Divianews.com | Palembang — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Sumatera Selatan  harus diarahkan hingga tahap pemulihan, bukan berhenti setelah api berhasil dipadamkan. Sinkronisasi program mulai dari pemetaan, pencegahan, pemadaman, penindakan hingga pemulihan dinilai menjadi kunci agar penanggulangan karhutla tidak terus berulang.

Penegasan itu disampaikan Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo belum lama ini saat melakukan kunjungan kerja ke Korem 044/ Gapo, Palembang. Dalam kunjungan tersebut, Kunto juga memantau penanganan karhutla yang terjadi di Sumsel.

Menurut Kunto, karakteristik lahan gambut membuat penanganan kebakaran membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Pemadaman api harus diikuti langkah untuk mengembalikan kondisi lahan sehingga risiko kebakaran kembali dapat ditekan dan tidak berulang.

“Intinya bagi saya adalah bagaimana kita bisa sinkronisasi program satu sama lain,” tegas Kunto.

Ia menekankan, pencegahan, penindakan dan pemulihan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Ketiganya harus ditempatkan sebagai satu rangkaian penanganan yang saling terhubung.

Gambut Kering Memperbesar Risiko Api Bertahan

Kunto juga menyoroti kondisi tanah gambut yang memiliki karakter berbeda dengan lahan mineral. Ketika mengalami pengeringan berlebihan pada musim kemarau, struktur gambut dapat mengalami keretakan dan membentuk rongga.

Kondisi tersebut memungkinkan oksigen masuk ke lapisan gambut sehingga api berpotensi muncul kembali atau bertahan di bawah permukaan. Karena itu, pemadaman di kawasan gambut tidak selalu cukup dilakukan dengan membasahi permukaan lahan.

Menurutnya, pengerahan helikopter maupun pesawat untuk penyiraman tetap penting dalam kondisi tertentu. Namun, upaya tersebut harus dibarengi dengan langkah pemulihan untuk menjaga kelembapan gambut dalam jangka panjang.

“Artinya, apa yang kita lakukan itu untuk menyiapkan tahap pemulihan, bagaimana lahan itu menjadi lahan produktif. Sekali kita menyiram, langsung merelokasi dan langsung dijadikan sesuatu,” ujarnya.

Dari Pemadaman Menuju Pemulihan

Kunto menilai penanganan karhutla harus sejak awal mempertimbangkan kondisi lahan setelah api berhasil dikendalikan. Pemetaan kawasan terdampak menjadi bagian penting untuk menentukan langkah berikutnya, termasuk bagaimana lahan dapat dipulihkan dan dimanfaatkan secara produktif.

Pendekatan tersebut diperlukan agar upaya penanggulangan tidak berhenti pada operasi pemadaman setiap kali kebakaran terjadi. Pemulihan kondisi gambut menjadi bagian penting untuk mengurangi kerentanan kawasan terhadap kebakaran berikutnya.

Sumsel menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla karena kebakaran berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dan telah menghanguskan ribuan hektare lahan. Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla di provinsi ini menjadi perhatian di tingkat nasional.

Dalam kesempatan itu, Kunto juga mengapresiasi kerja seluruh pihak yang terlibat dalam penanggulangan karhutla di Sumsel. Pemerintah, TNI-Polri, BNPB, BPBD, Manggala Agni hingga masyarakat setempat disebut telah bekerja selama berbulan-bulan untuk mengendalikan kebakaran.

Ia menilai kerja bersama tersebut perlu terus diperkuat, terutama dalam memastikan setiap tahapan penanganan—mulai dari pencegahan hingga pemulihan—berjalan dalam satu koordinasi yang jelas.

Dengan demikian, penanggulangan karhutla di Sumsel tidak sekadar mengejar padamnya api, tetapi juga memastikan lahan gambut kembali memiliki kondisi yang lebih aman dan produktif sehingga potensi kebakaran berulang dapat ditekan. (adi)