Divianews.com | Martapura OKU Timur — Mengolah Makanan Tahu ternyata bisa di jadikan mata pencaharian yang menjanjikan. Tak dipungkiri, jumlah produksi tahu di beberapa daerah pun selalu membanjiri, makanan ini selalu ada disetiap pasar menjadi dagangan yang menghasilkan bagi produsennya,  Senin (13/07/2020)

Ditengah covid 19 tentunya tidak menghalangi upaya Para produsen untuk berkembang dan maju contohnya saja kebutuhan makanan Tahu kian meningkat, tentu membawa keuntungan tersendiri bagi pengolahnya,  Selain mendapatkan keuntungan finansial, dampak lain yang ditimbulkan dengan limbah yang berasal dari proses pembuatan tahu tersebut. Sebagian besar limbah tahu dibuang begitu saja, tanpa adanya proses pengolahan.

Ada akibat lain yang timbul, limbahnya yang mencemari lingkungan lainnya.

Limbah tahu mengandung begitu banyak senyawa organik, seperti lemak, karbohidrat, dan protein. limbah cair ini juga mengandung tingkat keasaman chemical oxygen demand (COD) dan biological oxygen demand (BOD) yang tinggi. Kandungan senyawa ini akan mencemari lingkungan dan menurunkan kualitas air. Dampak yang terlihat jelas salah satunya menimbulkan bau tidak sedap.

Melihat peluang ini, salah seorang pengusaha tahu Desa Kumpul Rejo Dusun 3 Kecamatan Buay Madang Timur Kabupaten OKU Timur Haryadi,  memanfaatkan limbah tahu untuk kebutuhan lain. Dia mengubahnya menjadi biogas untuk kebutuhan rumah tangga.

Pada ahirnya pembuatan biogas sejak adanya teguran dari tetangga  yang tidak tahan akan bau limba tahu, usai ditegur tetangga ia langsung mencari cara untuk mengelolah limbah tahu.

Kebetulan ada pemuda desa yang bekerja Dinas Lingkungan hidup Kabupaten OKU Timur, memiliki ide untuk mengolahnya pada ahirnya mengajak bagai mana kondisi limbah untuk dikelola menjadi bahan yang berguna.

“Sejak saat itu saya mulai terpikir untuk membangun instalasi pengolahan air limbah produksi tahu,” kata Haryadi di pabrik tahu miliknya. Alhmadullilah saya mendapat bimbingan dari Bidang pencemaran dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) tempat dia bekerja.

Dukungan Pemerintah dalam memberikan solusi

Selain itu mendapatkan bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup melalui Dinas Lingkungan Hidup, berupa tengki dalam tanah, serta isntalasi pembuangan limbah yang telah di olah dengan bio gas yang di hasilkan dari limbah tahu ini merasa sangat tertolong.

“Biasanya dalam satu bulan bisa menghabiskan dua tabung gas 3 kg untuk memasak air dan memasak makanan untuk kebutuhan sehari hari,  kini cukup menggunakan bio gas hasil limbah tahu,” Ungkapnya.

Limbah tahu mengandung gas-gas, yaitu metana (CH4), amonia (NH3), hydrogen sulfide (H2S), dan karbondioksida (CO2). Butuh waktu dan proses agar gas ini dapat dimanfaatkan.

Terpisah Kepala Dinas Lingkungan Hidup Fauzie Bakri saat dibincangi dia mengatakan,Instalasi pengolahan limbah mampu menampung 8.000 liter air limbah tahu. Limbah itu dialirkan ke tangki penampungan yang ada di bawah sedalam tiga meter, yang ditutup dengan beton.

” Limbah di fermentasi selama satu hingga dua minggu untuk menghasilkan gas metana. paling bagus itu satu bulan, tapi bergantung pemakaiannya juga,” tambahnya.

Setelah gas metana dihasilkan, gas di alirkan melalui pipa yang sudah tersambung dengan selang kompor di dapur untuk memasak. Setelah keran gas dibuka, api akan muncul saat dipancing dengan korek.

“Api yang keluar dari kompor memang tidak stabil seperti gas LPG, tapi ketika dipakai untuk memasak, suhu panasnya tidak kalah unggul,” kata fauzi

Dia, menambahkan saat pemakaianny hampir tidak mencium aroma apa pun dari gas. Namun, lama kelamaan akan terasa bau gas, tapi tidak terlalu menyengat. Cara ini dirasa tidak berbahaya, meskipun di bawah tanah yang dipijaknya ada gas dengan tekanan tinggi. Jika gas dalam keadaan lemah atau habis, tangki akan dibuka dan ampasnya akan digunakan untuk pakan ternak.

“Pengelolahan Limbah tahu menjadi Bio Gas di Desa Kumpul Rejo ini akan menjadi contoh bagi pabrik tahu lainnya dalam pengelolahan limbah, sehingga limbah yang di hasilkan tidak mencenari lingkungan dan dapat bermanfaat bagi manusia dengan di ubah menjadi bio gas untuk kebutuhan rumah tangga.

Manfaat lain buat masyarakat

Terpisah Kepala Dinas Lingkungan Hidup Fauzie Bakri saat dibincangi dia mengatakan,Instalasi pengolahan limbah mampu menampung 8.000 liter air limbah tahu. Limbah itu dialirkan ke tangki penampungan yang ada di bawah sedalam tiga meter, yang ditutup dengan beton.

” Limbah di fermentasi selama satu hingga dua minggu untuk menghasilkan gas metana.  Paling bagus itu satu bulan, tapi bergantung pemakaiannya juga,” tambahnya.

Setelah gas metana dihasilkan, gas di alirkan melalui pipa yang sudah tersambung dengan selang kompor di dapur untuk memasak. Setelah keran gas dibuka, api akan muncul saat dipancing dengan korek.

“Api yang keluar dari kompor memang tidak stabil seperti gas LPG, tapi ketika dipakai untuk memasak, suhu panasnya tidak kalah unggul,” kata fauzi

Dia, menambahkan saat pemakaiannya hampir tidak mencium aroma apa pun dari gas. Namun, lama kelamaan akan terasa bau gas, tapi tidak terlalu menyengat. Cara ini dirasa tidak berbahaya, meskipun di bawah tanah yang dipijaknya ada gas dengan tekanan tinggi.

Jika gas dalam keadaan lemah atau habis, tangki akan dibuka dan ampasnya akan digunakan untuk pakan ternak.

“Pengelolahan Limbah tahu menjadi Bio Gas di Desa Kumpul Rejo ini akan menjadi contoh bagi pabrik tahu lainnya dalam pengelolahan limbah, sehingga limbah yang di hasilkan tidak mencenari lingkungan dan dapat bermanfaat bagi manusia dengan di ubah menjadi bio gas untuk kebutuhan rumah tangga,” Pungkasnya

Penulis | Jhon

Editor | Adi