Divianews.com | Kalimantan Barat – Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I (Pangkogabwilhan I), Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, melakukan kunjungan kerja ke Markas Komando Taktis (Makotis) Satgas Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI–Malaysia Yonkav 3/AC di Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka Pengawasan dan Evaluasi Operasi (Wasevops) sekaligus untuk memberikan motivasi langsung kepada prajurit TNI yang tengah bertugas di wilayah perbatasan.

Letjen Kunto Arief didampingi oleh Ketua IKKT PWA Ny. Mia Kunto Arief Wibowo, Kaskogabwilhan I Laksda TNI Haris Bima, serta sejumlah pejabat Kogabwilhan I lainnya. Rombongan disambut langsung oleh Dansatgas Pamtas Yonkav 3/AC, Letkol Kav Alfid Dwi Arisanto, beserta jajaran unsur Forkopimcam Kecamatan Badau.

Dalam kesempatan tersebut, sebagai rangkaian kegiatan, Pangkogabwilhan I juga menyerahkan sebanyak 5.000 benih ikan belida kepada Satgas Pamtas untuk disebar di 15 kolam yang telah disiapkan di kawasan wisata binaan Kogabwilhan I. Program ini merupakan bagian dari upaya pelestarian spesies ikan air tawar langka serta pemberdayaan ekonomi masyarakat perbatasan.

“Ikan belida dulunya banyak ditemukan di Sungai Musi dan anak-anak sungainya serta sungai-sungai di Kalimantan. Sekarang populasinya terus menurun dan menjadi langka. Oleh karena itu, kegiatan ini kami inisiasi sebagai upaya pelestarian agar belida tetap ada,” ujar Letjen Kunto.

Jenderal Bintang Tiga yang memiliki latar belakang kedekatan dengan wilayah Sumatera Selatan karena masa kecilnya pernah tinggal dan pernah juga menjabat Danrem 044/Gapo ini juga menyampaikan, bahwa ikan belida merupakan spesies yang memiliki nilai ekologis, ekonomis, dan budaya tinggi. Ia mengungkapkan bahwa ikan belida kini terancam punah akibat kerusakan habitat dan eksploitasi berlebihan.

Sebagai contoh, di Palembang ikan belida dikenal sebagai bahan baku utama pempek dan kerupuk, sementara di Kalimantan, ikan ini digunakan dalam pembuatan amplang, makanan khas daerah setempat. Namun, kini keberadaan ikan tersebut semakin sulit ditemukan.

“Oleh karena itu, pelestarian ini dinilai sangat penting agar ikan legendaris ini bisa terus dinikmati oleh generasi mendatang,” tambahnya.

Inisiatif ini juga sejalan dengan visi Pangkogabwilhan I dalam mendukung pelestarian hayati dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat lokal berbasis lingkungan.

Diharapkan, kolam-kolam binaan di kawasan Semugang, Kapuas Hulu, dapat berkembang menjadi pusat pengembangbiakan ikan belida sekaligus destinasi wisata edukatif unggulan di wilayah perbatasan RI–Malaysia. (adi)