Divianews.com | Palembang – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan perbankan dalam memperkuat investasi demi meningkatkan ketahanan ekonomi Sumatera Selatan di tengah tantangan global.

Hal tersebut disampaikan Bambang dalam kegiatan Sriwijaya Economic Forum II Tahun 2025, di Ecxelton Palembang, selasa (21/10/2025) yang digelar sebagai wadah diskusi dan koordinasi lintas sektor mengenai arah dan kebijakan ekonomi daerah.

“Salah satu fungsi kami di Bank Indonesia adalah menjadi advisory bagi pemerintah daerah sekaligus bagi pelaku ekonomi, baik perbankan maupun dunia usaha. Melalui forum ini, kami ingin memberikan pandangan dan rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi di Sumsel,” ujar Bambang.

Menurutnya, kegiatan forum ekonomi Sriwijaya ini akan dilaksanakan secara semesteran sebagai bentuk komitmen BI untuk terus memperkuat komunikasi dan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Ia juga membuka peluang agar format kegiatan ke depan melibatkan lebih banyak pihak yang peduli terhadap kemajuan ekonomi daerah.

“Kami ingin forum ini tidak hanya diinisiasi oleh BI, tetapi juga menjadi wadah bagi seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan ekonomi di Sumsel. Hasil pembahasan diharapkan dapat dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan yang aplikatif dan disampaikan kepada pemerintah daerah untuk diimplementasikan,” jelasnya.

Dengan mengusung tema “Strengthening Investment in South Sumatera to Enhance Economic Resilience amid Global Headwinds”, Bambang menilai topik tersebut sangat relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.

Ia menjelaskan, target pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan sebesar 8 persen tidak dapat hanya bertumpu pada sektor konsumsi. Diperlukan langkah-langkah terobosan, terutama melalui peningkatan investasi yang berkelanjutan.

“Pertumbuhan 8 persen bukan hal mudah jika hanya mengandalkan konsumsi. Karena itu, investasi menjadi kunci untuk memperkuat struktur ekonomi kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bambang memaparkan bahwa berbagai hasil asesmen dan tracking ekonomi yang dilakukan BI Sumsel akan disampaikan sebagai bahan referensi bagi pengambilan kebijakan di tingkat pusat maupun daerah.

Ia menjelaskan, proses penyusunan rekomendasi tersebut tidak dilakukan secara sepihak. BI Sumsel secara rutin menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan survei dengan melibatkan pelaku usaha serta lembaga keuangan untuk menggali masukan yang akurat.

“Apa yang kami himpun dari para pelaku ekonomi kami olah dan rumuskan menjadi rekomendasi kebijakan. Hasilnya kami sampaikan ke kantor pusat untuk menjadi dasar keputusan, baik dalam penyesuaian suku bunga, kebijakan makroprudensial, maupun sistem pembayaran,” ungkapnya.

Bambang berharap forum ekonomi ini dapat memberikan edukasi, wawasan, dan pemahaman bersama mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga memperkuat sinergi kita semua dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Sumsel yang lebih tangguh dan berdaya saing,” tutupnya. (adi)