Parade Kebaya Songket di Palembang Sukses Raih Rekor MURI
Divianews.com | Palembang — Dewan Pimpinan Pusat Perempuan Indonesia Maju (DPP PIM) resmi mengonsolidasikan gerakan pelestarian budaya secara serentak di berbagai wilayah Nusantara. Langkah masif ini menandai tahun ketiga peringatan Hari Kebaya Nasional sekaligus memperkuat komitmen pasca-penetapan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada akhir 2024 lalu.
Ketua Umum DPP PIM, Lana T. Koentjoro, menegaskan bahwa lahirnya Hari Kebaya Nasional merupakan hasil perjuangan kolektif. Namun, pengakuan internasional yang diraih lewat joint nomination regional tersebut tidak boleh membuat komitmen pelestarian menjadi kendur.
“Pengakuan UNESCO bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Kita harus konsisten menunjukkan bahwa kebaya benar-benar dijalankan dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujar Lana.
Puncak perayaan Hari Kebaya Nasional 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 24 Juli di Jakarta. Sebagai pemanasan, gelombang gerakan daerah mulai bergerak, salah satunya melalui perhelatan “Parade Kebaya Songket: Pesona Perempuan Indonesia” yang digelar DPD PIM Sumatera Selatan di Kota Palembang, Minggu, 19 Juli 2026.
Lebih dari sekadar selebrasi, parade di Palembang ini sukses mencatatkan Rekor MURI dalam kategori perempuan berkebaya dengan kain songket terbanyak. Langkah strategis ini sekaligus dirancang untuk mengangkat Jembatan Ampera sebagai ikon pariwisata Sumatera Selatan ke panggung internasional.
Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) periode 2024–2029, Nannie Hadi Tjahjanto, yang hadir langsung di Palembang, mengapresiasi inovasi memadupadankan kebaya dengan kain songket. Menurutnya, inisiatif Pemprov Sumsel, BKOW, dan Dekranasda ini sangat visioner serta layak menjadi inspirasi daerah lain dalam mengangkat wastra lokal.

“Ini suatu kebanggaan buat saya tersendiri dan suatu kehormatan tentunya. Yang mana kebaya sudah dikenalkan di UNESCO, tentu kita sebagai generasi penerus harus melestarikan,” ungkap Nannie di sela-sela acara.
Ketua Umum DPP PIM, Lana T. Koentjoro (ke tiga kanan) saat menerima piagam penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada kegiatan Parade Perempuan Kebaya Kain Songket Terbanyak di Car Free Day dalam rangka Hari kebaya Nasional ke-3 tahun 2026 di Monpera, Palembang, Sumatera Selatan, Minggu, 19 Juli 2026. (Foto: RRI/Rian Apridhani)
Refleksi 100 Tahun Perjuangan Gender
Sebagai rumah besar organisasi perempuan, Kowani melihat gerakan berkebaya memiliki akar filosofis yang kuat dengan perjuangan kesetaraan. Menjelang usia 100 tahun Kowani, Nannie mengajak publik merefleksikan kembali semangat Kongres Perempuan Pertama 1928, mulai dari pemenuhan hak pendidikan hingga pencegahan pernikahan dini.
Nannie menyoroti, meski keterwakilan perempuan di tingkat menengah ke atas sudah sukses memunculkan sejarah Presiden perempuan hingga Ketua DPR RI, perjuangan di akar rumput masih menghadapi tantangan berat. Kesulitan ekonomi disinyalir masih menjadi pemicu kerentanan perempuan.

“Di usia menuju 100 tahun ini, kita harus pastikan tidak ada lagi KDRT, perdagangan manusia, anak terlantar, hingga keterlibatan perempuan sebagai kurir narkoba akibat desakan ekonomi,” tegas Nannie.
Guna memberi solusi nyata, Kowani menyerukan penguatan ketahanan keluarga lewat program “1.000 Profesi, 1.000 Organisasi, dan 1.000 Komunitas” yang mencakup berbagai profesi, termasuk wartawan hingga dosen.
Menggerakkan Roda Ekonomi Kreatif
Untuk memastikan keberlanjutan tradisi, DPP PIM mendorong penerapan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, komunitas, akademisi, media, dan pelaku usaha. PIM juga mengimbau pemda aktif mendaftarkan variasi kebaya khas daerah sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional.
Lebih jauh, gerakan berkebaya terbukti menjadi motor penggerak ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif. Industri hilir yang mayoritas digerakkan oleh perempuan kini mengalami pertumbuhan signifikan.
“Ketika masyarakat mengenakan kebaya, terdapat multiplier effect ekonomi yang sangat luas. Mulai dari pengrajin batik, tenun, songket, penjahit, desainer muda, pengrajin aksesori, hingga industri makeup artist (MUA) ikut bergerak. Gerakan berkebaya ini secara nyata memperkuat ekonomi keluarga melalui pemberdayaan perempuan,” tambah Lana T. Koentjoro.
Dampak nyata ini dirasakan langsung oleh Nannie Hadi Tjahjanto. Ia menekankan esensi Hari Kebaya Nasional adalah sebuah gerakan ekonomi masif.
“Dari kebaya ini kita telah mengangkat seluruh UMKM Indonesia. Mulai dari selop, kain ganding, hingga jasa MUA. Saya sendiri bersanggul dan berdandan subuh-subuh menggunakan berbagai aksesori. Jadi, sudah berapa banyak UMKM yang dilibatkan dalam satu tubuh saya saja? Hal inilah yang kami perjuangkan,” tutur Nannie.
Merespons antusiasme publik, DPP PIM berkomitmen terus mendekatkan kebaya kepada generasi muda lewat program terstruktur seperti Kebaya Go to School dan Kebaya Go to Campus. PIM mendukung inovasi desainer muda yang mengadaptasi warna dan bahan modern agar kebaya tetap kasual dan relevan dengan gaya hidup anak muda, tanpa menghilangkan pakem dasar seperti model Kutu Baru. (adi)
