10 Tahun Bertahan di Rumah Tak Layak, Micky Menunggu Perhatian Pemerintah
Divianews.com | Natuna – Setiap kali hujan turun, keluarga Mickdyanto tidak hanya berharap cuaca segera reda. Mereka juga berharap rumah kayu yang telah rapuh dimakan usia tetap mampu berdiri. Dari celah-celah atap seng yang berlubang, air menetes tanpa henti, membasahi lantai papan yang mulai lapuk. Di dalam rumah sederhana itu, Micky bersama istri dan tiga anaknya menjalani hari-hari yang penuh ketidakpastian.
Sudah hampir 10 tahun keluarga kecil itu menempati rumah yang jauh dari kata layak di RT 003 RW 002, Kelurahan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menyisakan rasa khawatir setiap kali hujan deras dan angin kencang datang menerpa.
Sejumlah bagian atap telah terbuka. Dinding kayu mulai rapuh, sementara lantai di beberapa sudut terlihat rusak dan berisiko membahayakan penghuninya. Namun, di tengah segala keterbatasan, rumah itulah satu-satunya tempat yang mereka miliki untuk pulang.
Di balik kondisi rumah yang memprihatinkan, Micky tak pernah menyerah mencari nafkah. Pria yang akrab disapa Micky itu menjalani berbagai pekerjaan serabutan demi memastikan keluarganya tetap bisa bertahan hidup.
Saat cuaca bersahabat, ia turun melaut sebagai nelayan. Namun ketika hasil tangkapan tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga, ia beralih mencari penghasilan di darat. Micky menerima pekerjaan sebagai buruh bangunan, memanjat kelapa, hingga pekerjaan serabutan lainnya. Baginya, tidak ada pekerjaan yang terlalu berat selama bisa membawa rezeki untuk keluarganya.
“Kalau ada yang panggil untuk memanjat kelapa atau bekerja sebagai buruh bangunan, saya kerjakan. Kalau tidak ada, saya melaut. Apa saja saya lakukan, yang penting bisa membawa uang untuk keluarga,” ujarnya kepada Divianews.com. Kamis 23 Juli 2026 malam.
Meski bekerja tanpa mengenal lelah, penghasilan yang diperoleh tetap tidak menentu. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia masih harus berjuang keras.
“Jangankan membangun rumah, untuk kebutuhan sehari-hari saja tidak pernah cukup,” katanya lirih.
Kalimat itu menggambarkan kenyataan yang selama ini ia hadapi. Ketika penghasilan tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga, meminjam uang kepada kerabat atau tetangga menjadi pilihan terakhir agar dapur tetap mengepul.
“Terkadang saya pinjam sana, pinjam sini, yang penting anak-anak bisa makan,” ucapnya sambil menundukkan kepala.
Meski hidup dalam keterbatasan, Micky tidak pernah kehilangan harapan. Sebagai seorang ayah, ia ingin ketiga anaknya tumbuh dengan kehidupan yang lebih baik dan tidak mengalami kesulitan seperti yang sedang ia rasakan.
Harapan yang ia gantungkan pun sesungguhnya sangat sederhana. Ia tidak meminta rumah mewah ataupun kehidupan berlimpah. Ia hanya ingin memiliki rumah yang aman dan layak dihuni agar keluarganya tidak lagi dihantui rasa takut setiap kali hujan turun atau angin kencang berembus.
Ia berharap pemerintah dapat melihat langsung kondisi rumah yang ditempatinya dan memberikan bantuan rumah layak huni bagi keluarganya.
“Besar harapan saya ada perhatian dari pemerintah. Saya hanya ingin keluarga saya punya tempat tinggal yang layak,” tuturnya penuh harap.
Kisah Micky adalah potret kecil dari perjuangan masyarakat di pelosok Natuna. Di balik dinding kayu yang mulai rapuh dan atap yang berlubang, ada seorang ayah yang terus bekerja tanpa mengenal lelah, seorang ibu yang tetap bertahan dalam keterbatasan, dan tiga anak yang tumbuh dengan harapan sederhana.
Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin memiliki rumah yang benar-benar bisa disebut sebagai tempat berlindung. (ivan)
