Divianews.com | Palembang — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan perkuat sinergi kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif sekaligus menjaga stabilitas inflasi hingga 2026.

Kepala Perwakilan BI Sumsel, Bambang Pramono, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi harus berjalan beriringan melalui kebijakan yang terintegrasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, perbankan, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Pertumbuhan ekonomi dan inflasi bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya bisa dikombinasikan melalui penguatan pembiayaan daerah, termasuk skema pembiayaan kreatif dan perluasan akses keuangan,” ujar Bambang usai Nonton Bareng Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 serta Diseminasi Kebijakan Bank Indonesia dan Kondisi Perekonomian Sumatera Selatan di Kantor Perwakilan BI Sumsel, Rabu (28/1/2026).

Menurutnya, tantangan utama ekonomi Sumatera Selatan ke depan adalah menurunkan tingkat kemiskinan yang masih berada di atas rata-rata nasional. Saat ini, angka kemiskinan Sumsel tercatat sekitar 10,15 persen, sementara nasional berada di kisaran 9,05 persen.

Pemerintah Provinsi Sumsel menargetkan tingkat kemiskinan dapat ditekan hingga satu digit pada 2026. Untuk itu, dibutuhkan program yang lebih terarah dan menyentuh langsung masyarakat berpendapatan rendah.

BI Sumsel mendorong penguatan ekonomi kerakyatan melalui kolaborasi lintas pemerintah provinsi, kabupaten/kota, instansi vertikal, serta sektor perbankan. Upaya ini diarahkan agar pelaku usaha kecil dan masyarakat dapat meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan.

Selain ekonomi rakyat, akselerasi investasi juga menjadi fokus utama. BI bersama Pemprov Sumsel mendorong pengembangan hilirisasi komoditas unggulan daerah seperti kopi, kelapa, dan sektor energi guna meningkatkan nilai tambah dan daya saing ekonomi daerah.

“Sumsel memiliki banyak potensi. Tantangannya adalah mempercepat akselerasi dan membangun ekosistem usaha agar potensi tersebut menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi,” jelas Bambang.

Sebagai sumber pertumbuhan baru, BI dan Pemprov Sumsel juga mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah, pariwisata, serta ekonomi hijau yang dinilai masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Sumatera Selatan.

Di sisi lain, penguatan ketahanan pangan turut menjadi perhatian, termasuk melalui pelibatan lembaga pendidikan dan pesantren. Langkah ini diharapkan dapat menjaga pasokan pangan lokal sekaligus mendukung pengendalian inflasi pangan.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025, menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen, dengan titik tengah 5,3 persen, dan meningkat pada 2027 menjadi 5,1 hingga 5,9 persen dengan titik tengah 5,5 persen.

“Dengan tentu saja titik tengah yang lebih tinggi, yakni 5,5 persen pada 2027,” ujar Perry saat Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025.

Optimisme tersebut menjadi pesan utama pertama dalam LPI 2025 yang dirangkum BI melalui konsep OKS (Optimistis, Komitmen, dan Sinergi). Perry menegaskan, momentum pertumbuhan ekonomi harus segera dimanfaatkan oleh pelaku usaha agar tidak kehilangan peluang ekspansi.

“Berhentilah wait and see. Kalau terus menunggu, akan ketinggalan kereta. Kita harus optimistis bahwa ekonomi ke depan akan lebih baik,” tegasnya. (adi)