Divianews.com | Palembang — Provinsi Sumatera Selatan mencatatkan inflasi sebesar 0,05 persen (month to month/mtm) pada Januari 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi Desember 2025 yang mencapai 0,49 persen (mtm). Meski melambat secara bulanan, inflasi tahunan Sumsel tercatat 3,33 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 2,91 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, rabu (4/02/2026) menyampaikan bahwa capaian tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen, sehingga mencerminkan stabilitas harga yang tetap terjaga di tengah berlanjutnya pertumbuhan ekonomi daerah.

“Secara umum, inflasi Sumatera Selatan masih terkendali dan sejalan dengan tren inflasi nasional yang juga meningkat menjadi 3,55 persen (yoy),” kata Bambang.

Ia menjelaskan, inflasi Januari 2026 terutama didorong oleh kenaikan harga sejumlah komoditas strategis. Komoditas dengan andil inflasi terbesar antara lain emas perhiasan sebesar 0,42 persen (mtm), tomat sebesar 0,06 persen, bawang putih sebesar 0,02 persen, serta kacang panjang sebesar 0,01 persen.

Kenaikan harga emas perhiasan berlanjut seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap instrumen safe haven di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global. Sementara itu, kenaikan harga komoditas pangan, khususnya daging ayam ras, dipengaruhi oleh peningkatan konsumsi masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru. Adapun lonjakan harga sejumlah komoditas hortikultura disebabkan oleh terbatasnya pasokan dari daerah sentra akibat gangguan cuaca.

Ke depan, Bambang memprakirakan inflasi Sumatera Selatan tetap terjaga, namun terdapat sejumlah risiko yang perlu diantisipasi. Tekanan inflasi berpotensi meningkat seiring kenaikan konsumsi masyarakat pada perayaan Tahun Baru Imlek dan Ramadan, serta tingginya curah hujan hingga Februari 2026 yang dapat mengganggu pasokan pangan dan hortikultura.

“Penguatan koordinasi pasokan dan distribusi pangan menjadi sangat penting, terutama untuk komoditas strategis seperti telur, daging ayam ras, aneka bawang, dan cabai jelang Ramadan dan Idul Fitri,” ujarnya.

Di sisi lain, tekanan inflasi diperkirakan mulai mereda seiring dengan proyeksi puncak panen padi pada Februari–Maret 2026, yang akan memperkuat pasokan pangan. Namun, harga emas perhiasan diprakirakan masih bertahan di level tinggi akibat pengaruh dinamika global terhadap inflasi inti.

Dalam rangka menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat sinergi melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif. Berbagai langkah konkret telah dilakukan, antara lain operasi pasar murah, gerakan pangan murah, serta koordinasi intensif dengan Perum Bulog untuk pendistribusian beras SPHP.

Selain itu, TPID juga menyalurkan komoditas pangan terjangkau melalui Toko KePo, Rumah Pangan Kita (RPK), dan Toko Penyeimbang milik Perumda Pasar Palembang Jaya. Pemantauan harga dan ketersediaan pasokan dilakukan secara rutin, termasuk melalui inspeksi mendadak (sidak) ke pasar, distributor, dan produsen guna memastikan harga sesuai HET dan stok mencukupi.

Sebagai upaya penguatan ketahanan pangan, pada kuartal I 2026 telah dilaksanakan Panen Raya Jagung Serentak di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Total luas lahan panen mencapai lebih dari 270 hektare dengan estimasi hasil 3–6 ton per hektare. Panen raya yang berlangsung hingga April 2026 ini diharapkan dapat mendukung stabilitas pasokan jagung serta menjaga harga komoditas turunan seperti telur dan daging ayam selama HBKN Idul Fitri.

TPID Sumatera Selatan juga mendukung kelancaran distribusi pangan melalui subsidi harga dan ongkos angkut, serta memperkuat strategi komunikasi melalui rapat koordinasi, high level meeting, capacity building, hingga publikasi kebijakan. Sejumlah agenda koordinasi telah dilaksanakan, di antaranya audiensi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel serta rapat koordinasi pengamanan beras SPHP menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan. Program strategis seperti Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) akan terus dioptimalkan guna menjaga inflasi tetap dalam sasaran, meningkatkan produktivitas pertanian, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. (adi)