Metode Lama dan Harapan Baru bagi Pasien Covid-19

88 views

Ilustrasi (Foto: iStockphoto/luoman)

Divianews.com | Jakarta — Metode pengobatan lama yakni penggunaan plasma darah memberikan harapan baru bagi pasien positif Covid-19. Cara ini mulai kembali dikembangkan oleh beberapa negara.

Setelah penelitian oleh para ahli di Cina, sistem di Rumah Sakit Mount Sinai di New York juga mulai menguji perawatan tersebut guna memulihkan kondisi pasien Covid-19.

Pengobatan plasma darah pasien yang sudah sembuh dari Covid-19 disebut menjanjikan untuk mempercepat penyembuhan orang yang terinfeksi virus corona jenis baru (SARS-CoV-2). Mount Sinai dilaporkan telah menyediakan serum pemulihan yang berasal dari lebih 20 pasien Covid-19 yang mendonorkan darah.

“Kami memiliki begitu banyak pasien yang sakit. Kami berharap ini menjadi titik tolak sehingga bisa mempercepat pemulihan pasien,” ungkap dokter Jeffrey Jhang, Direktur Medis Laboratorium Klinis dan Layanan Transfusi di Mount Sinai Health System seperti dilaporkan NBC News.

Terapi plasma konvalesen telah lama digunakan untuk mengobati beberapa penyakit. Pendekatan ini digunakan selama epidemi flu pada 1918 dan 1957 serta wabah yang disebabkan SARS, H1N1 dan Ebola.

Sementara dalam kasus Covid-19 ini, guna mempercepat pengujian pengobatan plasma darah, lebih dari 40 institusi kesehatan mengerjakan proyek dan mengumpulkan plasma dari pasien yang pulih. Jhang mengatakan, Mount Sinai telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (FDA) untuk mendukung tes ini.

Tes yang sedang berlangsung kini mengidentifikasi antibodi dari pasien. Dokter mengatakan, peningkatan antibodi bisa didapat dari efek pengobatan dengan plasma darah.

“Sementara tes lain mengukur, seberapa banyak antibodi yang dihasilkan. Hal ini penting, karena dengan begitu kami dapat mengidentifikasi donor dengan jumlah antibodi yang tinggi kemungkinan akan lebih besar manfaatnya bagi pasien penerima plasma tersebut,” Jhang menjelaskan.

Namun begitu uji coba pengobatan Covid-19 dengan plasma darah ini masih menghadapi tantangan. Jhang membeberkan, timnya masih perlu menunggu lebih banyak pasien lagi yang pulih. Dan selanjutnya, studi juga harus mengembangkan respons terhadap kekebalan penyakit sebelum kembali mengumpulkan plasma.

Sepekan sebelumnya, FDA mengeluarkan pedoman baru untuk pengujian pengobatan plasma. Otoritas pengawasan makanan dan obat ini menyatakan, penyedia layanan kesehatan harus meningkatkan uji klinis sebelum mereka menerapkan metode ini secara teratur.

Para peneliti John Hopkins juga telah menerima izin dari FDA untuk menguji efek dari penyembuhan menggunakan plasma darah bagi orang yang sehat. Tes ini bertujuan melihat bagaimana pengobatan ini meningkatkan sistem kekebalan tubuh orang yang berisiko tinggi terpapar virus penyebab Covid-19. (NMA)

Sumber CNN

Bagikan :

Posting Terkait