Harapan Baru di Lahan Eks Tambang Bauksit, Kini Petani Panen Semangka
Tanjungpinang – Lahan eks tambang bijih bauksit yang dulu dikenal tandus dan rusak di Dompak, Tanjungpinang, kini berubah drastis menjadi ladang harapan bagi para petani. Kini untuk kedua kalinya, petani setempat berhasil memanen semangka berukuran besar dengan hasil yang mencengangkan, mencapai sekitar 40 ton per hektare di tengah musim kemarau.
Hamparan semangka besar tampak memenuhi lahan yang sebelumnya nyaris tak pernah dibayangkan bisa menghasilkan panen. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa tanah bekas tambang bukan akhir dari segalanya, melainkan bisa kembali produktif jika dikelola dengan tepat.
Bagi Agus dan petani lainnya, panen kali ini terasa jauh lebih bermakna. Bukan hanya karena ukuran dan berat buah semangka yang memuaskan, tetapi juga karena keberhasilan ini lahir dari perjuangan panjang menghadapi keterbatasan alam.
Musim kemarau sempat menjadi ujian berat. Saat tanaman memasuki fase pembesaran buah, pasokan air justru menipis. Sumur-sumur warga mengering, sementara semangka membutuhkan air yang cukup agar tidak gagal panen. Kekhawatiran pun menyelimuti para petani.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan datang tepat waktu. Mengusung semangat TNI bersama rakyat, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) I Tanjungpinang, Letjen TNI Kunto Arif Wibowo, memerintahkan jajarannya menurunkan mobil tangki air untuk menyuplai kebutuhan air tanaman petani di lahan eks tambang tersebut.
“Awalnya kami hampir putus asa. Air sumur kering, sementara buah sedang butuh banyak air. Alhamdulillah, bantuan datang tepat waktu,” ujar Agus bernostagia kenang sebelumnya, jum’at (06/02/2026).
Suplai air dari mobil tangki tak hanya menyelamatkan tanaman, tetapi juga menghidupkan kembali harapan para petani. Tanaman semangka kembali segar, daun menghijau, dan buah berkembang optimal hingga siap dipanen.
Dari satu hektare lahan, hasil panen diperkirakan mencapai 40 ton pada musim kemarau, angka yang dinilai sangat tinggi untuk lahan bekas tambang bauksit. Bahkan, jika kondisi cuaca normal, potensi panen bisa menembus 50 ton per hektare.
Keberhasilan tersebut juga didukung penggunaan pupuk hayati BIOS 44, pupuk berbasis mikroorganisme yang mampu memperbaiki struktur tanah bekas tambang. Tanah yang sebelumnya keras dan miskin unsur hara kini kembali gembur dan subur.
“Sejak pakai BIOS 44, semangka kami lebih besar dan berat. Tanamannya juga sehat,” kata Agus dengan raut puas.
Manfaat BIOS 44 tak hanya dirasakan petani semangka. Bohari, petani cabai di lokasi yang sama, mengaku tanamannya kini jauh lebih subur dan lebih tahan terhadap serangan hama.
“Buahnya banyak, besar, dan tanamannya sehat. BIOS 44 memang luar biasa,” ujarnya.
Kini, lahan binaan Kogabwilhan I Tanjungpinang tersebut tak lagi sekadar kawasan pertanian. Area ini berkembang menjadi bagian dari upaya ketahanan pangan daerah, bahkan mulai dikenal sebagai kawasan agrowisata dan lokasi perkemahan. Sejumlah pejabat daerah pun telah meninjau langsung potensi lahan tersebut.
Panen semangka di Dompak menjadi bukti bahwa dengan kerja keras, inovasi pertanian, serta sinergi antara petani dan TNI, lahan rusak dapat dipulihkan dan kembali bernilai. Dari tanah yang pernah terluka, kini tumbuh buah-buah kehidupan yang menghidupi petani dan menumbuhkan harapan masa depan. (adi)

