Divianews.com | Kalbar — TNI menurunkan kendaraan khusus Water Treatment untuk membantu mengatasi krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Barat akibat kemarau panjang. Teknologi tersebut mampu mengolah air keruh, termasuk air yang telah tercampur air laut, menjadi air bersih hingga air siap minum bagi masyarakat terdampak.

Bantuan itu disalurkan Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo bersama Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Novy Rubadi Sugito dan Danrem 121/Abw Brigjen TNI Purnomosidi, Kamis (3/9/2026).

Kehadiran Ransus Water Treatment menjadi salah satu langkah tanggap TNI di tengah kondisi sumber air masyarakat yang semakin terbatas. Kemarau berkepanjangan menyebabkan sejumlah sumur warga mengering. Di sisi lain, beberapa sumber air mengalami penurunan kualitas karena terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta tercampur air laut.

Melalui kendaraan khusus tersebut, air yang sebelumnya tidak layak digunakan diproses hingga memenuhi kebutuhan masyarakat. Air hasil pengolahan dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, termasuk konsumsi setelah melalui proses pengolahan yang sesuai.

Dikonfirmasi divianews.com, sabtu pagi (05/09) Letjen TNI Kunto Arief Wibowo mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya TNI membantu masyarakat sekaligus menjalankan pendekatan penanggulangan bencana secara bertahap.

“Saya juga dapat perintah dari pimpinan TNI mencoba dengan pendekatan tiga metode. Yang pertama sosial budaya, penyuluhan atau pendekatan masyarakat. Kemudian yang kedua sosial ekonomi, kita mencoba pendekatan masyarakat dengan kondisi seperti ini dan bahan yang kita bawa,” kata Kunto.

Menurut dia, pendekatan ketiga dilakukan melalui teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Upaya tersebut mencakup rekayasa terhadap kondisi lahan hingga pemanfaatan teknologi untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

“Kemudian yang ketiga kita mencoba dengan pendekatan teknologi tepat guna, rekayasa dari mulai struktur lahannya itu sendiri,” ujarnya.

Kunto menjelaskan, langkah yang dilakukan TNI juga diarahkan untuk melengkapi tahapan manajemen kebencanaan, mulai dari mitigasi, tanggap darurat hingga pemulihan. Dalam pelaksanaannya, TNI berupaya berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi.

“Nah, di sini dengan adanya dua metode yang kami bawa dari TNI. Salah satunya adalah bakteri yang dalam rangka untuk penguraian, percepatan perapatan lahan untuk tidak renggang. Ini perlu ada kolaborasi dari akademisinya, kita harus bergabung di sini,” katanya.

Selain metode tersebut, TNI membawa teknologi pengolahan air untuk menjawab persoalan keterbatasan sumber air selama kemarau. Teknologi ini disiapkan untuk mengolah air dari sumber yang tersedia di lapangan, termasuk air sungai dan kemungkinan air laut.

“Kemudian yang kedua kita bawa teknologi yang sifatnya untuk nampak, karena kemarau air sulit. Ada hanya ada air sungai, kemudian mungkin nanti air laut, ya mungkin bisa kita keluar untuk kebutuhan masyarakat,” tutur Kunto.

Ia menegaskan kehadiran bantuan tersebut bukan semata-mata respons spontan terhadap kondisi yang terjadi, melainkan bagian dari perencanaan penanggulangan bencana yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah.

“Sebetulnya ini sudah bagian daripada perencanaan penanggulangan bencana itu sendiri. Tapi dalam status rencana itu akan menentukan dari permintaan daerah. Kemudian unsur ini melengkapi apa yang belum ada. Yang ada kita bawa, tapi kualitasnya sudah ada. Mana yang belum, kita lengkapi,” jelasnya.

Kunto juga menegaskan bantuan air bersih tersebut merupakan bentuk kepedulian TNI kepada masyarakat yang menghadapi dampak langsung dari kekeringan.

“Bantuan air bersih tersebut merupakan bantuan dan kepedulian yang disalurkan langsung kepada masyarakat di wilayah terdampak di Kalimantan Barat,” kata Kunto.

Masyarakat terdampak dapat memperoleh pasokan air bersih dan air siap minum secara gratis. Bantuan itu diharapkan mampu menopang kebutuhan sehari-hari warga, terutama untuk minum, memasak, mandi dan mencuci.

Krisis air bersih menjadi persoalan serius seiring berlangsungnya kemarau panjang di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Selain sumur yang mengering, kualitas beberapa sumber air juga menurun. Kondisi tersebut membuat air yang tersedia tidak dapat langsung digunakan atau dikonsumsi tanpa melalui proses pengolahan.

Melalui dukungan Ransus Water Treatment, TNI berupaya memastikan keterbatasan sumber air tidak semakin membebani masyarakat. Teknologi pengolahan tersebut sekaligus menjadi langkah konkret dalam menghadirkan kebutuhan dasar warga di tengah ancaman kekeringan dan dampak karhutla. (adi)