Divianews.com | Palembang – Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan mendorong percepatan hilirisasi komoditas unggulan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi, memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta mendukung target pertumbuhan ekonomi Sumsel sebesar 8 persen.

Komitmen tersebut mengemuka dalam The 3rd Sriwijaya Economic Forum 2026 yang digelar oleh Kantor Perwakilan BI Sumsel di Hotel Aryaduta Palembang, Selasa (3/11/2026).

Mengangkat tema Advancing Value-Added Development through Synergy to Strengthen Sumatra’s Food and Energy Security, forum ini menjadi ruang kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, perbankan, dan calon investor untuk mempercepat investasi serta pengembangan sektor unggulan daerah.

Kepala Perwakilan BI Sumsel, Bambang Pramono, menegaskan bahwa hilirisasi menjadi langkah penting agar kekayaan sumber daya alam Sumsel tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Menurutnya, sinergi seluruh pemangku kepentingan diperlukan untuk memastikan potensi komoditas unggulan mampu memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“ Perekonomian Sumsel pada triwulan II tumbuh sebesar 5,2 persen. Capaian tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi kawasan Sumatera yang sebesar 5,06 persen, meski masih sedikit di bawah pertumbuhan nasional sebesar 5,29 persen,” urai Bambang..

Ia menuturkan, Pertumbuhan ditopang investasi, sektor pertambangan dan penggalian, pertanian, perkebunan, serta perkembangan ekonomi keuangan syariah dan sektor ekonomi baru terbarukan.

Dari sisi stabilitas, inflasi Sumsel tercatat 2,87 persen atau masih berada dalam rentang sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Angka tersebut menempatkan Sumsel dalam lima daerah dengan inflasi terendah secara nasional.

Sementara itu, penyaluran kredit perbankan tumbuh 13,11 persen dengan risiko kredit tetap terkendali di bawah 5 persen.

Adopsi transaksi digital juga terus berkembang. Sebanyak 18 pemerintah daerah di Sumsel telah masuk kategori digital. Capaian tersebut turut mengantarkan TP2DD Sumsel meraih peringkat pertama di wilayah Sumatera.

Sementaar itu, Bambang juga mengungkapkan, untuk memperkuat investasi dan nilai tambah komoditas, BI Sumsel mengidentifikasi sejumlah peluang hilirisasi di sektor agribisnis dan industri.

Di Kabupaten Banyuasin, pengembangan kelapa diarahkan pada pengolahan menjadi virgin coconut oil (VCO) dan briket arang.

Sementara di Kabupaten Ogan Ilir, peluang investasi mencakup hilirisasi ikan patin secara terintegrasi, pengembangan peternakan sapi potong dan ayam mulai dari pembibitan hingga pabrik pakan, serta budidaya udang vaname.

Selain sektor pangan, BI Sumsel juga memperkenalkan program health tourism melalui sinergi dengan RSUD Siti Fatimah dan biro perjalanan wisata. Program ini diarahkan untuk memperkuat posisi Palembang sebagai pintu gerbang layanan kesehatan dan wisata kebugaran.

Bambang menegaskan, potensi sumber daya alam dan peluang investasi harus didukung kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, serta kemudahan perizinan.

Konektivitas menuju Pelabuhan Samudera Tanjung Carat di Banyuasin dan jaringan jalan tol menjadi bagian penting dalam memperlancar distribusi serta meningkatkan daya saing investasi.

Selain itu, percepatan perizinan berbasis risiko melalui sistem Online Single Submission (OSS) dan integrasi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) perlu terus diperkuat.

Dari sisi sumber daya manusia, Sumsel memiliki Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 74,76 dan tingkat partisipasi angkatan kerja mencapai 69,88 persen.

Melalui The 3rd Sriwijaya Economic Forum 2026, BI Sumsel bersama pemerintah daerah, akademisi, perbankan, dan dunia usaha berkomitmen mengawal proyek investasi prioritas. (adi)