Divianews.com | Banyuasin  — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau mendorong Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo menekankan pentingnya langkah pencegahan sejak dini, termasuk mempersiapkan sumber air untuk mengairi lahan sawah di Agrowisata Tekno 44.

Saat meninjau langsung kondisi lahan Agrowisata Tekno 44 di Desa Gelebak Dalam, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Jumat (25/9), Kunto menyoroti kekeringan yang terjadi di kawasan tersebut. Menurutnya, penyediaan sumber air menjadi salah satu langkah cepat yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi karhutla di lahan kekeringan sekaligus membantu mengairi lahan pertanian.

Kunto menyampaikan hal itu saat melakukan kunjungan kerja ke Agrowisata Tekno 44. Dalam kunjungan kerjanya tersebut, ia melihat secara langsung karakteristik dan kondisi kawasan yang memiliki hamparan lahan cukup luas.

“Penyediaan sumber air menjadi salah satu langkah cepat yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi karhutla sekaligus membantu mengairi lahan pertanian,” tegas Kunto.

Menurut Kunto, penanganan karhutla tidak boleh hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah muncul. Pencegahan, penindakan hingga pemulihan kawasan harus ditempatkan dalam satu rangkaian penanganan yang terintegrasi.

Pendekatan tersebut dinilai penting, terutama bagi wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi saat musim kemarau. Gelebak Dalam menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian karena kondisi lahannya mengalami kekeringan.

Keringnya lahan, ditambah hamparan kawasan yang cukup luas, membuat upaya mitigasi membutuhkan persiapan yang lebih matang. Salah satunya dengan memastikan ketersediaan sumber air yang dapat dimanfaatkan ketika terjadi kondisi darurat.

“Langkah cepat yang akan dilakukan adalah membuat sumber air, sehingga bisa mengatasi keperluan untuk mengaliri lahan sawah yang kekeringan,” ujarnya.

Penyediaan sumber air tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghadapi ancaman karhutla. Infrastruktur pengairan juga diharapkan dapat membantu mempertahankan produktivitas lahan pertanian yang terdampak kekeringan.

Kunto menilai, pengelolaan kawasan secara tepat dapat membuat lahan yang mengalami kekeringan kembali produktif. Karena itu, pemetaan kondisi lahan dan sinkronisasi program antarpihak menjadi bagian penting dalam upaya jangka panjang.

Ia menegaskan, penanganan karhutla harus dilakukan sebelum munculnya titik api. Upaya tersebut mencakup pemetaan kawasan, kesiapan sumber air, pengelolaan lahan hingga pemulihan setelah terjadi kebakaran.

Dengan langkah terpadu tersebut, risiko kebakaran di kawasan rawan diharapkan dapat ditekan sekaligus menjaga agar lahan tetap memiliki fungsi produktif secara berkelanjutan. (adi)