Divianews.com | Palembang – Sebanyak 35 kilogram limbah organik yang terdiri dari buah jeruk, mangga, sawi, daun pepaya, dan bayam dimanfaatkan sebagai bahan dalam pengolahan Eco-Enzym. Inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya Kilang Plaju melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk mendorong masyarakat melihat limbah bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan dan dikembangkan.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Pembuatan Eco-Enzym dan Pengembangan Produk Turunan Berbasis Limbah Organik bagi Kelompok Program Kampung Iklim (Proklim) pada Sabtu (08/08). Kegiatan tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pengolahan limbah organik, tetapi juga mengajak peserta mempraktikkan pemanfaatan hasil olahan menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Salah satu produk yang dihasilkan dalam praktik tersebut adalah hand sanitizer. Peserta berhasil menghasilkan 30 botol hand sanitizer berukuran 100 mililiter dengan total volume tiga liter. Praktik ini menjadi pengalaman langsung bagi peserta dalam mengolah limbah organik hingga menjadi produk yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Plaju, Siti Fauzia, mengatakan bahwa pengelolaan lingkungan perlu dibangun melalui keterlibatan masyarakat agar perubahan yang dihasilkan dapat terus berjalan setelah program selesai.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong masyarakat untuk melihat limbah dari sudut pandang yang berbeda. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai sampah ternyata masih dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Yang paling penting, pengetahuan dan keterampilan ini dapat terus dikembangkan oleh kelompok secara mandiri,” ujar Siti.

Menurut Siti, penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program TJSL Kilang Plaju. Karena itu, pelatihan tidak berhenti pada praktik pembuatan produk, tetapi diarahkan agar kelompok dapat terus melakukan pemilahan dan pengolahan limbah organik serta mengembangkan produk turunan sesuai potensi dan kebutuhan masyarakat.

Salah satu peserta pelatihan, Mastuti dari Kelompok KWT Barokah Proklim RW 12, Kelurahan Plaju Ulu, mengapresiasi pelatihan yang diberikan karena memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat dalam mengolah limbah organik sekaligus mengembangkan produk turunannya.

“Pelatihan ini bukan hanya mengajarkan kami membuat Eco-Enzym dari kulit buah dan sisa sayuran, tetapi juga membuka pandangan bahwa sesuatu yang selama ini dianggap sampah ternyata masih bisa memberikan manfaat. Ilmu yang kami dapat sangat bermanfaat dan akan kami coba terapkan di lingkungan rumah maupun kelompok Proklim. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut sehingga semakin banyak masyarakat yang terlibat dan semakin banyak limbah yang dapat kita ubah menjadi sesuatu yang bernilai,” ujar Mastuti.

Bagi Kilang Plaju, pemanfaatan limbah organik menjadi Eco-Enzym merupakan salah satu langkah untuk mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah sekaligus meningkatkan kapasitas mereka dalam menciptakan manfaat dari sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

Sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), Kilang Plaju terus mendorong program TJSL yang menghubungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat. Kilang Plaju berharap keterampilan yang diperoleh Kelompok Proklim dapat terus diterapkan dan dikembangkan, sehingga semakin banyak limbah organik yang dapat dimanfaatkan dan semakin luas manfaat yang dirasakan masyarakat maupun lingkungan secara berkelanjutan. (adi)