Merawat Nilai dari Rumah “Filosofi Parenting Try Sutrisno”
“Kekuatan sebuah bangsa lahir dari keluarga-keluarga yang kuat — keluarga yang menanamkan nilai sejak dari meja makan hingga pintu rumah”
1. Keteladanan Seorang Prajurit yang Pulang ke Rumah sebagai Ayah
Sebuah buku yang merekam nilai pengasuhan keluarga mantan Wakil Presiden RI ke-6, Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, resmi diperkenalkan pada Sabtu (15/11) di Ballroom Djakarta Theater XXI. “Filosofi Parenting Try Sutrisno” menghadirkan potret seorang prajurit yang menyeimbangkan disiplin, ketegasan, kasih sayang, spiritualitas, dan nasionalisme dalam kehidupan rumah tangga.
2. Peluncuran Buku yang Sekaligus Merayakan Usia 90 Tahun
Acara peluncuran dihadiri tokoh nasional, keluarga besar, sahabat, dan pemimpin lintas generasi. Momen ini sekaligus menjadi perayaan usia ke-90 Try Sutrisno—sosok yang, di mata banyak orang, tetap menjadi figur teladan dalam kepemimpinan maupun kehidupan keluarga.
3. Filosofi Pengasuhan yang Diwariskan untuk Keluarga Indonesia
Adhyaksa Dault, penyusun buku, bersama Luqman Hakim Arifin, Mujib Rahman, dan Maria Dominique, menyebut nilai pengasuhan Try sebagai warisan penting bagi keluarga Indonesia.
Menurut Adhyaksa, publik selama ini mengenal Try sebagai prajurit dan pemimpin bangsa. Buku ini memperlihatkan sisi yang lebih intim: seorang ayah sederhana yang menanamkan integritas, disiplin, iman, dan cinta tanah air melalui tindakan sehari-hari.
Empat pilar menjadi fondasi pengasuhannya: nilai Islam, budaya Jawa, disiplin prajurit, dan nasionalisme yang kuat.
4. Kesederhanaan yang Menjadi Sekolah Kehidupan
Salah satu putranya, Dr. Taufik Dwicahyono (Cheppy), mewakili keluarga dalam acara tersebut. Ia menggambarkan pola asuh kedua orang tuanya sebagai pendidikan berbasis keteladanan. Tidak banyak nasihat verbal—justru kehidupan sehari-hari yang menjadi “kelas utama”.
Dari sepatu lungsuran, penolakan terhadap privilese, hingga keteguhan dalam bersikap, semua itu membentuk karakter anak-anaknya untuk berdiri di atas kaki sendiri. Nilai tersebut kini mengalir ke cucu-cucu Try, generasi yang tumbuh di era digital namun tetap berpijak pada prinsip keluarga Indonesia.
5. Kenangan Para Tokoh Bangsa
Para tokoh bangsa yang hadir juga larut dalam kenangan. Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingat pertama kali melihat Try muda di Akademi Militer. “A new star was born,” ujar SBY—sebuah pengakuan atas integritas yang sudah tampak sejak masa remaja Try Sutrisno.
6. Kesederhanaan dalam Bentuk dan Isi
Meski melalui proses riset panjang, buku terbitan Renebook ini tampil dengan format sederhana: soft cover, kertas book paper, ringan dibawa. Kesederhanaan tersebut selaras dengan napas kehidupan keluarga Try.
“Buku ini dibuat agar mudah dibaca dan bisa dihayati oleh para orang tua di mana pun,” kata Adhyaksa.
7. Warisan Nilai yang Tak Pernah Lekang
Lebih dari sekadar biografi, buku setebal 336 halaman ini memuat cerita ketujuh anak Try tentang pola asuh ayah dan ibu mereka—filosofi yang bertumpu pada kedisiplinan, kemandirian, spiritualitas, kesederhanaan, dan rasa kebangsaan.
Di akhir acara, Try Sutrisno menyampaikan pesan yang menutup peluncuran dengan kesan mendalam:
“Bangsa ini tidak cukup dibangun dengan senjata, ekonomi, atau politik. Bangsa yang kuat lahir dari keluarga yang kuat.”
Penulis: Adi Asmara

