”Di balik status Penglipuran desa terbersih di dunia, pergerakan ekonomi warga lokal bergantung dan erat dengan denyut pariwisata”

Divianews.com | Bali — Di Desa Wisata Penglipuran, salah satu permata destinasi wisata Pulau Dewata, budaya tak hanya hidup dalam arsitektur tata ruang Tri Mandala dan tradisi luhur yang diturunkan antar-generasi. Budaya di sini juga hadir dalam balutan kepedulian, keramahan, serta kesadaran masyarakatnya untuk menjaga Bali tetap menjadi rumah yang aman dan nyaman bagi siapa saja yang datang.

Di balik status Penglipuran sebagai salah satu desa terbersih di dunia, denyut ekonomi warga lokal bergantung dan erat dengan denyut pariwisatanya. Salah satu potret ketangguhan itu terlihat di Etalase 21.

Kisah Ibu Nengah Sarini: Dari Modal Rp500 Ribu hingga Beromzet Puluhan Juta

Di balik bilik Etalase 21, Ni Nengah Sarini (53, selasa (22/07/2026) terlihat telaten membenahi lipatan kain kamen dan udeng. Dengan sabar, ia dengan penuh keceriaan dan penuh kehangatan ia membantu sang suami yang merupakan seorang pensiunan, ikut melayani para wisatawan baik lokal maupun wisman yang ingin menyewa pakaian adat Bali di etalasenya.

Perjalanan Sarini menggerakkan ekonomi keluarga tidaklah instan. Sebelum bergelut di bisnis persewaan pakaian adat sejak 2020, ia sempat melanglang buana mencoba berbagai peluang usaha, mulai dari membuka warung sembako hingga bisnis lainnya yang sempat berujung pada sebuah kegagalan. Namun, kegagalan tak membuatnya putus asa dan kuat untuk bangkit.

Berbekal modal awal sebesar Rp500.000, Sarini memberanikan diri membuka usaha sewa pakaian adat dan aneka souvenir khas Bali. Berkat ketekunan, kesabaran, dan keramahan dalam melayani setiap tamu, kini usahanya mampu meraup omzet hingga puluhan juta per bulan. Dari hasil usaha inilah pula ia mampu membesarkan dan membiayai pendidikan anak-anaknya.

“Banyak tamu yang datang dan pergi dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda. Namun buat saya, senyuman dan pelayanan sabar adalah kunci. Kami ingin setiap orang yang datang merasa dihormati, dan berkesan setelah ia pergi dari sini,” tutur Ni Nengah Sarini.

Pasangan suami istri asal Korea Selatan, Ji-hoon dan Hye-jin, yang tertarik pada kebudayaan Bali. Foto: Adi Asmara / divianews.com

Meski kental dengan nuansa tradisional dan konsep pedesaan, Etalase 21 milik Sarini telah mengadopsi sistem transaksi modern berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Kehadiran metode pembayaran digital karya anak bangsa ini memberikan kemudahan dan rasa aman bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, menghadirkan sentuhan modernisasi dan mewah di tengah keasrian desa.

Keramahan Tanpa Batas Bahasa

Kehangatan pelayanan warga Penglipuran dirasakan langsung oleh pasangan suami istri asal Korea Selatan, Ji-hoon dan Hye-jin, yang sengaja berkunjung karena tertarik pada kebudayaan Bali. Saat menyewa pakaian adat di Etalase 21, mereka mengaku tersentuh oleh kehangatan Ni Nengah Sarini.

“Saya merasa berbeda, seperti berada di rumah sendiri saat berkomunikasi dengan Ibu Sarini. Ia sangat sabar meski kami memiliki keterbatasan bahasa dan perbedaan budaya. Ini patut kami apresiasi. Budaya Bali benar-benar menjadi magnet luar biasa yang membuat siapa pun tertegun,” ungkap Ji-hoon.

Menurutnya dengan mengedapankan konsef desa dan terbersih ini, tentu membuat Desa Panglipuran berbeda dengan daerah lain, inilah pula yang membuat orang baik domestik maupun dari luar kepincut untuk datang secara langsung .

Perspektif Media: Komitmen Basar Masyarakat Menjaga Bali

Menanggapi fenomena keberhasilan pariwisata berbasis budaya tepatnya di Desa Panglipuran Bali, Adi Asmara,  seorang jurnalis media divianews.com, memberikan pandangan mendalam mengenai alasan mengapa desa Panglipuran dan budaya Pulau Dewata begitu mendunia.

“Keindahan Bali tidak lahir begitu saja secara kebetulan. Keindahan itu lahir dari harmoni antara tradisi dan alam yang saling mendukung serta menguatkan. Yang paling krusial adalah dukungan penuh dan komitmen besar  dari masyarakat Bali sendiri dalam menjaga pulau ini tetap aman, bersih, dan nyaman bagi wisatawan. Masyarakat sadar betul bahwa dari pariwisatalah keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan mereka tercipta,” jelas Adi Asmara.

Menurut Adi, desa Panglipuran adalah kiblat desa-desa lain di Indonesia, kalau semua sadar itu merupakan potensi dan masyarakatnya menjaga keamanan dan kenyamanan, maka ini menjadi potensi mendatangkan wisata, kolaborasi baik pemerintah dan aparat keamanan juga berdampak terhadap keinginan wisatawan untuk datang, dan kalau itu terjadi dampaknya akan terasa kepada kesejahteraan masyarakat.

“ Saya melihat setiap daerah memiliki lokasi wisata, termasuk Kota Palembang, namun ini tentu perlu tekad yang kuat dari semua pihak serta kesadaran bahwa ketika wisatawan datang maka akan ada geliat semua sektor, yang berdampak luas terutama dampak ekonomi dan kesejahteraan,” tambah Adi.

Mengadopsi Spirit Desa Penglipuran di Bumi Sriwijaya

Keberhasilan Desa Penglipuran dalam memadukan pelestarian budaya, kebersihan lingkungan, dan komersialisasi pariwisata yang tertata rapi menjadi gambaran ideal yang sangat mungkin diadaptasi oleh daerah lain, salah satunya Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Palembang memiliki kekayaan sejarah dan alam yang tak kalah megah serta menarik, seperti Kampung Arab Al-Munawar dan Kampung Kapitan, serta pelataran pasar 16 Palembang yang berdiri berdampingan dengan bentang Sungai Musi serta lanskap ikonik Jembatan Ampera.

Rekomendasi Pengembangan Wisata Berbasis Desa/Kampung Budaya di Palembang:

  • Edukasi dan Sadar Wisata Berbasis Komunitas (Community-Based Tourism):

Mendorong masyarakat Kampung Arab, Kampung Kapitan dan pelataran tepian pasar 16 Palembang untuk berperan aktif sebagai tuan rumah yang ramah, menjaga kebersihan lingkungan secara mandiri, dan mempertahankan kelestarian arsitektur bersejarah.

  • Standardisasi Layanan dan Fasilitas Usaha Lokal:

Mengembangkan sarana persewaan busana adat khas Palembang (seperti Aesan Gede atau kain Songket) dan pengembangan aneka ragam souvenir menarik khas daerah yang dikelola warga lokal berbasis digitalisasi pembayaran (QRIS) untuk memudahkan wisatawan. Dan menciptakan suasana terintegrasi, aman, nyaman, serta bersih.

  • Integrasi Narasi Sejarah dan Wisata Edukasi:

Menyediakan pemandu wisata lokal yang terlatih untuk menceritakan sejarah kampung tematik secara mendalam, dipadukan dengan paket wisata jelajah Sungai Musi dan kuliner khas dengan tetap mengedepankan keamanan dan kenyamanan.

  • Konsep Lingkungan Hijau dan Bebas Kendaraan:

Meniru konsep zonasi Desa Penglipuran dengan menetapkan area inti kawasan bersejarah sebagai kawasan ramah pejalan kaki (pedestrian zone) yang bersih dari sampah dan polusi kendaraan.

Proyeksi Perbandingan Kunjungan Wisata (Model Adaptasi 2026)

Penerapan konsep desa wisata berbasis alam dan sentuhan teknologi modern dapat memberikan dorongan signifikan terhadap tingkat kunjungan wisatawan:

Sejarah dan Pesona Desa Penglipuran

Secara historis, nama Penglipuran berasal dari kata “Pengeling Canthi” yang bermakna “tempat untuk mengingat para leluhur” atau “Pangling” dan “Eling” (mengingat tempat asal). Desa adat yang terletak di Kecamatan Bangli ini didirikan oleh masyarakat asal Desa Bayung Gede yang berimigrasi dan tetap membawa tatanan adat luhur mereka.

Desa Penglipuran terkenal di tingkat dunia karena tetap konsisten memegang teguh filosofi Tri Hita Karana—keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Tata ruang desa terbagi secara rapi ke dalam tiga zona (Tri Mandala):

  • Utama Mandala: Tempat suci/pura untuk bersembahyang.
  • Madya Mandala: Pemukiman warga yang berjejer simetris dengan pintu masuk (angkul-angkul) berseragam.
  • Nista Mandala: Area pemakaman dan lahan perkebunan/hutan bambu pelindung desa.

Pemberlakuan aturan adat yang tegas terhadap kebersihan lingkungan, larangan membuang sampah sembarangan, serta komitmen warga untuk bersikap ramah menjadikan Penglipuran tak sekadar destinasi foto, melainkan ruang hidup yang aman, nyaman, dan memberikan ketenangan batin bagi setiap pengunjung yang datang.

Penulis : Adi Asmara, Editor: Eka Agustia