Enam hari pembinaan bukan sekadar rutinitas awal memasuki dunia perguruan tinggi, tetapi menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai dasar yang diharapkan terus dibawa mahasiswa dalam kehidupan akademik maupun bermasyarakat.

Divianews.com | Palembang — Pendidikan tinggi tidak hanya tentang seberapa tinggi nilai akademik yang diraih mahasiswa. Di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, tantangan pergaulan yang kian kompleks, serta tuntutan untuk mampu beradaptasi dengan dunia kerja dan kehidupan sosial, mahasiswa juga membutuhkan karakter yang kuat. Disiplin, tanggung jawab, empati, sikap hormat, integritas, serta kemampuan bekerja sama menjadi bekal yang tidak kalah penting dari pengetahuan di ruang kuliah.

Dalam konteks itulah Pendidikan Dasar Kedisiplinan (Diksarlin) masih menemukan relevansinya bagi mahasiswa baru. Enam hari mengikuti pembinaan bukan sekadar rutinitas awal memasuki dunia perguruan tinggi, tetapi menjadi ruang untuk menanamkan nilai-nilai dasar yang diharapkan terus dibawa mahasiswa dalam kehidupan akademik maupun bermasyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam penutupan Diksarlin Gelombang II Mahasiswa Baru Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) Tahun Akademik 2026/2027 di Jasdam II/Sriwijaya, Sabtu (8/8/2026). Sekitar 2.000 mahasiswa baru mengikuti kegiatan yang berlangsung selama enam hari tersebut.

Selama pelaksanaan, peserta mendapatkan pembinaan yang mencakup karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, jiwa korsa, nasionalisme, dan semangat kebersamaan. Nilai-nilai itu diharapkan menjadi fondasi bagi mahasiswa untuk menjalani kehidupan kampus sekaligus membentuk pribadi yang bertanggung jawab.

Direktur Polsri, Ir. Irawan Rusnandi, M.T., menegaskan bahwa pembinaan tidak boleh berhenti bersamaan dengan berakhirnya kegiatan. Menurut dia, keberhasilan Diksarlin justru ditentukan oleh sejauh mana nilai yang ditanamkan dapat diterapkan setelah mahasiswa kembali ke lingkungan perkuliahan dan kehidupan sehari-hari.

“Nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, integritas, kerja sama, serta semangat pantang menyerah yang telah ditanamkan oleh para pelatih yang memang ahli dibidangnya selama mengikuti Diksarlin jangan berhenti setelah kegiatan berakhir, tetapi harus menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan akademik maupun kehidupan bermasyarakat,” ucap Irawan.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa Diksarlin tidak ditempatkan semata sebagai kegiatan pembentukan kedisiplinan secara fisik. Di dalamnya terdapat upaya membangun kebiasaan dan sikap yang diperlukan mahasiswa ketika menghadapi tuntutan akademik, organisasi, pekerjaan, hingga kehidupan sosial.

Membangun Karakter dari Hal-Hal Sederhana

Asisten Teritorial Kodam II/Sriwijaya, Kolonel Inf Kusnandar Hidayat, S.Sos., yang mewakili Pangdam II/Sriwijaya dalam penutupan, menempatkan kedisiplinan sebagai salah satu fondasi keberhasilan seseorang.

Menurutnya, karakter tidak lahir secara instan. Kedisiplinan justru dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

“Tanpa kedisiplinan, kita tidak bisa menjadi orang yang hebat dan berhasil. Kedisiplinan itu dimulai dari hal-hal dasar seperti bangun pagi, disiplin belajar, ibadah, serta menghormati orang tua dan guru,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi penting bagi mahasiswa baru yang tengah memasuki fase kehidupan berbeda. Jika sebelumnya banyak keputusan masih berada dalam pengawasan keluarga dan lingkungan sekolah, perguruan tinggi menuntut mahasiswa memiliki kemampuan mengatur diri sendiri.

Disiplin belajar, menghargai waktu, menjalankan tanggung jawab, menghormati orang lain, serta mampu bekerja dalam kelompok merupakan kebiasaan yang akan menentukan bagaimana mahasiswa menjalani proses pendidikan dan kehidupan sosialnya.

Karakter tangguh juga tidak lahir hanya dari kemampuan menghadapi tekanan. Sikap pantang menyerah, kemampuan bekerja sama, integritas, serta kesediaan menghargai orang lain menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi yang matang.

Dalam konteks kehidupan mahasiswa, sikap hormat pun tidak sebatas hubungan antara junior dan senior. Penghormatan semestinya tumbuh menjadi sikap menghargai orang lain, termasuk dosen, tenaga kependidikan, teman sebaya, senior, masyarakat, dan keluarga. Dari sana, empati dan akhlak yang baik dapat berkembang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Enam Hari, Tantangan Setelahnya Jauh Lebih Panjang

Kusnandar mengingatkan, waktu enam hari merupakan periode yang relatif singkat. Karena itu, pembentukan karakter tidak dapat berhenti ketika rangkaian Diksarlin selesai.

Ia berharap bibit kedisiplinan yang telah ditanamkan selama pelatihan dapat dipelihara dan diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari, termasuk ketika mahasiswa menjalani perkuliahan.

Harapan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi peserta. Lapangan pelatihan boleh berakhir, tetapi kehidupan kampus justru baru dimulai. Di ruang kuliah, organisasi kemahasiswaan, laboratorium, maupun lingkungan sosial, mahasiswa akan berhadapan dengan persoalan yang menuntut kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan mengambil keputusan, dan kematangan sikap.

Karena itu, keberhasilan Diksarlin tidak semestinya diukur hanya dari terlaksananya kegiatan atau berakhirnya upacara penutupan. Ukuran yang lebih penting adalah bagaimana nilai yang diperoleh menjadi kebiasaan yang melekat dalam diri mahasiswa.

Teknologi Maju, Karakter Harus Mengimbangi

Tantangan generasi muda juga semakin kompleks seiring perkembangan teknologi informasi. Dunia yang semakin terkoneksi memberikan kesempatan besar untuk belajar, berkolaborasi, dan menghasilkan karya. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko apabila tidak disertai kemampuan mengendalikan diri dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Kusnandar menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi dengan karakter yang kuat dan nasionalisme.

“Teknologi membuat dunia tanpa batas. Namun, tanpa jiwa disiplin dan nasionalisme yang kuat, kecanggihan teknologi justru bisa membawa dampak negatif. Oleh karena itu, benteng diri melalui karakter yang kuat dan pendekatan keagamaan sangat penting,” tegasnya.

Pesan itu menempatkan pendidikan karakter sebagai kebutuhan yang tetap relevan di tengah perubahan zaman. Semakin besar akses seseorang terhadap informasi dan teknologi, semakin besar pula kebutuhan untuk memiliki kemampuan menyaring, mengendalikan diri, serta menentukan mana yang bermanfaat dan mana yang dapat merugikan.

Bagi mahasiswa baru, kemampuan tersebut akan menjadi bagian dari proses pendewasaan. Pengetahuan akademik memberi mereka kemampuan untuk memahami persoalan, sementara karakter membantu menentukan bagaimana pengetahuan itu digunakan.

Dari Diksarlin Menuju Prestasi

Penutupan Diksarlin juga menjadi momentum bagi Polsri untuk menyampaikan capaian yang telah diraih di tingkat nasional. Irawan mengungkapkan, Polsri berhasil meraih Juara 2 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Terapan melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan.

“Tadi malam telah dilaksanakan proses pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional yang diikuti oleh seluruh perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Terapan melalui Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan. Alhamdulillah, Polsri mendapatkan Juara 2,” ungkap Irawan.

Prestasi tersebut kemudian disusul capaian pada Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Mahasiswa Politeknik se-Indonesia yang digelar di Politeknik Negeri Medan. Dalam ajang yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai politeknik negeri dan swasta di Indonesia itu, Polsri berhasil meraih predikat Juara Umum.

Bagi mahasiswa baru, capaian tersebut dapat menjadi gambaran bahwa kehidupan perguruan tinggi menyediakan ruang yang luas untuk berkembang. Prestasi tidak hanya lahir dari kemampuan akademik, tetapi juga dari kedisiplinan, kerja keras, keberanian mengembangkan potensi, kemampuan berkolaborasi, dan ketangguhan menghadapi proses.

Irawan menegaskan, capaian tersebut sekaligus membawa tanggung jawab bagi seluruh sivitas akademika untuk mempertahankan dan meningkatkan prestasi.

“Tentu ini menjadi tanggung jawab kalian ke depan, bagaimana mempertahankan prestasi-prestasi yang pada saat ini telah kita dapatkan,” tegasnya.

Pesan itu juga diarahkan kepada mahasiswa baru agar tidak sekadar menjadi penonton atas prestasi yang telah diraih almamater. Mereka diharapkan mampu mengambil bagian dengan mengembangkan potensi masing-masing, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.

Diksarlin Berakhir, Pembentukan Karakter Baru Dimulai

Penutupan Diksarlin Gelombang II memang menandai berakhirnya rangkaian pembinaan selama enam hari. Namun, bagi sekitar 2.000 mahasiswa baru Polsri, momentum tersebut seharusnya menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang.

Disiplin harus terlihat dalam cara menghargai waktu. Tanggung jawab tercermin dari kesungguhan menyelesaikan kewajiban. Integritas tampak ketika seseorang tetap memegang prinsip meski tidak diawasi. Empati tumbuh melalui kepedulian terhadap orang lain. Sikap hormat diwujudkan melalui perilaku yang menghargai sesama. Sementara ketangguhan dibuktikan dengan kemampuan bangkit ketika menghadapi kegagalan dan tantangan.

Nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya dipahami sebagai materi pembinaan. Ia harus hadir dalam kebiasaan dan tindakan sehari-hari.

Kusnandar pun berpesan agar mahasiswa menjaga kekompakan, nama baik diri, keluarga, dan almamater, serta tidak mudah menyerah menghadapi berbagai tantangan demi mewujudkan cita-cita bangsa.

Pada akhirnya, relevansi Diksarlin tidak terletak pada berapa lama mahasiswa berada di lapangan, melainkan pada seberapa lama nilai yang diperoleh bertahan dalam diri mereka. Enam hari mungkin singkat, tetapi karakter yang dibangun dari disiplin, tanggung jawab, rasa hormat, empati, integritas, nasionalisme, dan akhlak yang baik dapat menjadi bekal jauh lebih panjang.

Bagi generasi yang diproyeksikan menjadi bagian dari Indonesia Emas 2045, pendidikan karakter bukan sekadar pelengkap. Ia adalah fondasi agar kecerdasan, keterampilan, dan kemajuan teknologi berjalan searah dengan tanggung jawab, kemanusiaan, dan kepentingan bersama.

Penulis: Adi. Editor: Chaca