Divianews.com | Banyuasin — Menjadi petani bukan pilihan yang harus disembunyikan. Justru dari sektor pertanian, masa depan pangan dan keberlanjutan lingkungan ikut dipertaruhkan.

Pesan semangat itu disampaikan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo kepada sejumlah siswa SMK PP Negeri Sumbawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, saat mengunjungi lahan gambut di Desa Gelebak Dalam, Kecamatan Rambutan.

Di hadapan para siswa yang tengah menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL), Kunto mendorong mereka tetap percaya diri dengan pilihan untuk menekuni pertanian. Menurutnya, pilihan tersebut merupakan langkah penting yang perlu dipersiapkan sejak dini.

“Hayo tetap semangat anak-anak, karena ke depan bisa diraih dengan baik. Tentu ada peran dari apa yang anak-anak persiapkan dari sekarang,” kata Kunto Arief Wibowo saat kunjungan kerja meninjau lahan gambut di wilayah Desa Gelebak Dalam.

Jenderal bintang tiga itu juga mengajak para siswa tidak sekadar belajar menjadi tenaga di sektor pertanian. Mereka didorong turut mengambil peran sebagai generasi yang memahami sekaligus menjaga lingkungan, khususnya lahan gambut.

Para siswa diajak menjadi bagian dari upaya menjaga lahan gambut agar tetap aman dari ancaman kebakaran, terutama di tengah kondisi kekeringan yang terjadi saat ini.

Ajakan tersebut sekaligus memperluas makna kegiatan PKL yang dijalani para siswa. Praktik lapangan tidak hanya menjadi kesempatan untuk mempelajari teknik budidaya tanaman, tetapi juga mengenalkan persoalan nyata yang dihadapi sektor pertanian dan lingkungan.

Empat Bulan Belajar Langsung di Lahan

Salah satu siswa yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Rindang Sukma Brilianza, 16 tahun. Bersama empat siswa lainnya, Rindang tergabung dalam satu kelompok PKL yang ditempatkan di Agrowisata Tekno 44, Desa Gelebak Dalam yang merupakan lahan gambut, yang dikembangkan oleh Flona Indonesia.

Selama hampir empat bulan, para siswa menjalani kegiatan di lokasi yang sekaligus menjadi tempat pengamatan, fasilitas budidaya pertanian dan peternakan, serta tempat mereka menginap selama PKL.

Kegiatan tersebut berada di bawah penanggung jawab Flona Indonesia. Memasuki bulan keempat, para peserta telah mendapatkan pengalaman langsung mengenai berbagai tahapan produksi padi, mulai dari perawatan tanaman hingga pengelolaan hasil.

“Selama PKL kami mendapatkan ilmu dan pengalaman baru karena bisa melihat langsung proses budidaya di lapangan,” ujar Rindang.

Pembelajaran tidak berhenti pada pengamatan pertumbuhan tanaman. Para siswa ikut terlibat dalam perawatan tanaman dan mengenali organisme pengganggu tanaman (OPT), termasuk memahami langkah pengendaliannya.

Di lokasi, pengendalian hama dilakukan antara lain melalui penggunaan insektisida dan fungisida yang tersedia. Para peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan bio-insektisida dan pupuk biologis yang dikembangkan Flona Indonesia dalam berbagai varian.

Dari proses tersebut, siswa mendapat gambaran bahwa keberhasilan budidaya padi tidak hanya ditentukan oleh kegiatan menanam. Tanaman membutuhkan perawatan, pemantauan terhadap hama dan penyakit, serta penanganan yang disesuaikan dengan kondisi lahan.

Dari Tanam hingga Penggilingan

Pengalaman para siswa juga berlanjut hingga tahap pascapanen.

Mereka diperkenalkan dengan proses penjemuran hingga penggilingan hasil padi. Tahapan tersebut membuat pengalaman PKL tidak hanya berfokus pada bagaimana tanaman tumbuh, tetapi juga bagaimana hasil pertanian dikelola setelah dipanen.

Bagi para siswa, pengalaman semacam itu memberi gambaran lebih utuh mengenai rantai produksi pertanian yang selama ini lebih banyak dipelajari melalui teori di sekolah.

Namun, praktik di lapangan tidak selalu berjalan tanpa kendala.

Musim kemarau membuat ketersediaan air menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi. Kondisi tersebut membuat porsi pembelajaran pada periode tertentu lebih banyak diarahkan pada pemahaman teori pendukung, sembari tetap menjalankan praktik yang memungkinkan dilakukan sesuai keadaan di lapangan.

Situasi itu sekaligus memperlihatkan kepada siswa bahwa faktor cuaca dan ketersediaan air menjadi bagian penting yang harus diperhitungkan dalam kegiatan pertanian.

Tak Hanya Padi, Ada Peternakan dan Perikanan

Ruang belajar para siswa juga tidak terbatas pada tanaman pangan.

Di lokasi PKL, mereka mendapatkan pengalaman mengelola peternakan dan perikanan. Para peserta antara lain belajar memberi pakan bebek serta ikut mengelola sejumlah kolam ikan lele.

Pengalaman tersebut memperkenalkan kepada siswa konsep kegiatan pertanian yang terintegrasi. Mereka berhadapan langsung dengan aktivitas budidaya yang tidak berdiri sendiri, melainkan mencakup tanaman, peternakan, dan perikanan.

Tinggal di lokasi selama pelaksanaan PKL pun menjadi bagian dari proses pembelajaran. Para siswa dituntut beradaptasi dengan lingkungan kerja sekaligus mengikuti ritme kegiatan budidaya sehari-hari.

Bagi Rindang, pengalaman itu menjadi sesuatu yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas.

Ia mengaku senang mengikuti PKL karena mendapatkan pengalaman yang sebelumnya tidak diperoleh hanya melalui pembelajaran di sekolah.

“Kami berharap ilmu yang diperoleh selama PKL ini bisa terus diterapkan dan bermanfaat untuk ke depannya,” ujarnya.

Menyiapkan Generasi Pertanian Sekaligus Penjaga Gambut

Rangkaian kegiatan tersebut pada akhirnya membawa para siswa pada pemahaman bahwa pertanian bukan sekadar persoalan menanam dan memanen.

Ada pengelolaan air, pengendalian hama dan penyakit, pemanfaatan teknologi dan bahan biologis, penanganan hasil panen, hingga persoalan lingkungan yang harus diperhatikan.

Pesan Kunto Arief Wibowo kepada para siswa mempertegas pentingnya kesiapan tersebut. Pilihan menekuni pertanian, menurutnya, tidak perlu membuat generasi muda merasa rendah diri.

Di tengah kebutuhan menjaga produksi pangan sekaligus lingkungan, para siswa justru sedang dipersiapkan untuk memahami persoalan pertanian dari dekat.

Dari lahan tempat mereka belajar, tantangannya terlihat nyata: bagaimana menghasilkan pangan, merawat lahan, beradaptasi dengan musim, sekaligus mencegah lingkungan—termasuk kawasan gambut—terancam kebakaran.

PKL yang hampir empat bulan itu pun menjadi lebih dari sekadar kewajiban sekolah. Ia menjadi pengalaman awal bagi para siswa untuk mengenali dunia pertanian dari tanah tempat mereka belajar, sekaligus memahami tanggung jawab yang menyertainya.

Penulis : Adi / Editor: Chaca