Divianews.com | Palembang — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan menilai potensi keuangan syariah di daerah ini sangat besar, namun belum tergarap optimal akibat masih rendahnya tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah di masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto, dalam kegiatan Ngobrol Santai, tasyakuran, dan silaturahmi bersama jurnalis di Palembang, Rabu (24/12/2025) sore.

Arifin mengungkapkan, meskipun kinerja keuangan syariah di Sumatera Selatan tercatat lebih baik dibandingkan rata-rata nasional, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah minimnya pemahaman dan pemanfaatan layanan keuangan syariah oleh masyarakat.

“Potensi ekonomi syariah di Sumatera Selatan sangat besar, tetapi belum sepenuhnya masuk ke dalam sistem keuangan formal. Literasi dan inklusi masih menjadi pekerjaan rumah utama,” ujarnya.

Berdasarkan data OJK, market share perbankan syariah di Sumatera Selatan telah mencapai 13 persen, lebih tinggi dibandingkan capaian nasional yang masih berada di angka 7,4 persen. Sementara itu, pembiayaan syariah di daerah ini berada di kisaran 10 persen. Meski menunjukkan tren positif, angka tersebut dinilai belum mencerminkan kekuatan ekonomi daerah yang sesungguhnya.

Arifin menjelaskan, rendahnya literasi keuangan syariah tidak lepas dari pola komunikasi yang selama ini dinilai terlalu kaku dan eksklusif. Penggunaan istilah teknis seperti musyarakah, mudharabah, dan murabahah sering kali membuat masyarakat enggan mendekat karena dianggap rumit.

“Kita harus mengubah cara bertutur. Keuangan syariah jangan hanya dipahami sebagai urusan ibadah. Prinsipnya bersifat universal, seperti keadilan dan bagi hasil. Kalau komunikasinya sederhana, masyarakat akan lebih mudah menerima,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti besarnya potensi sektor UMKM, perdagangan, dan komoditas di Sumatera Selatan yang belum terhubung dengan layanan keuangan syariah. Di Palembang, transaksi komoditas dari wilayah seperti Lahat disebut mencapai Rp2 miliar per hari, namun sebagian besar masih berada di luar ekosistem perbankan syariah.

Untuk menggambarkan besarnya potensi tersebut, Arifin menceritakan pengalaman dalam sebuah pertemuan terbatas dengan nasabah prioritas. Melalui aplikasi perbankan syariah, para peserta diajak berdonasi untuk korban bencana alam di Sumatera Utara dan Aceh.

“Dalam waktu sekitar lima menit, terkumpul Rp102 juta dari sekitar 70 orang. Ini membuktikan dananya ada, minatnya ada, tetapi edukasi dan kemudahan akses harus terus diperkuat,” jelasnya.

Menutup pemaparannya, Arifin mengajak insan pers berperan aktif dalam meningkatkan literasi keuangan syariah melalui pemberitaan yang edukatif dan membangun. Ia menegaskan bahwa penguatan literasi dan inklusi menjadi kunci agar potensi besar keuangan syariah di Sumatera Selatan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Upaya tersebut sejalan dengan kebijakan OJK Pusat yang saat ini membentuk unit khusus guna mempercepat pengembangan keuangan syariah dan UMKM secara nasional. (adi)