Kemarau, Aktivitas Pertanian di Desa Glebak Dalam Ubah Strategi
Divianews.com | Palembang — Kemarau yang melanda kawasan Glebak Dalam membuat aktivitas pengolahan lahan pertanian terhenti sementara. Tanah yang mengering mengganggu untuk mengolah sawah, sehingga pengelolah harus menunggu hingga kondisi cuaca kembali memungkinkan untuk memulai musim tanam.
Di tengah terhentinya aktivitas budidaya, kegiatan di kawasan pertanian dialihkan ke pemeliharaan lingkungan dan perawatan komoditas pendukung. Langkah itu dilakukan sembari menunggu datangnya musim hujan yang memungkinkan pengolahan tanah kembali dilakukan.
Nur Azizah, staf administrasi Flona Indonesia asal Kertapati, Palembang, yang turut mengawasi kegiatan lapangan sekaligus membantu pengelolaan keuangan agro, mengatakan aktivitas selama masa jeda tanam tetap berjalan.
“Selagi belum bisa bertanam karena kemarau, anak-anak PKL (Praktik Kerja Lapangan) dan tim di sini melakukan pembersihan lingkungan sekitar, memberi makan ternak bebek, serta merawat kolam ikan lele,” ujar Nur Azizah, alumni SMK PP Negeri Sembawa, jumat (25/09).
Menurutnya, masa kemarau tidak hanya dimanfaatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi tim untuk melakukan perawatan terhadap komoditas pendukung yang berada di kawasan tersebut.
Di sisi lain, penerapan produk pertanian berbasis bios dan organik menjadi salah satu upaya yang diperkenalkan kepada siswa PKL dalam pengelolaan lahan pertanian di Glebak Dalam.
Kawasan tersebut memiliki total delapan petak lahan. Dalam praktik budidaya yang dilakukan, sejumlah produk digunakan untuk membantu meningkatkan kondisi tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman.
Salah satunya adalah pH Net, yang digunakan untuk membantu menetralkan tingkat keasaman tanah pada lahan sawah. Sementara produk Grow dimanfaatkan sebagai perangsang pembuahan tanaman.
Nur Azizah menyebut penggunaan kedua produk tersebut berkaitan dengan peningkatan hasil produksi pada lahan yang dikelola.
“Sebelumnya hasil panen berada di kisaran 5 ton per petak. Setelah menggunakan produk bios seperti pH Net dan Grow, produksi meningkat hingga mencapai 7 sampai 8 ton per petak,” katanya.
Peningkatan produksi juga terlihat pada Petak 2. Hasil panen di lahan tersebut disebut mencapai sekitar 7 ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 5 ton lebih.
Tak hanya dari sisi jumlah produksi, penggunaan nutrisi tersebut menurut Nur Azizah turut mendukung percepatan siklus budidaya. Kondisi itu memungkinkan intensitas tanam dan panen ditingkatkan.
“Sekarang dalam setahun bisa dua kali panen atau IP 200,” ujarnya.
Meski demikian, keberlanjutan kegiatan pertanian di Glebak Dalam masih sangat bergantung pada kondisi cuaca. Kemarau membuat pengolahan tanah belum dapat kembali dilakukan, sehingga kegiatan produksi sementara difokuskan pada pemeliharaan lahan, lingkungan, serta komoditas pendukung.
Dengan kondisi tersebut, pengalaman penggunaan produk bios dan organik menjadi bagian dari proses pembelajaran bagi siswa PKL sekaligus praktik pengelolaan lahan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di kawasan Glebak Dalam. (adi)

