saya mengajak seluruh masyarakat dan pelaku UMKM untuk bersama-sama memanfaatkan teknologi digital demi kemajuan ekonomi daerah,” ujarnya.

Melalui berbagai program seperti QRIS dan festival digital seperti Digination yang telah dilakukan, transformasi digital di Sumsel terus menunjukkan hasil positif sejak dimulai hingga awal tahun 2025. Harapannya, UMKM dan masyarakat dapat berkembang sebagai pelaku ekonomi yang tangguh dan mampu bersaing di era digital.

Sebagai catatan, untuk Sumsel (indikasi kualitatif yang bisa diasumsikan):

BI Sumsel menyatakan bahwa penggunaan QRIS dan transaksi non-tunai terus meningkat signifikan, terutama setelah adanya edukasi dan festival seperti Digital Kito Galo. Meskipun tidak disebutkan secara rinci mnegnai angka pasti, bila mengikuti rata-rata nasional, bisa diperkirakan:

  • Pertumbuhan transaksi digital: 20–30% per tahun.
  • Peningkatan UMKM pengguna QRIS: 2–3 kali lipat dalam dua tahun terakhir.
  • Kenaikan adopsi pembayaran digital: Diperkirakan naik di atas 50% dalam tiga tahun terakhir di kalangan UMKM.

Penulis: Adi Asmara