Gelar Forum BERSUA, BI Sumatera Selatan Paparkan Kondisi Ekonomi
Divianews.com | Palembang – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Selatan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan menggelar Forum BERSUA (Berjejaring dan Bersinergi untuk Akselerasi) sebagai upaya memperkuat koordinasi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Kegiatan yang berlangsung di Kantor BI Sumsel, rabu (10/06) malam tersebut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), instansi vertikal, perbankan, serta media massa regional. Forum ini menjadi wadah penyampaian informasi ekonomi terkini sekaligus ruang dialog untuk menyamakan persepsi dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan nasional yang semakin kompleks.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, mengatakan perekonomian Indonesia maupun Sumatera Selatan masih menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah berbagai tantangan global.
“Kami optimistis dan akan all out memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk mendukung upaya stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Bambang saat membuka kegiatan.
Dalam paparannya, Bambang menjelaskan bahwa Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus meningkatkan daya tarik investasi asing ke Indonesia.
Menurutnya, kebijakan tersebut ditempuh dengan sejumlah langkah strategis. Pertama, meningkatkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk tenor enam, sembilan, dan 12 bulan guna menjaga daya saing investasi portofolio Indonesia dibandingkan negara lain.
Kedua, memberikan insentif berupa penurunan tingkat hedging swap sebesar 10 persen bagi investor asing untuk meningkatkan minat investasi dan mengurangi beban biaya yang selama ini ditanggung investor.
Ketiga, membuka kembali lelang instrumen repurchase agreement (repo) dengan tenor tiga hingga 12 bulan bagi perbankan. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan sehingga pertumbuhan Uang Primer (M0) tetap berada pada level dua digit.
Keempat, meningkatkan intensitas operasi moneter baik dalam rupiah maupun valuta asing. Penguatan operasi moneter rupiah dilakukan melalui pelaksanaan lelang SRBI dua kali dalam sepekan, sementara stabilisasi pasar valuta asing ditempuh melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan Non-Deliverable Forward (NDF).
Selain memaparkan arah kebijakan moneter, Bambang juga menyampaikan perkembangan ekonomi Sumatera Selatan yang masih menunjukkan tren positif. Pada triwulan I 2026, ekonomi Sumsel tercatat tumbuh 5,34 persen (year on year/yoy). Sementara itu, inflasi tetap terjaga dalam sasaran nasional.
Dari sisi sektor keuangan, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada triwulan II 2026 mencapai 7,03 persen (yoy), sedangkan pertumbuhan kredit mencapai 10,54 persen (yoy). Kinerja digitalisasi sistem pembayaran di Sumatera Selatan juga terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
“Ekonomi Sumatera Selatan diproyeksikan tumbuh pada kisaran 5,00 hingga 5,80 persen sepanjang 2026 dengan inflasi tetap berada dalam rentang sasaran 2,5 persen ±1 persen,” kata Bambang.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BPS Provinsi Sumatera Selatan, M. Wahyu Yulianto, memaparkan perkembangan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Ia menegaskan bahwa sensus tersebut menjadi instrumen penting untuk menyediakan data dasar yang komprehensif mengenai aktivitas ekonomi nasional maupun daerah.
“Data yang dihasilkan nantinya diharapkan dapat menjadi landasan yang kuat dalam penyusunan kebijakan dan perencanaan pembangunan nasional maupun daerah,” ujar Wahyu.
Melalui Forum BERSUA, BI Sumsel juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat komunikasi kebijakan dengan seluruh mitra strategis di daerah. Kesamaan pemahaman dinilai penting guna menjaga optimisme, memperkuat arah kebijakan, serta mendukung pengambilan keputusan yang tepat oleh para pemangku kepentingan.
Forum tersebut tidak hanya menjadi sarana diseminasi informasi ekonomi, tetapi juga ruang diskusi interaktif yang mempertemukan pemerintah, dunia usaha, perbankan, dan media untuk bertukar pandangan mengenai berbagai isu strategis yang memengaruhi perekonomian Sumatera Selatan.
Ke depan, BI Sumsel berharap sinergi dan kolaborasi antar lembaga, pemangku kepentingan, serta media massa dapat terus diperkuat guna menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. (adi)
