BI Sumsel Optimistis Stabilitas Harga Tetap Terjaga
Divianews.com | Palembang – Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatatkan deflasi sebesar 0,24 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Juli 2026. Capaian tersebut menjadi sinyal positif keberhasilan pengendalian inflasi di tengah tantangan musim kemarau, potensi El Nino, serta meningkatnya aktivitas ekonomi menjelang dimulainya kembali Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan tahun ajaran baru.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan stabilitas harga kebutuhan pokok di Sumsel tetap terjaga berkat sinergi pengendalian inflasi yang dilakukan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Upaya pengendalian inflasi di Sumatera Selatan menunjukkan hasil positif. Di tengah tantangan musim kemarau, potensi El Nino, serta meningkatnya aktivitas ekonomi pada awal tahun ajaran baru, Provinsi Sumsel justru mencatat deflasi pada Juli 2026, yang menandakan stabilnya harga berbagai kebutuhan pokok,” ujar Bambang Pramono dalam keterangannya, Selasa (4/8/2026).
Berdasarkan data terbaru, deflasi Juli 2026 berbalik dari kondisi bulan sebelumnya yang masih mencatat inflasi sebesar 0,36 persen (mtm). Sementara itu, inflasi tahunan (year on year/yoy) juga melandai menjadi 2,50 persen, turun dari 2,89 persen pada bulan sebelumnya. Angka tersebut sejalan dengan tren nasional yang juga mengalami penurunan menjadi 2,88 persen (yoy).
Bambang menjelaskan, penurunan tekanan inflasi terutama didorong melimpahnya pasokan komoditas hortikultura saat musim panen di sejumlah daerah sentra produksi. Komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap deflasi adalah bawang merah, diikuti emas perhiasan, cabai merah, cabai rawit, dan tomat.
Meski demikian, peningkatan permintaan masyarakat menjelang dimulainya kembali Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan aktivitas tahun ajaran baru masih memberikan tekanan terhadap harga beberapa komoditas, terutama beras dan bawang putih.
“Tekanan permintaan terhadap sejumlah komoditas tersebut menyebabkan penurunan inflasi tidak berlangsung lebih dalam,” katanya.
Memasuki Agustus 2026, BI memperkirakan tekanan inflasi berpotensi kembali meningkat. Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia diprediksi akan mendorong konsumsi masyarakat, sementara musim kemarau yang lebih kering berisiko memengaruhi produksi hortikultura akibat berkurangnya curah hujan.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, TPID Sumatera Selatan bersama Bank Indonesia terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yakni menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan efektivitas komunikasi.
Hingga akhir Juli 2026, berbagai langkah stabilisasi telah dilakukan, antara lain melalui lebih dari 381 kegiatan Operasi Pasar Murah (OPM), Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di berbagai daerah. Selain itu, puluhan inspeksi mendadak ke pasar turut dilaksanakan untuk memastikan ketersediaan stok serta menjaga harga tetap sesuai ketentuan.
Di sektor distribusi, BI Sumsel juga memberikan subsidi ongkos angkut sebanyak 77 kali dengan total komoditas hampir 48 ton guna mendukung pelaksanaan operasi pasar. Upaya penguatan pasokan turut dilakukan melalui fasilitasi pembelian 22,67 ton bawang merah dari Sumatera Barat dan 3,68 ton cabai dari Kabupaten Magelang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Sumatera Selatan.
Penguatan ketahanan pangan juga terus diperluas melalui kerja sama antardaerah. Hingga Juli 2026 telah terjalin delapan Kesepakatan Bersama (KSB) dan 21 Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara pemerintah daerah di Sumsel dengan Provinsi Jawa Tengah, serta empat kerja sama Business to Business (B2B) untuk memperkuat rantai pasok pangan.
Selain menjaga stabilitas harga, BI bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus mengembangkan transformasi Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) menjadi Rantai Pasok Pangan GSMP. Program tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pesantren dan koperasi, melalui skema business matching dengan offtaker serta finance matching bersama perbankan.
“Melalui kolaborasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, kami optimistis stabilitas inflasi dapat terus terjaga, ketahanan pangan semakin kuat, dan pertumbuhan ekonomi daerah tetap inklusif serta berkelanjutan, sekaligus mendukung pelaksanaan program prioritas nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis,” tutup Bambang. (adi)
