Divianews.com | Palembang – Perekonomian Provinsi Sumatera Selatan pada 2026 diperkirakan tumbuh dalam rentang 4,8% hingga 5,6%. Optimisme ini didorong oleh akselerasi berbagai program strategis pemerintah, peningkatan Upah Minimum Regional (UMR), serta dampak positif kebijakan moneter, khususnya penurunan suku bunga. Hal tersebut disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel Duddy Adityatna dalam paparannya mengenai prospek ekonomi daerah pada Rapat Tahunan Bank Indonesia 2025 dengan Tema: Tanggu dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan. Di Hotel Wyndham Palembang, jumat (28/11).

Menurut Duddy,  arah kebijakan fiskal dan moneter yang semakin sinkron akan menjadi katalis bagi aktivitas ekonomi regional. “Kita berharap kondisi perekonomian tahun 2026 akan lebih baik dibandingkan tahun ini, dengan sumber pertumbuhan yang semakin merata,” ujarnya.

Inflasi Terjaga dalam Target Nasional

Duddy menegaskan, inflasi Sumatera Selatan pada 2026 diproyeksikan tetap berada dalam kisaran target 2,5% ± 1%. Stabilitas harga didukung oleh permintaan domestik yang relatif kuat dan realisasi program ketahanan pangan di sejumlah wilayah.

Upaya pengendalian inflasi akan diperkuat melalui koordinasi lintas sektor, baik di tingkat pusat maupun daerah. Fokus utama pengendalian adalah mitigasi risiko gangguan pasokan, fluktuasi harga komoditas global, dan distribusi logistik.

Dorongan Investasi Lewat Perbaikan Infrastruktur dan Regulasi

Untuk meningkatkan daya tarik investasi, Dudi menggarisbawahi perlunya langkah strategis dalam pembenahan infrastruktur dan perizinan. Ia menyebut beberapa prioritas kebijakan, antara lain:

Sinkronisasi tata ruang dan perizinan investasi agar sejalan dengan rencana pembangunan daerah;

Penyediaan insentif dan fasilitas fiskal bagi calon investor;

Perbaikan infrastruktur konektivitas, seperti jalan lintas antar kota dan jalur kereta logistik guna memperlancar distribusi bahan baku;

Penyediaan lahan untuk kawasan industri, serta pasokan energi dan air yang memadai.

“Kelancaran akses logistik dan kepastian regulasi menjadi faktor penentu bagi investor. Jika ini tercapai, Sumatera Selatan akan semakin kompetitif,” tegasnya.

Penguatan UMKM dan Ekonomi Digital

Duddy juga menyampaikan komitmen Bank Indonesia bersama pemerintah daerah untuk memperkuat sektor UMKM, terutama pada komoditas unggulan seperti kelapa sawit dan sektor pariwisata. Program pengembangan UMKM akan melibatkan pesantren, kelompok tani, dan ekosistem industri kreatif.

Selain itu, fondasi ekonomi digital akan terus diperkuat melalui: peningkatan literasi keuangan digital, perlindungan konsumen, optimalisasi infrastruktur telekomunikasi, danpenguatan sistem pembayaran berbasis teknologi.

Pengendalian Inflasi Berbasis 4 Pilar

Sejalan dengan roadmap nasional, Sumsel menerapkan empat strategi utama untuk menjaga inflasi tetap rendah dan stabil, yakni:

Keterjangkauan harga melalui operasi pasar;

Ketersediaan pasokan melalui kerja sama antar daerah;

Kelancaran distribusi melalui perbaikan logistik;

Komunikasi publik yang efektif.

Menatap Masa Depan Ekonomi Sumsel

Menutup pemaparannya, Dudi menyatakan bahwa sinergi antara otoritas moneter, pemerintah daerah, dan pelaku usaha menjadi kunci penguatan struktur ekonomi Sumatera Selatan.

“Kami berharap sinergi dan kerja sama yang telah terbangun dapat terus berlanjut dan semakin solid pada tahun-tahun mendatang. Dengan langkah bersama, Sumatera Selatan memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih tinggi, lebih inklusif, dan berdaya saing,” pungkasnya. (adi)