Divianews.com | Palembang – Pagi itu, Andre Joni berjalan di antara hamparan sawah Desa Benawa, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan. Tangannya kotor karena baru menanam padi, tapi matanya bersinar penuh harapan. Pemuda 25 tahun itu melihat lebih dari sekadar bibit dan air irigasi; ia melihat peluang. Peluang untuk bekerja, berinvestasi, dan ikut menggerakkan roda ekonomi desanya.

“Ini bukan sekadar kabar baik bagi petani, tapi juga bagi kami, pemuda desa. Kami ingin dilibatkan, bukan hanya menunggu pekerjaan datang,” ujar Andre sambil menepuk gundukan tanah yang baru ditanami. Bagi Andre dan banyak pemuda lain di Sumsel, program hilirisasi pertanian membuka jendela baru: dari sawah menjadi pabrik, dari gabah menjadi beras olahan, dari potensi menjadi nyata.

Peningkatan Produksi, Awal dari Transformasi

Optimisme Andre bukan tanpa dasar. Produksi gabah kering giling (GKG) Sumatera Selatan melonjak hingga hampir 3,5 juta ton hingga September 2025, naik 600 ribu ton dibanding tahun sebelumnya. “Belum pernah terjadi sejarah produksi melonjak seperti ini,” kata Gubernur Sumsel, Herman Deru, saat meninjau program cetak sawah di Desa Benawa, OKI, awal bulan Oktober lalu.

Program cetak sawah menargetkan 48.000 hektar di sembilan kabupaten, termasuk OKI, OKU Timur, Musi Banyuasin, dan Ogan Ilir. Jika ditambah rencana perluasan 38.000 hektar, total lahan produktif Sumsel bisa mencapai 560.000 hektar. Dengan penerapan tanam dua kali setahun atau lebih, target 5 juta ton GKG pada 2026 bukan sekadar angka. Ini adalah peluang emas bagi petani, pemuda, dan seluruh ekosistem ekonomi pedesaan di Sumsel.

Normalisasi saluran irigasi, penguatan jaringan OPLA, dan dukungan alsintan menjadi kunci agar lahan baru bisa produktif maksimal. “Sinergi pusat-daerah harus diperkuat agar infrastruktur tidak hanya ada, tetapi benar-benar menghasilkan panen,” tegas Herman Deru.

Hilirisasi: Berpotensi Besar Menjadi Nilai Tambah

Namun, revolusi pertanian Sumsel bukan hanya soal jumlah gabah. Ini soal mengubah hasil bumi menjadi produk bernilai tinggi. Di sinilah hilirisasi memainkan peran utama.

Dengan hilirisasi, gabah bisa menjadi beras mulai dari yang biasa hingga premium, karet menjadi produk industri bernilai tinggi, ada juga kopi yang diolah menjadi produk siap jual, dan kemudian ada sawit menjadi bahan baku industri berkelanjutan. Dampaknya terasa nyata: membuka lapangan kerja baru, stabilisasi harga, dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Bambang Pramono, Kepala BI Sumsel, dalam sebuah kesempatan juga menekankan, “Hilirisasi bukan sekadar pengolahan, tapi merupakan strategi untuk menambah tenaga kerja, memperkuat ekonomi desa, dan membangun ekosistem digital pertanian.”

Di Desa Benawa, beberapa pemuda saat ini selain perlahan mulai belajar bertani, juga sudah mulai mempelajari cara mengoperasikan mesin penggilingan padi dan teknologi pengolahan kopi. Bagi mereka, ini bukan sekadar keterampilan baru, tetapi tiket menuju kemandirian ekonomi suatu daerah.

Cerita Petani: Dari Tantangan ke Peluang

Di balik angka produksi, kisah nyata petani lainnya juga memberikan inspirasi. Pak Bayu, 52 tahun, petani sawah di Teluk Gelam, mengaku awalnya ragu dengan program cetak sawah. Namun, setelah lahan barunya terhubung irigasi dan ia bisa panen dua kali setahun, hidupnya berubah. “Dulu hasil panen hanya cukup untuk makan keluarga. Sekarang ada lebih, bisa dijual ke penggilingan lokal, nilai jualnya naik,” katanya sambil tersenyum.

Hilirisasi membuka jalan bagi keluarga seperti Pak Bayu untuk meningkatkan kesejahteraan. Tidak hanya petani, tapi juga pemuda desa seperti Andre yang bisa ikut mengelola pengolahan, distribusi, hingga pemasaran produk.

Momentum Strategis: Sumsel Menuju Pusat Ekonomi Pedesaan

Produksi 3,5 juta ton GKG bukan hanya angka statistik; ini momentum strategis. Target 5 juta ton pada 2026 membuka ruang bagi industri hilir berkembang. Pabrik penggilingan, pengolahan karet, kopi, dan sawit akan menyerap ribuan tenaga kerja baru, termasuk dari kalangan pemuda.

Hilirisasi menjadi jalan keluar dari masalah klasik pertanian: harga rendah dan ketergantungan pada bahan mentah. Dengan nilai tambah produk lokal, ekonomi pedesaan tumbuh lebih mandiri. Desa-desa yang sebelumnya hanya penghasil komoditas mentah kini bertransformasi menjadi pusat ekonomi produktif.

Langkah ke Depan: Sinergi, Teknologi, dan Keberlanjutan

Para ahli menekankan pentingnya sinergi pemerintah pusat dan daerah, pembangunan industri hilir, serta akses modal bagi petani dan pelaku usaha. Teknologi dan digitalisasi pertanian juga perlu dioptimalkan, termasuk pemanfaatan alsintan, sistem pembayaran digital, hingga monitoring produksi secara real-time.

Yang terpenting, keberlanjutan harus menjadi prioritas. Lahan baru harus segera ditanami, hasil panen diolah, dan nilai tambah dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat desa.

Sumatera Selatan kini menatap masa depan baru. Dari sawah ke pabrik, dari gabah menjadi beras olahan, dari potensi menjadi kesejahteraan nyata. Hilirisasi pertanian bukan sekadar jargon birokrasi. Ini kisah nyata, tentang petani yang hidupnya membaik, pemuda yang menemukan peluang, dan desa yang perlahan menjadi pusat ekonomi produktif.

Ya Andre menatap hamparan sawahnya lagi, kali ini dengan senyum lebar. “Saya yakin, masa depan desa kami tidak lagi hanya menunggu. Kami ikut membangun, ikut bekerja, dan ikut menikmati hasilnya,” katanya. Dan di sanalah, di tengah sawah Sumsel yang hijau, lahir generasi baru yang melihat pertanian bukan sekadar ladang, tapi mesin perubahan ekonomi.

Penulis: Adi Asmara

Media:  divianews.com