Divianews.com | Palembang  – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada triwulan I tahun 2026 tercatat sebesar 5,304 persen. Angka tersebut menunjukkan perekonomian daerah tetap tumbuh di tengah perlambatan sejumlah sektor, terutama industri batu bara yang mengalami kontraksi akibat pembatasan produksi dan melemahnya permintaan pasar global.

Hal itu disampaikan Kepala BPS Sumatera Selatan, Moh. Wahyu Yulianto, saat memaparkan perkembangan ekonomi daerah dalam kegiatan Bersua “Berjejaring dan Bersinergi untuk Akselerasi Ekonomi” yang digelar oleh Bank Indonesia di Lantai 4 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Palembang, rabu (10/06).

Menurut Wahyu, berdasarkan rilis terbaru triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Sumsel masih berada pada jalur positif meskipun terdapat perubahan pola penggerak ekonomi dan penyesuaian kebijakan anggaran pemerintah.

“Pertumbuhan ekonomi tetap berjalan. Memang ada kelompok atau sektor tertentu yang merasakan perlambatan, tetapi ada juga sektor lain yang justru tumbuh dan menjadi penopang ekonomi saat ini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah pusat menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 7 hingga 8 persen pada akhir periode pemerintahan tahun 2029. Namun hingga saat ini, pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah masih berada pada kisaran 5 persen.

Menurutnya, harapan untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi sempat bertumpu pada peningkatan belanja dan program-program pembangunan. Namun, kebijakan efisiensi anggaran membuat sebagian alokasi dana dialihkan ke sejumlah program prioritas nasional.

“Adanya efisiensi anggaran menyebabkan sebagian dana dialihkan ke program-program nasional seperti pembangunan, sekolah rakyat, hingga Koperasi Merah Putih. Dampaknya, ada sektor yang tetap tumbuh tetapi lajunya lebih lambat dibandingkan sebelumnya,” jelas Wahyu.

Batu Bara Melemah, Sektor Digital Justru Menguat

Di tengah perlambatan sektor pertambangan, khususnya batu bara yang merupakan salahsatu andalan sumel, aktivitas ekonomi berbasis digital justru menunjukkan peningkatan signifikan.

Wahyu mengungkapkan, transaksi menggunakan uang elektronik dan sistem pembayaran digital QRIS mengalami pertumbuhan pada triwulan I 2026. Fenomena tersebut menunjukkan adanya perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi.

“Yang menarik, transaksi uang elektronik dan penggunaan QRIS meningkat. Masyarakat mulai beralih ke transaksi digital. Kadang kita melihat pusat perbelanjaan tampak sepi, tetapi sebenarnya aktivitas ekonominya tetap berjalan melalui transaksi online,” katanya.

Perubahan pola konsumsi tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah di tengah tantangan yang dihadapi sektor-sektor konvensional.

Optimisme Tetap Dijaga

Meski menghadapi sejumlah tantangan, Wahyu mengaku tetap optimistis terhadap prospek ekonomi Sumsel ke depan. Diversifikasi sumber pertumbuhan dinilai menjadi kunci agar perekonomian tidak bergantung pada satu sektor tertentu.

“Batubara memang mengalami kontraksi, tetapi sektor lainnya tumbuh. Ini yang membuat ekonomi Sumsel tetap bergerak dan mampu mencatatkan pertumbuhan positif pada awal tahun 2026,” tutup Wahyu. (adi)