“Inovasi, Kolaborasi dan Aksi Nyata untuk Rakyat, Lingkungan dan Pertahanan Negara”

Jakarta — Inovasi, kolaborasi, dan aksi nyata menjadi pendekatan yang menonjol dalam rekam jejak Letjen TNI Kunto Arief Wibowo saat menjabat Komandan Korem (Danrem) 044/Garuda Dempo Palembang pada 2016–2017. Ketika itu, ia masih berpangkat Kolonel Infanteri mendorong penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan melalui operasi terpadu, pengembangan teknologi lokal, serta pelibatan masyarakat dalam upaya perlindungan lingkungan.

Salah satu capaian yang tercatat adalah penurunan jumlah titik panas (hotspot) dari 27.043 titik pada 2015 menjadi 871 titik selama Januari–Oktober 2016. Berdasarkan data tersebut, jumlah titik panas turun sekitar 96,8 persen.

Capaian itu menjadi bagian penting dari rekam jejak Kunto Arief Wibowo ketika masih berpangkat Kolonel Infanteri. Pendekatan yang dijalankan tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga mencakup pencegahan, pemulihan lahan gambut, pemanfaatan teknologi, dan penguatan kerja sama lintas sektor.

Mengandalkan Operasi Terpadu dan Inovasi

Dalam penanganan karhutla, Korem 044/Garuda Dempo menggerakkan operasi terpadu bersama TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat. Langkah yang dilakukan meliputi patroli darat, udara, dan sungai, disertai edukasi berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya pembakaran lahan.

Upaya tersebut diperkuat melalui pengembangan BIOS 44, inovasi berbasis agen hayati yang diarahkan untuk membantu restorasi dan pemulihan lahan gambut. Pendekatan ini menempatkan pencegahan dan pemulihan ekosistem sebagai bagian dari strategi penanganan kebakaran, bukan semata-mata mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul.

Penurunan jumlah titik panas dari 27.043 pada 2015 menjadi 871 pada Januari–Oktober 2016 menjadi indikator yang dicatat dalam periode tersebut. Meski demikian, angka itu perlu dibaca dengan memperhatikan perbedaan rentang waktu pengamatan serta faktor lain yang dapat memengaruhi kejadian karhutla.

Mengembangkan Teknologi Lokal untuk Menjawab Persoalan Lapangan

Di bawah kepemimpinannya, Korem 044/Garuda Dempo juga mengembangkan sejumlah inovasi yang diarahkan untuk mendukung penanganan kebakaran, pemantauan wilayah, dan pengelolaan lingkungan.

Selain BIOS 44, terdapat NUSANTARA GAPO 44 berupa busa pemadam api (fire extinguishing foam), GAPO OIL 44, DIRGA PANTAU 44 sebagai sistem pemantauan udara, serta PAGASSO LTA 44. GAPO OIL 44 dan PAGASSO LTA 44 disebut sebagai hasil riset Korem 044/Garuda Dempo.

Pengembangan inovasi tersebut mencerminkan upaya mencari solusi berbasis kebutuhan lapangan dengan memanfaatkan kemampuan dan sumber daya lokal. Di tengah ancaman karhutla yang berulang, penguatan teknologi menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung pencegahan, pemantauan, dan penanganan kebakaran secara lebih terarah.

Prinsip yang diusung dalam pendekatan tersebut terangkum dalam semboyan, “Inovasi, Kolaborasi, dan Aksi Nyata untuk Rakyat, Lingkungan, dan Pertahanan Negara.”

Inovasi Karhutla Dibawa ke Forum Perubahan Iklim Dunia

Upaya yang dikembangkan di Sumatera Selatan kemudian mendapat ruang untuk diperkenalkan di tingkat internasional. Kunto Arief Wibowo mewakili Indonesia dalam United Nations Climate Change Conference (COP22) di Marrakesh, Maroko, yang berlangsung pada 7–18 November 2016.

Dalam forum perubahan iklim tersebut, inovasi pencegahan karhutla dan restorasi gambut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pendekatan yang menghubungkan penanganan bencana lingkungan dengan inovasi teknologi dan kolaborasi multipihak.

Kehadiran dalam forum internasional itu menempatkan pengalaman penanganan karhutla di Sumatera Selatan dalam pembahasan yang lebih luas mengenai perlindungan lingkungan dan tantangan perubahan iklim.

Raih Pengakuan Nasional melalui Innovative Government Award

Pengembangan inovasi restorasi gambut bersama pemerintah daerah juga memperoleh pengakuan nasional. Pada 2017, inovasi tersebut meraih Innovative Government Award (IGA) dari Kementerian Dalam Negeri dalam kategori Inovasi Kemitraan Pengelolaan Landscape/Restorasi Gambut.

Penghargaan itu menjadi bentuk pengakuan terhadap pendekatan kemitraan dalam pengelolaan lanskap dan pemulihan gambut. Kolaborasi antara unsur pemerintah, TNI, serta pemangku kepentingan lainnya menjadi bagian penting dalam upaya menghadapi persoalan lingkungan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja.

Pengakuan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi di tingkat daerah dapat memperoleh perhatian nasional ketika dikembangkan melalui kerja sama dan diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata.

BIOS 44 Kembali Mendapat Penghargaan

Rekam jejak inovasi BIOS 44 berlanjut setelah masa jabatan Kunto Arief Wibowo sebagai Danrem 044/Garuda Dempo. Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menganugerahkan penghargaan Dharma Pertahanan atas jasa dan kepeloporannya dalam menciptakan inovasi tersebut.

Penghargaan itu diserahkan dalam rangkaian peringatan Hari Nusantara Nasional 2019 di Pariaman, Sumatera Barat, ketika Kunto menjabat sebagai Danrem 032/Wirabraja.

Penghargaan tersebut menambah catatan perjalanan BIOS 44, dari inovasi yang dikembangkan dalam konteks penanganan karhutla dan pemulihan gambut hingga memperoleh pengakuan dari institusi pertahanan nasional.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Penanganan karhutla dan restorasi gambut pada periode tersebut tidak hanya mengandalkan kekuatan TNI. Sinergi juga melibatkan Polri, pemerintah daerah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Restorasi Gambut (BRG), akademisi, dunia usaha, serta masyarakat.

Pelibatan berbagai unsur diperlukan karena persoalan karhutla berkaitan erat dengan kondisi lingkungan, tata kelola lahan, aktivitas ekonomi, dan perilaku masyarakat. Patroli serta pemadaman perlu berjalan beriringan dengan edukasi, pemulihan ekosistem, dan pengembangan solusi yang sesuai dengan kebutuhan daerah.

Dalam konteks ini, peran teritorial TNI menjadi salah satu instrumen untuk mempertemukan berbagai pihak di lapangan, membangun koordinasi, dan mendukung pelaksanaan program yang menyentuh langsung kepentingan masyarakat.

Menolak Lupa, Menjaga Catatan Pengabdian

Rekam jejak Kunto Arief Wibowo saat memimpin Korem 044/Garuda Dempo menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas teritorial dapat bersinggungan langsung dengan persoalan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Penanganan karhutla, pengembangan teknologi lokal, partisipasi masyarakat, serta kolaborasi lintas lembaga menjadi bagian dari pendekatan yang dijalankan pada periode 2016–2017.

Dampak strategis yang diharapkan dari rangkaian upaya tersebut meliputi pengurangan risiko kebakaran dan kerusakan ekosistem gambut, tumbuhnya inovasi teknologi lokal, penguatan peran TNI dalam perlindungan lingkungan, serta terbukanya peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui lingkungan yang lebih aman dan produktif.

Angka penurunan titik panas, partisipasi dalam COP22, dan penghargaan yang diterima menjadi bagian dari catatan capaian pada masa itu. Namun, menempatkan capaian tersebut secara proporsional tetap penting: penurunan titik panas merupakan indikator yang perlu dibaca bersama kondisi cuaca, luas wilayah terdampak, dan faktor lain yang memengaruhi kebakaran.

Menolak lupa bukan sekadar mengingat nama dan jabatan, melainkan mencatat kerja, inovasi, dan capaian secara utuh. Dalam rekam jejak Kunto Arief Wibowo di Sumatera Selatan, pendekatan yang menghubungkan pertahanan, teknologi, kolaborasi, dan kepedulian lingkungan menjadi bagian yang layak didokumentasikan sebagai catatan pengabdian. (tim)