Divianews.com | Palembang – Transformasi digital di sektor sistem pembayaran semakin memperkuat perannya sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan di Sumatera Selatan. Melalui perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), digitalisasi UMKM, hingga elektronifikasi transaksi pemerintah daerah, Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Selatan terus mendorong terciptanya ekosistem ekonomi yang lebih modern, efisien, dan merata.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan, Bambang Pramono, menegaskan bahwa digitalisasi sistem pembayaran bukan sekadar perubahan dari transaksi tunai ke non-tunai, melainkan instrumen strategis yang mampu mempercepat aktivitas ekonomi daerah dan memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan, Bambang Pramono

“Digitalisasi sistem pembayaran merupakan katalis pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui pemanfaatan QRIS, mobile banking, dompet digital, dan berbagai instrumen pembayaran elektronik lainnya, transaksi menjadi lebih cepat, aman, efisien, dan mampu memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal,” ujar Bambang di Palembang, kepada divianews.com, jum’at(19/6/2026).

Menurutnya, semakin luas adopsi transaksi digital akan mempercepat perputaran uang di masyarakat, meningkatkan efisiensi usaha, serta membuka peluang yang lebih besar bagi masyarakat untuk menikmati manfaat pembangunan ekonomi.

Di Sumatera Selatan, pengembangan digitalisasi pembayaran sejalan dengan karakteristik ekonomi daerah yang ditopang oleh sektor perdagangan, pertanian, perkebunan, industri pengolahan, hingga pariwisata. Karena itu, BI Sumsel terus memperluas penggunaan QRIS di berbagai sektor, mulai dari UMKM, pasar tradisional, pusat perbelanjaan, rumah makan, kawasan wisata hingga transportasi.

“QRIS memudahkan masyarakat melakukan pembayaran menggunakan berbagai aplikasi hanya dengan satu kode QR. Ini membuat transaksi lebih praktis dan efisien, baik bagi konsumen maupun pelaku usaha,” kata Bambang.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Berdasarkan data Bank Indonesia Sumatera Selatan, sepanjang 2025 nilai transaksi QRIS mencapai Rp3,4 triliun, tumbuh 117,89 persen secara tahunan (year on year) dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut melampaui target yang telah ditetapkan dan menjadi indikator meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital.

Tren positif itu berlanjut pada 2026. Hingga Maret 2026, nilai transaksi QRIS di Sumatera Selatan tercatat mencapai Rp2,97 triliun, atau tumbuh 46,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan ini menunjukkan masyarakat semakin menerima transaksi digital. Namun ruang untuk memperluas penggunaan QRIS masih sangat besar sehingga edukasi dan perluasan akseptasi akan terus kami lakukan,” ujar Bambang.

Pakai membuat transaksi lebih praktis dan efisien, baik bagi konsumen maupun pelaku usaha. Foto dok BI

Penguatan ekosistem digital juga tercermin dari meningkatnya jumlah merchant QRIS yang kini mencapai 1,15 juta merchant di seluruh Sumatera Selatan. Angka tersebut menjadi fondasi penting dalam memperluas inklusi keuangan sekaligus mempercepat transformasi ekonomi digital di daerah.

Selain memperluas penggunaan QRIS, BI Sumsel juga aktif melakukan pendampingan UMKM melalui pelatihan pembayaran digital, pencatatan keuangan elektronik, edukasi pemasaran digital, hingga fasilitasi promosi produk melalui berbagai pameran dan festival. Program ini bertujuan meningkatkan daya saing pelaku usaha agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat ekonomi daerah dari sektor akar rumput.

Sebagai bagian dari penguatan ekonomi digital, BI Sumsel bersinergi dengan pemerintah daerah melalui penyelenggaraan Gemilang Palembang Raya (GPR) dan Digital Kito Galo (DKG) ke-7 Tahun 2026 yang akan berlangsung pada 25–28 Juni 2026 di Plaza Benteng Kuto Besak (BKB), Palembang.

Kegiatan tersebut akan menghadirkan Digital Expo, Festival Kuliner Nusantara, pameran UMKM, edukasi QRIS, kompetisi kreatif, talkshow, hingga hiburan masyarakat. Untuk mendukung mobilitas pengunjung, pemerintah juga menyediakan promo tarif LRT Sumsel sebesar Rp43 selama kegiatan berlangsung.

Pemerintah Kota Palembang menyambut baik sinergi tersebut. Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Palembang, Isnaini Mardani, menilai kolaborasi antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah menjadi langkah strategis dalam mempercepat transformasi digital di berbagai sektor.

“Kolaborasi ini sangat strategis untuk mendorong penggunaan transaksi digital, khususnya pada sektor UMKM, perdagangan, kuliner, pariwisata hingga pelayanan publik,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, M. Irman, berharap pengembangan ekonomi digital mampu memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan sektor pariwisata dan pelaku usaha lokal.

“Kami berharap kegiatan ini mampu menjadi daya tarik wisata sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM dan masyarakat,” katanya.

Dukungan terhadap digitalisasi juga datang dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Gubernur Sumsel, Herman Deru, menilai transformasi digital telah menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan daya saing daerah di tengah perkembangan ekonomi modern.

“Digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi menjadi kebutuhan untuk memperkuat daya saing daerah,” kata Herman Deru.

Ia menambahkan, implementasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) melalui Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) telah mendorong transparansi, efisiensi, serta akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan daerah.

Manfaat digitalisasi pembayaran juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah satunya Suwarno, pedagang buah keliling asal Silaberanti, Palembang, yang kini mengandalkan QRIS dalam transaksi sehari-hari.

“Sekarang pelanggan lebih mudah berbelanja karena bisa langsung membayar menggunakan QRIS. Saya juga tidak perlu repot menyiapkan uang kembalian, sementara semua transaksi tercatat dengan rapi,” ungkapnya.

Menurut Suwarno, kemudahan pembayaran digital tidak hanya meningkatkan kenyamanan pelanggan, tetapi juga berpotensi mendorong peningkatan penjualan karena transaksi dapat dilakukan kapan saja tanpa bergantung pada ketersediaan uang tunai.

Sebagai catatan, Perjalanan digitalisasi sistem pembayaran di Sumatera Selatan sendiri berkembang pesat sejak implementasi QRIS secara nasional pada 2020. Momentum tersebut semakin menguat setelah pandemi COVID-19 yang mendorong masyarakat dan pelaku usaha beralih ke transaksi digital.

Sejak 2023, penggunaan QRIS terus meningkat dan telah merambah berbagai sektor, mulai dari UMKM, pasar tradisional, transportasi, pendidikan, kesehatan, tempat ibadah, hingga pembayaran pajak dan retribusi daerah. Pada 2025, jumlah pengguna QRIS di Sumatera Selatan mencapai sekitar 1,48 juta orang, sementara nilai transaksi tumbuh lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Memasuki 2026, inovasi pembayaran digital kembali diperkuat melalui kehadiran QRIS Tap berbasis teknologi Near Field Communication (NFC) yang mulai diperkenalkan di Palembang. Teknologi ini memungkinkan transaksi dilakukan cukup dengan menempelkan ponsel ke perangkat pembayaran sehingga proses menjadi lebih cepat, praktis, dan efisien.

Meski demikian, pengembangan digitalisasi pembayaran masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur internet di beberapa wilayah, rendahnya literasi digital dan keuangan, kebiasaan masyarakat menggunakan uang tunai, serta potensi risiko kejahatan siber.

Menanggapi hal tersebut, BI Sumsel terus memperkuat edukasi kepada masyarakat terkait keamanan transaksi digital dan perlindungan konsumen.

“Tentunya kami tidak hanya mendorong penggunaan teknologi pembayaran digital, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai keamanan transaksi, perlindungan konsumen, serta pencegahan berbagai bentuk penipuan digital agar masyarakat semakin percaya dan nyaman bertransaksi secara elektronik,” tegas Bambang.

Sementara itu di masa mendatang , Bank Indonesia Sumatera Selatan menargetkan penguatan transaksi non-tunai, perluasan inklusi keuangan, percepatan digitalisasi UMKM, serta peningkatan literasi digital masyarakat.  Melalui berbagai capaian dan dukungan lintas sektor tersebut, Sumatera Selatan dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat transformasi ekonomi yang lebih inklusif, efisien, dan berkelanjutan di era ekonomi digital.

Penulis: Adi Asmara. Editor: Nia Agustina