BBPJN Sumsel Kebut Perbaikan Jalan Nasional Penghubung Mangunjaya–Muara Beliti
Divianews.com | Palembang – Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah Sumatera Selatan melalui Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah I Sumatera Selatan terus melakukan penanganan ruas jalan nasional Mangunjaya–Muara Beliti yang menghubungkan wilayah Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Musi Rawas.
Perbaikan dilakukan melalui paket preservasi jalan dengan skema multi years contract (MYC) guna memulihkan kondisi jalan yang mengalami kerusakan cukup berat akibat banjir serta tingginya lalu lintas kendaraan bertonase besar.
Kepala Satuan Kerja PJN Wilayah I Sumatera Selatan, Alfredo Lukman, mengatakan penanganan ruas Mangunjaya–Muara Beliti saat ini terus berjalan sesuai tahapan yang telah direncanakan.
“Ruas Mangunjaya sampai Muara Beliti terus kami tangani melalui paket preservasi jalan. Paket ini merupakan paket multi years yang pelaksanaannya berlangsung hingga tahun 2027,” kata Alfredo, Rabu (17/6/2026).
Menurut dia, progres pekerjaan berdasarkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2026 telah mencapai sekitar 20 persen dari alokasi anggaran tahun berjalan. Namun secara keseluruhan, progres fisik paket pekerjaan masih berada pada kisaran 6 hingga 7 persen karena kontrak tersebut mencakup pekerjaan hingga tahun depan.
Dalam program tersebut, total panjang ruas yang ditangani mencapai sekitar 26 kilometer. Dari jumlah tersebut, sepanjang 8 kilometer menjadi prioritas pekerjaan rekonstruksi pada tahun 2026, sedangkan sisanya sekitar 18 kilometer akan dilanjutkan pada tahun 2027.
“Tahun ini kami fokus menuntaskan daerah-daerah rekonstruksi yang paling parah sepanjang kurang lebih 8 kilometer. Targetnya minimal sampai lapis AC Base dan semaksimal mungkin bisa mencapai lapis AC-BC. Penyelesaian penuh akan dilanjutkan pada tahun 2027,” ujarnya.
Meski pengaspalan dilakukan secara bertahap, Alfredo memastikan penanganan awal berupa penutupan lubang dan perbaikan badan jalan telah dilakukan di hampir seluruh ruas yang mengalami kerusakan.
Menurutnya, pekerjaan tersebut mencakup pemasangan underlayer serta penambahan material agregat kelas B dan agregat kelas A untuk menjaga kondisi jalan tetap dapat dilalui masyarakat.
“Penanganan sepanjang kurang lebih 25 kilometer sudah kami lakukan tahun ini. Artinya, pekerjaan penutupan lubang sudah dilaksanakan, mulai dari underlayer hingga agregat B dan agregat A. Namun untuk pengaspalan dilakukan secara parsial mengikuti ketersediaan anggaran,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses penyiapan badan jalan sebenarnya telah selesai dilaksanakan sejak awal Maret 2026. Namun intensitas hujan yang masih tinggi serta lalu lintas kendaraan berat menyebabkan sejumlah titik kembali mengalami penurunan kondisi.
“Karena curah hujan masih cukup tinggi dan kendaraan berat terus melintas, beberapa titik mengalami penurunan kembali. Oleh karena itu, kami terus melakukan pemeliharaan dan perbaikan berkala agar saat masuk tahap agregat dan pengaspalan, kondisi badan jalan sudah siap,” katanya.
BBPJN Sumsel memprioritaskan penanganan pada titik-titik yang mengalami kerusakan paling berat. Rekonstruksi sepanjang 8 kilometer tersebut tersebar di sekitar 10 hingga 12 titik dengan panjang bervariasi antara 200 hingga 500 meter per segmen.
“Kurang lebih ada 10 sampai 12 titik kerusakan berat yang kami rekonstruksi tahun ini. Panjang tiap titik berbeda-beda, ada yang sekitar 200 meter dan ada yang mencapai 500 meter,” ungkap Alfredo.
Ia menegaskan seluruh pekerjaan rekonstruksi pada titik-titik terparah tersebut ditargetkan selesai pada 2026, sementara pengaspalan ruas lainnya akan dilanjutkan pada 2027.
“Tahun ini kami pastikan rekonstruksi pada daerah yang paling parah sepanjang sekitar 8 kilometer bisa tuntas. Sedangkan sekitar 15 kilometer lebih sisanya akan kami lanjutkan pengaspalannya pada tahun 2027,” tegasnya.
Selanjutnya, Alfredo juga mengakui kondisi ruas Mangunjaya–Muara Beliti saat ini belum mampu memberikan pelayanan maksimal kepada pengguna jalan. Selain keterbatasan anggaran, kerusakan jalan juga dipengaruhi faktor eksternal seperti tingginya intensitas kendaraan berat dan dampak banjir yang terjadi pada 2023 dan 2024.
“Kami memohon maaf kepada masyarakat karena kondisi jalan saat ini memang belum bisa kami tangani secara maksimal. Selain keterbatasan anggaran, ada faktor kendaraan berat dan dampak banjir pada tahun 2023 serta 2024 yang menyebabkan hampir seluruh pondasi jalan mengalami penurunan signifikan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Alfredo memastikan BBPJN Sumsel terus melakukan pemeliharaan rutin dan percepatan pekerjaan agar kondisi ruas jalan nasional tersebut semakin baik dan dapat mendukung mobilitas masyarakat serta distribusi logistik di wilayah Sumatera Selatan. (adi)

