Pertamina Refleksikan Semangat Kebangkitan Nasional Lewat Jejak Sejarah Energi Bangsa
Divianews.com | Palembang – Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 menjadi momentum reflektif bagi seluruh anak bangsa, termasuk PT Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju sebagai bagian dari garda energi nasional. Di momen bersejarah ini, kilang yang telah berdiri lebih dari seabad lalu mengingatkan kembali perannya dalam perjalanan energi negeri.
Harkitnas ditetapkan untuk mengenang berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, organisasi pelopor pergerakan nasional. Namun, jauh sebelum itu, kilang minyak pertama di Palembang telah berdiri pada 1904 oleh Shell, kemudian disusul Stanvac pada 1926 di Sungai Gerong. Keduanya menjadi fondasi awal infrastruktur energi di Indonesia.
Dalam masa penjajahan dan perang dunia, keberadaan kilang di tepi Sungai Musi ini menjadi aset strategis. Dikuasai oleh Belanda, dimanfaatkan Sekutu, dan sempat dibumihanguskan oleh Jepang, hingga akhirnya dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia pada 1965, jejak perjuangan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kebangkitan tak hanya tercermin di medan perang, tapi juga dalam penguasaan aset vital bangsa.
Setelah menjadi milik Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kilang Plaju terus dimodernisasi dan kini menjadi salah satu tulang punggung pasokan energi di Sumatera Bagian Selatan, dengan kapasitas produksi mencapai 120 MBPOD.
Beragam produk energi strategis dihasilkan dari kilang ini, sehingga turut menopang kebutuhan energi nasional, khususnya di kawasan Sumbagsel.
Upacara Penuh Makna, Kobarkan Semangat Nasionalisme di Kilang Plaju
Pada pagi yang khidmat, Rabu (20/5/2026), manajemen dan pekerja PT Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju menggelar upacara peringatan Harkitnas di Lapangan CRGM Perkantoran Plaju. Upacara ini menjadi wujud penghormatan atas semangat persatuan dan cita-cita kebangsaan.
Upacara dipimpin langsung oleh GM RU III, Khabibullah Khanafie, yang juga membacakan sambutan dari Menteri Komunikasi dan Digital RI yang bertema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”.
Tema ini sejalan dengan filosofi identitas peringatan Harkitnas tahun ini yang merepresentasikan semangat menjaga Ibu Pertiwi oleh seluruh elemen bangsa untuk bergerak maju bersama melalui pelindungan para tunas bangsa. Tema ini juga menegaskan pentingnya kemandirian sebagai negara yang berdaulat. Sebagaimana amanat para pendiri bangsa, kemajuan sebuah negara tidak ditentukan oleh bantuan pihak lain, melainkan oleh keteguhan hati rakyatnya untuk bersatu dalam satu visi besar.
“Dalam momen peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini, kita meneguhkan kembali arah perjalanan bangsa dengan menempatkan Asta Cita, delapan misi besar yang harus dicapai bersama, sebagai kompas utama. Kita harus mampu mewujudkan misi tersebut untuk menghadirkan perubahan nyata dan terasa di tengah kehidupan rakyat,” ujar Khanafie dalam membacakan sambutan.
Pengibaran Merah Putih, pembacaan Pembukaan UUD 1945, dan lantunan lagu Indonesia Raya menjadi simbol kuat bahwa semangat nasionalisme tetap terpatri di hati seluruh pekerja Kilang Plaju.
Khanafie menutup dengan harapan, “Semoga semangat Harkitnas ini terus menginspirasi seluruh pekerja untuk senantiasa menghadirkan energi terbaik bagi negeri,” kata dia. (adi)
