Fokus Melindungi, Korem 044/Gapo-BKSDA Sumsel Perkuat Sinergi Konservasi Gajah Sumatera
Divianews.com | Palembang – Upaya pelestarian Gajah Sumatera di Provinsi Sumatera Selatan terus diperkuat melalui sinergi lintas sektor. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan bersama Korem 044/Garuda Dempo menggelar Sosialisasi Konservasi Gajah Sumatera bertema “Satu Langkah Bersama untuk Gajah Sumatera” di Aula Makorem 044/Garuda Dempo, Selasa (4/8).
Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman dan kepedulian seluruh pemangku kepentingan terhadap pentingnya menjaga populasi dan habitat Gajah Sumatera, khususnya di kawasan Sugihan–Simpang Heran yang menjadi kantong habitat terbesar di Sumatera Selatan.
Mewakili Danrem 044/Garuda Dempo, Kepala Staf Korem (Kasrem) Kolonel Inf Andi Gus Wulandri menegaskan bahwa pelestarian Gajah Sumatera tidak dapat dilakukan oleh satu pihak, melainkan membutuhkan komitmen dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.

“Pelestarian Gajah Sumatera tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan langkah bersama, komitmen bersama, dan tanggung jawab bersama. Karena itu kami menyambut baik kegiatan yang diinisiasi BKSDA Sumatera Selatan sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan kepedulian terhadap konservasi Gajah Sumatera,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan satwa endemik Indonesia yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Namun, keberadaannya kini menghadapi ancaman serius akibat penyusutan dan fragmentasi habitat, alih fungsi lahan, konflik manusia dengan gajah, perburuan liar, hingga kerusakan lingkungan.
“Populasi Gajah Sumatera terus mengalami penurunan di alam. Bahkan saat ini statusnya sudah kritis (Critically Endangered), sehingga memerlukan perhatian dan tindakan nyata dari seluruh pihak,” kata Andi.
Menurutnya, kawasan Sugihan–Simpang Heran menjadi salah satu wilayah prioritas konservasi karena memiliki nilai ekologis yang tinggi sebagai habitat alami Gajah Sumatera di Sumatera Selatan.
Kasrem juga menekankan pentingnya peran Babinsa sebagai aparat teritorial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Melalui komunikasi sosial dan pendekatan persuasif, Babinsa diharapkan mampu menjadi mitra strategis BKSDA dalam menyampaikan edukasi konservasi serta membantu mitigasi konflik antara manusia dan gajah.
“Saya berharap para Babinsa dapat menjadi mitra strategis BKSDA Sumatera Selatan dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat, meningkatkan kesadaran menjaga habitat satwa liar, serta membantu upaya mitigasi konflik antara manusia dan gajah melalui pendekatan yang humanis, persuasif, dan edukatif,” tegasnya.
Ia menambahkan, menjaga kelestarian Gajah Sumatera bukan sekadar menyelamatkan satu spesies satwa, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem hutan dan mewariskan lingkungan yang sehat bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Kepala BKSDA Sumatera Selatan Daniwari Widiyanyo mengatakan pihaknya terus memperkuat kolaborasi dengan Korem 044/Garuda Dempo dalam mendukung konservasi Gajah Sumatera melalui peningkatan kapasitas aparat dan masyarakat yang berada di sekitar habitat satwa tersebut.
Pada tahap awal, sosialisasi difokuskan kepada sekitar 60 hingga 65 kepala desa atau perwakilan desa yang berada di kawasan Kantong Habitat Gajah Sumatera Sugihan–Simpang Heran. Langkah tersebut dilakukan untuk menyamakan visi dan memperkuat peran seluruh pihak dalam menjaga habitat gajah di tingkat tapak.
“Gajah merupakan salah satu spesies prioritas yang dilindungi secara nasional maupun internasional. Karena itu diperlukan komitmen bersama agar upaya konservasi di lapangan dapat berjalan secara optimal,” ujar Daniwari.
Ia menjelaskan, penguatan konservasi kini juga didukung oleh terbitnya Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 tentang Kelangsungan Populasi dan Habitat Gajah Sumatera serta Gajah Kalimantan. Regulasi tersebut menjadi landasan dalam pengambilan kebijakan terkait pemanfaatan ruang dan pemberian izin di bentang alam habitat gajah.
Daniwari mengungkapkan, Sumatera Selatan saat ini memiliki enam kantong habitat Gajah Sumatera, yakni Sugihan–Simpang Heran, Mesuji, Saka Gunung Raya, Benakat Semangus, Meranti Harapan, dan Lalang Sembilang.
Dari enam kawasan tersebut, Sugihan–Simpang Heran merupakan kantong habitat terbesar dengan luas sekitar 632 ribu hektare dan populasi yang diperkirakan mencapai 142 ekor gajah.
Meski demikian, kawasan tersebut memiliki tantangan yang cukup kompleks karena mencakup Suaka Margasatwa Padang Sugihan, areal konsesi perusahaan, hingga permukiman masyarakat. Kondisi itu menyebabkan masih terjadinya interaksi negatif antara manusia dan gajah di sejumlah desa.
Melalui penguatan koordinasi antara BKSDA, TNI, pemerintah daerah, pemerintah desa, serta masyarakat, diharapkan upaya perlindungan habitat, mitigasi konflik satwa liar, dan pelestarian populasi Gajah Sumatera di Sumatera Selatan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Sosialisasi ini sekaligus menjadi momentum memperkuat komitmen bersama bahwa konservasi Gajah Sumatera merupakan tanggung jawab seluruh elemen bangsa demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia dan keberlanjutan ekosistem hutan.
