Makna dari Pantai Melasti, Tari Kecak membuktikan bahwa keindahan sejati lahir ketika tradisi dan alam berpelukan erat untuk saling menguatkan

Divianews.com | Bali — Diiringi tiupan angin serta debur ombak laut dan bentangan tebing kapur Pantai Melasti yang indah, duduk berbaris para penonton yang larut menikmati ratusan suara menyatu dalam irama “cak-cak-cak” yang megah. Pertunjukan Tari Kecak bertajuk Titi Subanda yang digelar selasa sore (22/07/2026) itu bukan sekadar pementasan seni biasa, melainkan kisah tentang kebersamaan, pengabdian, dan warisan yang terus hidup. Saat matahari tenggelam di ufuk Bali, budaya kembali membuktikan bahwa keindahan sejati lahir ketika ada kekuatan tradisi dan alam padu saling menguatkan.

Bukan hanya sekedar kata, daya pikat sebuah pertunjukan kolosal ini dirasakan langsung oleh Shaimi Diniyah Elham, wisatawan asal Maroko. Ia mengaku rela terbang jauh menyeberangi benua serta merogoh kocek demi bisa menyaksikan secara langsung kebudayaan Pulau Dewata yang selama ini hanya bisa ia lihat melalui promosi olnline dan layar kaca.

Antusias Penonton Menyaksikan Pementasan Tari Kecak di Pantai Melasti Bali/ foto: Adi Asmara/divianews.com

“Saya datang jauh-jauh ke Bali karena penasaran dengan keindahan alam dan budaya pulau Dewata ini terutama Tari Kecak. Saat melihatnya langsung di tepi pantai Melasti, saya rasakan hal yang luar biasa. Bali benar-benar memiliki jiwa tradisi sendiri yang sangat kuat dan tidak ada tandingannya,” ujar Shaimi dengan penuh kekaguman.

Terpisah, kekaguman atas suasana dan tari Kecak yang dirasakan juga disampaikan oleh wisatawan domestik asal Jakarta, Taufikurahman. Menurutnya, atmosfer kebudayaan Bali memiliki magnet tersendiri yang mampu membuat siapa saja yang datang tertegun.

“Budaya di sini punya magnet tersendiri yang membuat orang tertegun. Begitu kita mendarat dan melihat bagaimana masyarakat menyambut serta melestarikan tradisinya dan salahsatunya adalah budaya tari Kecak, ada rasa kagum yang luar biasa. Ini pengalaman yang selalu membuat kita rindu untuk kembali lagi ke Bali,” kata Taufikurahman.

Fondasi All-Out Masyarakat Bali

Terinsprinasi dari fenomena budaya yang mendunia tersebut, Jurnalis Divianews.com, Adi Asmara, memberikan ulasan mendalam mengenai kunci keberhasilan pariwisata Pulau Dewata. Menurutnya, daya tarik Bali tidak hadir secara kebetulan, melainkan dibentuk oleh kesadaran sosial yang mendasar.

“Kunci utama keberhasilan Bali ada pada dukungan penuh masyarakatnya secara all-out untuk menjaga agar Bali tetap aman dan nyaman bagi pariwisata. Masyarakat Bali sadar betul bahwa dari pariwisatalah mereka menjadi sejahtera. Ketika budaya dirawat dengan ketulusan dan lingkungan dijaga secara kolektif, nilai ekonomi dan kesejahteraan akan mengikuti secara alami,” jelas Adi Asmara.

Mengadopsi Spirit Bali untuk Mahakarya Budaya Sumatera Selatan di BKB

Spirit pengabdian budaya yang ada di Bali menjadi cermin besar bagi Sumatera Selatan, khususnya Kota Palembang. Bumi Sriwijaya sejatinya menyimpan potensi seni dan tradisi yang tak kalah megah, baik dari Kota Palembang sendiri maupun dari 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan.

Pertunjukan Tari Kecak Memukai Para Penoton Mancanegara dan Domestik di Tepi Pantai Bali (Melasti). Foto: Adi Asmara | divianewscom

Salah satu kebanggaan utama adalah Tari Gending Sriwijaya, sebuah tarian keagungan yang merepresentasikan kejayaan, ketimuran, dan kehangatan tata krama penghormatan tamu era Kerajaan Sriwijaya. Jika Tari Kecak menyatu dengan tebing dan pantai Bali, maka Tari Gending Sriwijaya serta tarian adat daerah lainnya memiliki panggung alami yang sangat spektakuler di Pelataran Benteng Kuto Besak (BKB).

Di BKB, keindahan sejarah Benteng Kuto Besak berpadu lanskap aliran Sungai Musi dan megahnya Jembatan Ampera. Momen jelang matahari terbenam (sunset) di tepi Sungai Musi menyajikan latar alam yang puitis dan magis—sebuah ruang teater terbuka yang siap menampung kekayaan budaya Sumsel.

Rekomendasi Strategis: Menjadikan Palembang Destinasi Wisata Budaya Dunia

  • Untuk mengolah potensi besar tersebut menjadi kekuatan pariwisata berkelas internasional layaknya Bali, berikut beberapa rekomendasi langkah strategis yang dapat diterapkan di Palembang:

Etalase Budaya 17 Kabupaten/Kota di Pelataran BKB

  • Menjadikan BKB sebagai pusat panggung pertunjukan rutin budaya Sumatera Selatan. Secara bergiliran atau dalam kolaborasi kolosal, kebudayaan dari 17 kabupaten/kota—seperti Tari Cang-Cang dari Lahat, Tari Batanghari Sembilan, Tari Pengutik, seni tutur Guritan, hingga atraksi musik Sambut Muara Enim—dapat ditampilkan secara terjadwal setiap sore menjelang matahari terbenam.

Pementasan Kolosal Tari dan Teater yang Terjadwal

  • Mengadopsi konsistensi Bali, Palembang perlu menetapkan jam pertunjukan tetap (fixed schedule) untuk misalkan Tari Gending Sriwijaya kolosal atau teater tradisional Dulmuluk di BKB. Penonton dapat menikmati pertunjukan seni di tepi sungai sambil menyaksikan siluet Jembatan Ampera saat senja.

Pelibatan Masyarakat Lokal (All-Out) dan Sadar Wisata

  • Membangun kesadaran kolektif warga Palembang, khususnya para pelaku usaha, pengemudi ketek/pencalang, hingga pemuda lokal di kawasan BKB dan Sungai Musi, bahwa kenyamanan, kebersihan, dan keamanan wisatawan adalah kunci kesejahteraan bersama.

Integrasi Wisata Heritage dan Transportasi Sungai Musi

  • Menghubungkan pementasan budaya di BKB dengan paket tur perahu tradisional (ketek) menyusuri Sungai Musi menuju Kampung Kapitan, Kampung Arab Al-Munawar, hingga Pulau Kemaro, yang dikelola secara profesional dan aman.

Jaminan dan Kepastian Penataan Kawasan BKB yang Steril, Nyaman, dan Tertib

  • Pemerintah daerah bersama kepolisian dan Satpol PP harus menjamin kawasan BKB bebas dari pungutan liar, penataan pedagang yang rapi tanpa mengganggu pandangan lanskap sungai, serta penyediaan fasilitas standar internasional demi menciptakan kenyamanan maksimal bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Perbandingan Data Kunjungan Wisatawan Bali – Kota Palembang  2026

  • Mengutif dari laporan resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pemantauan Dinas Pariwisata Daerah awal tahun 2026 memperlihatkan perbandingan skala pariwisata antara destinasi internasional utama (Bali) dengan pusat wisata urban berbasis budaya/sejarah di Sumatera Selatan terutama di Kota Palembang.

Membaca Peluang Palembang dari Angka

1.Dominasi Pasar Wisatawan

  • Bali — Didominasi oleh wisatawan mancanegara (Wisman) yang datang secara berkelanjutan (year-round). Pada Triwulan I (Januari–Maret) 2026 saja, BPS Bali mencatat 1,4 juta Wisman, dengan wisatawan asal Australia menyumbang porsi terbesar hingga 25,37%.
  • Palembang — Daya dorong utama pariwisata Palembang didominasi oleh wisatawan domestik yang bersifat musiman . Pada momen libur Lebaran awal tahun 2026, tercatat lebih dari 56.000 wisatawan memadati destinasi utama Palembang dalam rentang waktu singkat.

2.Daya Saing Berbasis Atraksi Budaya Terjadwal

  • Bali berhasil mempertahankan angka 1,4 juta Wisman di awal tahun karena tersedianya pertunjukan seni budaya yang rutin dan teratur setiap hari (seperti Tari Kecak di Pantai Melasti dan Uluwatu) tanpa tergantung pada hari libur nasional.
  • Palembang menargetkan total 2,3 juta kunjungan sepanjang 2026. Angka ini berpotensi melonjak drastis jika kawasan Benteng Kuto Besak (BKB) mampu mengadopsi pola Bali dengan menggelar pementasan seni (Tari Gending Sriwijaya, Dulmuluk, atraksi 17 kabupaten/kota) secara terjadwal harian di tepi Sungai Musi.

3.Dampak Terhadap Ekonomi dan Retribusi Daerah

  • Pariwisata Bali menyumbang devisa negara dan pendapatan daerah secara langsung dan konstan.
  • Di Palembang, kontribusi sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) telah melampaui 30% (mencapai lebih dari Rp352 miliar). Pemko Palembang terus memperbaiki infrastruktur kawasan wisata — seperti penataan BKB dan tepian Sungai Musi — guna mengonversi potensi kunjungan menjadi pertumbuhan ekonomi warga lokal.

Saat matahari tenggelam di ufuk Pantai Melasti, Tari Kecak mampu membuktikan bahwa keindahan sejati lahir ketika sebuah tradisi dan alam mampu saling menguatkan. Spirit kebersamaan inilah yang menjadi pelajaran berharga bagi daerah lain seperti Palembang: bahwa dengan menjaga budaya dan mengelola potensi lokal secara bersungguh-sungguh, pariwisata akan membawa kesejahteraan nyata bagi masyarakatnya.

Penuis: Adi Asmara. Editor: Wayan Satria