”Di balik status Penglipuran desa terbersih di dunia, ada pergerakan ekonomi warga lokal yang bergantung dan erat dengan denyut pariwisata”

Divianews.com | Bali — Mentari bahkan belum sepenuhnya menyinari langit Bali ketika perjalanan dimulai dari hotel menuju titik keberangkatan kendaraan Volkswagen (VW) klasik. Selama hampir dua jam menyusuri lereng perbukitan, hamparan sawah hijau terbentang di antara lekukan alam yang asri. Pemandangan itu menghadirkan kekaguman, sekaligus renungan.

Sekilas, panorama tersebut mengingatkan pada sejumlah wilayah di Sumatera Selatan yang memiliki lanskap serupa. Namun, ada satu hal yang menjadi pembeda. Bali mampu menjadikan potensi alamnya sebagai kekuatan ekonomi melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan dalam merawat, mengelola, serta memasarkan destinasi wisata secara berkelanjutan.

Renungan itu semakin kuat ketika perjalanan berakhir di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali.

Desa yang dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia itu langsung menyuguhkan suasana berbeda. Jalanan bersih tanpa sampah, lingkungan tertata rapi, udara sejuk, serta masyarakat yang ramah menjadi kesan pertama yang sulit dilupakan. Wisatawan domestik maupun mancanegara silih berganti datang menikmati keindahan desa yang tetap mempertahankan identitas budayanya.

Di Penglipuran, budaya bukan sekadar warisan yang dipamerkan kepada wisatawan. Budaya menjadi cara hidup masyarakat yang tercermin melalui arsitektur, tata ruang, kedisiplinan menjaga lingkungan, hingga cara mereka menghormati setiap tamu yang datang.

Di balik ketenangan desa tersebut, roda ekonomi masyarakat berputar seiring berkembangnya sektor pariwisata.

Dari Modal Rp500 Ribu Menjadi Usaha Beromzet Puluhan Juta

Salah satu kisah inspiratif datang dari Etalase 21, tempat persewaan pakaian adat Bali yang berada di kawasan Desa Penglipuran.

Di sana, Ni Nengah Sarini (53) tampak sibuk merapikan lipatan kain kamen dan udeng sambil melayani wisatawan bersama suaminya yang telah pensiun. Dengan senyum yang tak pernah lepas, ia membantu setiap pengunjung memilih pakaian adat sebelum berkeliling desa.

Siapa sangka, usaha yang kini mampu menghasilkan omzet puluhan juta rupiah per bulan itu berawal dari modal hanya Rp500 ribu.

Sebelum membuka usaha persewaan pakaian adat pada 2020, Sarini sempat mencoba berbagai jenis usaha, mulai dari warung sembako hingga bisnis lainnya. Tidak semuanya berjalan mulus. Bahkan beberapa di antaranya berakhir dengan kegagalan.

Namun kegagalan tidak membuatnya menyerah.

Berbekal modal sederhana, ia mulai menyewakan pakaian adat Bali sekaligus menjual aneka suvenir khas daerah. Ketekunan, kesabaran, dan pelayanan yang tulus perlahan membuahkan hasil.

Kini, usaha tersebut bukan hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga mengantarkan anak-anaknya menyelesaikan pendidikan.

“Banyak tamu yang datang dan pergi dengan latar belakang budaya yang berbeda-beda. Namun buat saya, senyuman dan pelayanan sabar adalah kunci. Kami ingin setiap orang yang datang merasa dihormati dan berkesan setelah pergi dari sini,” ujar Ni Nengah Sarini, Selasa (22/7/2026).

Pasangan asal Korea Selatan, Ji-hoon dan Hye-jin, saat mengenakan pakaian adat Bali. Foto: divianews.com

Menariknya, meski berada di desa yang kental dengan nuansa tradisional, transaksi di Etalase 21 sudah menggunakan sistem pembayaran digital melalui QRIS. Kehadiran teknologi tersebut memudahkan wisatawan domestik maupun mancanegara melakukan pembayaran secara praktis dan aman tanpa menghilangkan nuansa budaya yang menjadi daya tarik utama.

Keramahan yang Melampaui Batas Bahasa

Pengalaman berkesan juga dirasakan pasangan wisatawan asal Korea Selatan, Ji-hoon dan Hye-jin. Mereka sengaja datang ke Penglipuran karena ingin melihat secara langsung kehidupan masyarakat Bali yang masih memegang teguh tradisi.

Saat menyewa pakaian adat di Etalase 21, keduanya mengaku tersentuh oleh keramahan yang diberikan Sarini.

“Saya merasa berbeda, seperti berada di rumah sendiri saat berkomunikasi dengan Ibu Sarini. Ia sangat sabar meski kami memiliki keterbatasan bahasa dan perbedaan budaya. Ini patut kami apresiasi. Budaya Bali benar-benar menjadi magnet luar biasa yang membuat siapa pun tertegun,” ungkap Ji-hoon.

Menurutnya, konsep desa yang bersih, tertata, dan tetap mempertahankan identitas budaya menjadi alasan utama Penglipuran berbeda dari destinasi wisata lainnya.

Kondisi itulah yang membuat wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, rela datang langsung untuk menikmati suasana desa.

Harmoni Budaya dan Kesadaran Masyarakat Menjadi Kunci

Salah seorang Jurnalis asal Pelembang AA, menilai keberhasilan Penglipuran bukan semata-mata karena keindahan alam Bali.

Menurutnya, kekuatan utama desa tersebut justru terletak pada komitmen masyarakat dalam menjaga budaya, keamanan, dan kebersihan lingkungan.

“Keindahan Bali tidak lahir begitu saja secara kebetulan. Keindahan itu lahir dari harmoni antara tradisi dan alam yang saling mendukung. Yang paling krusial adalah dukungan penuh dan komitmen besar masyarakat Bali dalam menjaga pulau ini tetap aman, bersih, dan nyaman bagi wisatawan. Masyarakat sadar bahwa dari pariwisatalah keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan mereka tercipta,” jelas AA, rabu (29/07/2026).

Ia menambahkan, keberhasilan Penglipuran seharusnya menjadi referensi bagi desa-desa wisata di Indonesia.

“Saya melihat setiap daerah memiliki lokasi wisata, termasuk Kota Palembang. Yang dibutuhkan adalah tekad kuat seluruh pihak dan kesadaran bahwa ketika wisatawan datang, seluruh sektor ekonomi akan bergerak. Dampaknya tentu akan dirasakan langsung terhadap kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Desa yang Menjaga Leluhur dan Alam

  • Penglipuran memiliki sejarah panjang yang masih dijaga hingga kini.

Nama Penglipuran berasal dari kata Pengeling Canthi yang bermakna tempat untuk mengenang leluhur. Desa adat di Kecamatan Bangli ini didirikan oleh masyarakat asal Desa Bayung Gede yang membawa serta tatanan adat mereka.

Hingga kini, masyarakat tetap memegang teguh filosofi Tri Hita Karana, yaitu menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Konsep tersebut diwujudkan dalam pembagian wilayah desa menjadi tiga zona atau Tri Mandala, yakni Utama Mandala sebagai kawasan pura, Madya Mandala sebagai kawasan permukiman, dan Nista Mandala sebagai area pemakaman serta hutan bambu.

Aturan adat mengenai kebersihan lingkungan diterapkan secara konsisten. Sampah tidak dibiarkan berserakan, kendaraan dibatasi di area tertentu, sementara keramahan terhadap tamu menjadi bagian dari budaya sehari-hari.

Inilah yang membuat Penglipuran bukan hanya indah dipandang, tetapi juga menghadirkan rasa aman, nyaman, dan tenang bagi setiap pengunjung.

Inspirasi bagi Palembang dan Sumatera Selatan

  • Pengalaman menyusuri Penglipuran meninggalkan satu pelajaran penting.

Keberhasilan sebuah destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam, tetapi juga oleh kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, melestarikan budaya, serta memberikan pelayanan terbaik kepada setiap tamu.

Palembang dan Sumatera Selatan sejatinya memiliki potensi yang tak kalah besar. Kawasan Kampung Arab Al-Munawar, Kampung Kapitan, Benteng Kuto Besak (BKB), tepian Pasar 16 Ilir, Sungai Musi, hingga Jembatan Ampera merupakan aset sejarah dan budaya yang mampu menjadi magnet wisata jika dikelola secara terpadu.

Penguatan desa atau kampung wisata berbasis komunitas, penyediaan layanan wisata yang profesional, digitalisasi transaksi melalui QRIS, pengembangan penyewaan busana adat Palembang seperti Aesan Gede dan kain songket, penyediaan pemandu wisata yang kompeten, hingga penataan kawasan ramah pejalan kaki merupakan sejumlah langkah yang dapat diadopsi dari Penglipuran.

Kolaborasi pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan aparat keamanan menjadi fondasi utama dalam mewujudkan kawasan wisata yang aman, bersih, nyaman, dan berdaya saing.

Penglipuran membuktikan bahwa menjaga budaya bukan sekadar melestarikan warisan leluhur, melainkan juga investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.

Diakhir penulis ingin menegaskan, bagi Palembang dan daerah lain di Indonesia, kisah Penglipuran menjadi pengingat bahwa potensi besar sesungguhnya telah tersedia. Yang dibutuhkan kini adalah kemauan bersama untuk merawatnya, mengelolanya secara profesional, dan menjadikannya kebanggaan yang mampu menarik perhatian dunia hingga menjadi sebuah yang bernilai ekonomi. (AA)

Editor: Eka Agustia