Divianews.com | Pagar Alam – Upaya nyata memperkuat ketahanan pangan dan mengendalikan inflasi daerah ditunjukkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Kota Pagar Alam. Kedua pihak menggelar Panen Bersama Bawang Merah di Kecamatan Dempo Utara pada Sabtu (15/11), sebuah kolaborasi yang terbukti meningkatkan produktivitas petani secara signifikan.

Kegiatan ini menjadi bukti dukungan konkret BI untuk sektor pertanian, terutama pada komoditas bawang merah, yang sering memicu tekanan inflasi daerah. Melalui sinergi lintas sektor ini, BI dan Pemkot Pagar Alam berkomitmen memperbaiki rantai pasok dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal.

Produktivitas Panen Melonjak 15%

Hasil panen kali ini menunjukkan capaian menggembirakan dengan produktivitas mencapai sekitar 15,7 ton per hektare, naik 15% dari musim tanam sebelumnya. Kenaikan ini didorong penerapan teknologi budidaya modern dan efisien, seperti penggunaan benih unggul bersertifikat, sprayer, mulsa plastik, dan pupuk organik.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Selatan, Duddy Adiyatna, menegaskan bahwa bawang merah masih mengalami defisit di Sumatera Selatan. “Oleh karena itu, BI dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) aktif mendorong budidaya bawang merah untuk memperkuat pasokan lokal dan meredam tekanan inflasi dari sisi pangan,” jelasnya.

Wakil Wali Kota Pagar Alam, Hj. Bertha, SH., M.Kn., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang sudah menghasilkan capaian nyata bagi petani sekaligus berkontribusi dalam menjaga stabilitas harga pangan di daerah.

Bantuan dan Perluasan Pasar

Sejumlah pejabat hadir dalam panen raya ini, termasuk Wakil Wali Kota Pagar Alam, Perwakilan BI Provinsi Sumsel, Sekretaris Dinas Pertanian Diki Herlambang, serta TPID Kota Pagar Alam.

Sebagai bagian dari komitmennya, BI telah memberikan bantuan berupa bibit bawang merah dan cultivator kepada Kelompok Tani (Poktan) Air Lawu, Kibox Iox, Berkah Alam Sukses Bersama, dan Sepakat. Selain itu, petani juga difasilitasi studi pembelajaran ke sentra produksi bawang merah di Kabupaten Solok dan Tanah Datar, Sumatera Barat, untuk meningkatkan kapasitas.

Kemitraan pemasaran juga mulai terbentuk antara kelompok tani dengan pedagang pengumpul lokal dan calon pembeli dari luar daerah. Ini membuka peluang pasar yang lebih luas dan diharapkan menjaga keberlanjutan ekonomi petani.

Pagar Alam sebagai Sentra Produksi dan Wisata Pertanian

Perwakilan BI Provinsi Sumsel juga menekankan pentingnya pengembangan demplot untuk mengidentifikasi varietas benih yang paling cocok dengan agroklimat Pagar Alam. Ia mendorong kelompok tani yang berhasil agar berbagi ilmu budidaya dengan kelompok lain untuk memperluas dampak positif program.

Pemkot Pagar Alam berkomitmen melanjutkan dukungan pengembangan klaster, termasuk perluasan lahan dan penguatan kelembagaan petani, sebagai bagian dari strategi 4K pengendalian inflasi (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif).

Ke depan, BI dan Pemkot akan memperkuat pendampingan pascapanen, termasuk fasilitasi diversifikasi produk olahan dan pembentukan kelembagaan ekonomi petani seperti koperasi. Tujuannya jelas: menjadikan Pagar Alam tidak hanya destinasi wisata pegunungan yang menawan, tetapi juga salah satu sentra produksi bawang merah utama di Sumatera Selatan.

Lebih lanjut sinergi kebijakan dan kolaborasi antarlembaga ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan, menstabilkan harga, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pagar Alam secara berkelanjutan. (adi)