Divianews.com | Palembang — Jalan Asia, Kelurahan Plaju Ulu, Kecamatan Plaju kini tampak ciamik. Di pemukiman yang menjadi sentra produksi tempe tertua di Kota Palembang ini, dulunya tak lepas dari berbagai masalah sosial yang dihadapi masyarakatnya, yang menciptakan jurang pemisah antara masyarakat yang memproduksi tempe dan yang berprofesi lain.

Dulu, penumpukan sampah padat tempe di pemukiman ini mencapai 54 ton/tahun. Bau aroma tak sedap menyeruak berkat pencemaran drainase oleh limbah industri tempe, yang limbah cairnya mencapai hingga 7 juta liter/tahun.

Isu higienitas selama proses pembuatan pun tak lepas dari perhatian. Kampung penduduk yang padat, dan minimnya lahan terbuka hijau, berdampak pada kurang maksimalnya produksi yang juga berdampak pada menurunnya penghasilan.

Namun, di kampung itu ada Pak Junaidi (42), sosok local hero yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Bersama para perajin lainnya, Junaidi aktif menggerakkan paguyuban tempe. Pria kelahiran Palembang, 3 Desember 1973 ini sejak lahir sudah besar dan menetap di Jalan Asia, RT 06/RW 02, Kelurahan Plaju, dan kini memimpin RT tempat ia tinggal.

Kehadiran Pertamina Berikan Warna

“Selama ini, perajin kami hanya memikirkan bagaimana cara memproduksi tempe dan berjualan, mana terpikir oleh kami soal lingkungan yang kena limbah pemrosesan tempe,” begitu ujarnya.

Pada 2021 lalu, isu lingkungan ini mengundang PT Kilang Pertamina Internasional (PT KPI) Refinery Unit III Plaju (Kilang Pertamina Plaju) yang tak jauh dari kampung tempe itu.

Lewat Program Corporate Social Responsibility (CSR) Kampung Pangan Inovatif, Kilang Pertamina Plaju menggandeng Pak Junaidi, untuk memberikan contoh dengan pemasangan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Ia juga mengajak masyarakat merevitalisasi saluran air/drainase, serta menggelar kampanye pemilahan sampah.

Kesan kampung tempe di Jalan Asia yang dulu terkenal amat kumuh, bersama sentuhan Kilang Pertamina Plaju yang menggandeng Pak Junaidi sebagai local hero, perlahan berubah. Lurah Plaju Ulu, Davy Anggreana, mengaku sangat terbantu dengan peran proaktif Pak Junaidi dalam menyolek kampung tempe.

“Kampung tempe itu dulunya sangat kumuh, apalagi warganya sibuk dan individualis. Saya sangat terbantu untuk masuk dan membangun warga dengan adanya Pak Junaidi di Kelurahan Plaju Ulu,” kata Davy. (adi)